Sebelum membicarakan mengenai generasi milenial, maka patut dibahas mengenai definisi dari milenial itu sendiri. Pentingnya membahas mengenai definisi dari generasi milenial disebabkan oleh adanya perbedaan rentang waktu kelahiran dari generasi tersebut. 

Generasi milenial atau generasi Y, menurut William Strauss dan Neil Howe, adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1980-an sampai awal 2000 atau milenium, dengan kata lain, generasi milenial adalah generasi dengan rentang usia sekitar 38 tahun sampai dengan usia 18 tahun pada tahun 2018. 

Milenial tentu memiliki ciri-ciri yang unik, yang membedakan generasi tersebut dengan generasi sebelumnya. Ciri utamanya adalah generasi milenial akrab dengan teknologi digital, media, dan komunikasi. (Fries, 2017). 

Generasi milenial lebih suka berkomunikasi di ruang maya, daripada berkomunikasi di dunia nyata, misalnya dalam berorganisasi, generasi milenial tidak harus selalu mengadakan rapat tatap muka, generasi tersebut dapat sewaktu-waktu mengadakan rapat dalam jaringan (daring)/online, menembus batas ruang dan waktu. 

Selain itu, generasi milenial berjejaring dalam ruang maya, khususnya platform media sosial. Membangun relasi sosial, membentuk beragam komunitas, sampai menyalurkan aspirasi atau ide-ide tertentu. Semua hal tersebut dikerjakan dengan bantuan teknologi yang mumpuni. 

Selain itu, generasi milenial dianggap terbuka terhadap perbedaan pendapat, toleransi, dan menghargai minoritas. Namun, dalam beberapa hal, generasi milenial dianggap pasif, tidak loyal di tempat kerja atau mudah pindah pekerjaan, pemalas, dan individualistis, sampai-sampai generasi milenial diberi label ‘Generation Me’ (Main, 2017).

Generasi milenial adalah generasi yang tak sungkan untuk mengekspresikan pilihan politiknya. Contohnya, pada survei yang dilakukan oleh The Millenial Impact Report pra-Pemilu Amerika Serikat, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Donald Trump, angka partisipasi generasi milenial dalam pemilihan tersebut cukup tinggi, sebelum diadakannya pemilu tersebut, 85 persen responden menyatakan akan mengikuti pemilu tersebut.

Menurut sensus penduduk 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah keseluruhan dari penduduk di Indonesia adalah sekitar 237 juta. Kemudian, jumlah penduduk Indonesia dengan usia muda lebih besar daripada penduduk usia tua. Bahkan, Indonesia akan mengalami bonus demografi yang akan berlangsung tahun 2020-2030. 

Generasi milenial menjadi yang dominan dalam jumlah penduduk. Dalam kontestasi politik demokrasi, kuantitas menjadi faktor penting dalam meraih kemenangan. Jumlah suara menjadi faktor penentu dari terpilihnya seseorang dalam kontestasi politik demokrasi. 

Sehingga, generasi milenial memiliki peran yang penting untuk menentukan pemenang dalam kontestasi politik di Indonesia pada tahun 2019.

Indonesia akan mengalami ‘pesta demokrasi’. Rakyat akan menggunakan hak pilihnya untuk memilih calon pemimpinnya, baik di tingkat eksekutif, maupun legislatif. Pesta diselenggarakan begitu besar, sebab yang dipilih tak hanya para wakil rakyat, tetapi presiden juga. 

Dalam kontestasi demokrasi tahun 2019, generasi milenial menjadi komoditas politik. Ia diperebutkan para elite politik sebagai lumbung suara. Para elite politik berusaha memilenialkan diri. 

Bahkan, menurut Oesman Sapta Odang, Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Calon Wakil Presiden RI K.H Ma’ruf Amin, yang berusia 75 tahun disebut juga milenial dari aspek perbuatan dan sikap. Opini yang  dipaksakan dari Oesman Sapta Odang. 

Kemudian, Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, turut melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh generasi milenial, seperti membuat video blog sampai aktif dalam media sosial. Milenial menjadi daya jual tersendiri. Hal tersebut terjadi karena generasi milenial adalah penyumbang suara terbesar dalam Pemilu 2019 nanti. 

Menurut Badan Pusat Statistik, dari sekitar 190 juta pemilih, 100 juta di antaranya adalah generasi milenial. Oleh karena  itu, menurut Fatia Maulidiyanti dalam kolomnya di tirto.id, siapa yang bisa memengaruhi secara kuat kepada generasi milenial, maka peluang untuk menang pada kontestasi Pemilu 2019 akan besar. 

Upaya untuk menggaet suara milenial dapat dilakukan dengan menguasai hal yang mereka sering gunakan, yaitu media sosial dan media elektronik. Kampanye-kampanye yang menarik secara visual, jargon-jargon yang mudah diingat oleh milenial, sampai program kerja yang dapat mengakomodasi kebutuhan milenial di masa yang akan datang tentu dapat menarik suara milenial.

Generasi milenial di Indonesia, yang akan berpartisipasi aktif sebagai pemilih di Pemilu 2019, menjadi daya jual tersendiri bagi para elite politik. Jumlah massa yang tidak sedikit menjadi salah satu alasan mengapa generasi milenial memiliki peran penting pada kontestasi Pemilu 2019. Berbagai upaya dilakukan untuk mendekati mereka. 

Kemilenialan menjadi hal yang dipertontonkan oleh elite politik. Para elite politik memilenialkan diri. Tak ayal, generasi milenial akhirnya menjadi sebuah komoditas politik.