41895_37771.jpg
Foto: IndiWire
Hiburan · 7 menit baca

Cate Blanchett sang Maha Dewi
Ulasan Film Carol (2015)

Saya telat sekali mereview film ini. Tapi tak apalah, karena memang saya baru minggu ini bisa menonton Carol via internet.

Satu dari banyak keunikan film Carol adalah adegan dimulai oleh seorang figuran yang menghantarkan kita kepada pemeran utama dalam segmen penutup. Film ini menggunakan plot flashback sehingga penonton akan dibuat sedikit bingung pada awalnya. Tapi jangan khawatir, alur ceritanya sangat enak untuk diikuti.

Seting tahun 1952-an, berlokasi di Manhattan US, masa dimana merokok di ruang kerja, restoran, atau tempat umum lainnya adalah lumrah. Sebagai mantan perokok, saya dapat menikmati adegan dengan sigaret yang dijepit oleh jemari langsing terawat berkutek merah. Kadang sigaret menempel mesra di bibir merah, lalu dengan anggun menghembuskan asapnya ke udara.

Film Carol bergenre drama romantic, merupakan karya seni film Amerika yang luar biasa. Paduan cerita tentang pertaruhan cinta yang tidak biasa yang dikemas dengan sangat indah, lembut, menyakitkan dan sekaligus kuat. Carol akan menjadi film yang tertanam lama dalam memoriku.

Di tangan Todd Haynes (sutradara), Carol menjadi masterpiece. Screenwriter Phyllis Nagy mengadaptasinya dari novel The Price of Salt karya Patricia Highsmith, yang merupakan bestseller pada tahun 1952. Screenplay dikerjakan Nagy dan team selama 18 tahun!

Carol Aird (Cate Blanchett) adalah sosialita yang tidak bahagia dalam pernikahannya. Dia sedang menghadapi perceraian dan berjuang mendapatkan hak asuh atas anak semata wayang mereka. Harge Aird (Kyle Chandler) sangat mencintai Carol dan tidak ingin melepaskannya. Satu-satunya cara supaya Carol mau bertahan dengannya adalah mengancam akan mengambil hak asuh anak.

Carol yang menawan selalu berpenampilan glamor, memperhatikan setiap detail busana, tata rambut, make-up, gerak tubuh, nada bicara yang teratur dan lembut.

Setelah kucermati, Carol adalah alpha female, sang pemburu yang tahu benar apa yang dia inginkan. Bak burung merak yang hendak menjerat pasangan, dia lihai melakukan gerakan pemikat, seperti menyibakkan rambut, memijat leher belakang dengan lembut sehingga menguarkan aroma tubuh yang wangi, juga menyentuh lembut bahu mangsa dengan cara yang seksi.

Sedangkan Therese Belivet (Rooney Mara) adalah gadis belia 20-an awal yang selalu merasa kesepian dan kikuk, memiliki banyak teman lelaki dan berpacaran dengan salah satunya, Richard. Mereka tidak menikah karena beda keyakinan, Richard sangat yakin mencintai Therese sedangkan Therese tidak. Richard berulang kali merayunya supaya mau menemainya berlibur ke Eropa. Therese selalu menanggapinya dengan dingin.

Richard telah memiliki posisi yang bagus di Frankenberg Department store. Dia juga yang membantu Therese mendapatkan pekerjaan di tempat itu sebagai penjaga toko mainan anak-anak. Therese bekerja di Frankerberg hanya sebagai pengisi waktu sebelum menggapai impiannya bekerja sebagai fotografer di surat kabar.

Menjadi penjaga konter boneka membuat Therese merasa bosan. Berulang kali dia terlihat mencuri waktu untuk membaca buku. Padahal toko sedang ramai karena natal akan segera tiba. Banyak pengunjung mencari kado untuk diberikan kepada orang-orang tercinta.

Hingga suatu saat, Therese terpaku melihat seorang wanita lebih tua darinya sedang asyik memperhatikan miniatur kereta yang dioperasikan memakai tenaga listrik. Wanita glamor itu mengangkat kepalanya, dan mendapati Therese sedang menatapnya. Mereka beradu tatap beberapa detik sampai seorang kastemer menanyakan letak toilet pada Therese. Dia tampak kecewa karena setelahnya tidak lagi melihat perempuan itu.

Therese kembali asyik membaca buku di bawah etalase. Kemudian dia mengangkat kepalanya ketika mendengar ada kastemer yang menyapanya. Betapa kagetnya dia saat melihat bahwa yang menyapanya adalah perempuan yang tadi dia cari dalam diam. Perempuan itu adalah Carol yang ingin membeli boneka Betsy sebagai kado natal untuk putrinya yang berusia 4 tahun. Sayang boneka tersebut sudah habis terjual.

Setelah mempertimbangkan pendapat Therese, akhirnya Carol membeli satu set miniatur kreta api. Therese meminta alamat untuk pengiriman. Setelah itu Carol berjalan menjauh dan menghilang ke ruangan lain. Therese terpukau menatap kepergiannya. Beberapa saat kemudian Therese menyadari sarung tangan kulit milik Carol tertinggal di etalasenya. Akhirnya dia mengirimkan sarung tangan itu kepada pemiliknya.

Hari berikutnya Therese mendapat telpon dari Carol yang menawaran traktir makan siang sebagai ucapan terima kasih atas kiriman kembali sarung tangannya. Rasa penasaran Therese yang besar pada Carol membuatnya mengiyakan tawaran makan siang itu dengan cepat. Saat di restoran tampak Therese yang kikuk berusaha lepas dari perasaan terintimidasi dari kesempurnaan dan keanggunan Carol.

Dia memesan makanan dan minuman seperti yang dipesan Carol. Mungkin dia tidak paham dengan menu di restoran tersebut atau terlalu terpana pada Carol. “What a strange girl you are. Flung out of space!” ujar Carol pada Therese yang langsung mengiyakan undangan Carol untuk mengunjungi rumahnya di akhir pekan.

Dengan tersipu, Therese menerima kalimat itu sebagai pujian. Kalimat “Flung out of space!” kembali kita dengar diucapkan Carol ditengah adegan intim yang mereka lakukan di sebuah hotel yang disinggahi saat pertualangan menyusuri jalanan Amerika.

Rasa penasaran Therese pada Carol membuatnya selalu mengiyakan setiap permintaan Carol. Juga ketika Carol meminta Therese mengundangnya ke rumahnya, hingga ajakan Carol berkendara bersamanya dari Timur ke Barat melintasi banyak negara bagian. Carol ingin melakukan perjalanan itu untuk menenangkan diri sekalian menghabiskan waktu menunggu pengadilan perceraiannya sekitar April tahun depannya.

Tanpa cacat Rooney mampu menterjemahkan kebingungan seksual Therese saat dia dengan ringan menjauh dari Richard dan meng-entertain hasrat dan gelora dalam dadanya yang tidak dia kenal.

Film ini sangat kental dengan detail dan super close up terutama adegan di dalam mobil. Misalnya saat di trowongan gelap yang panjang. Visual buram karena campuran antara refleksi cahaya dari penerang terowongan yang minim yang menimpa kaca mobil dan pengambilan gambar secara close up pada wajah sehingga menghasilkan lukisan absrak yang indah. Butiran salju dan efek butiran air di jendela mobil membuat nuansa sendu tapi menawan.

Cinematografer yang cerdas membuat kita bisa memahami sudut pandang Carol, juga Therese. Kita bisa menangkap perubahan wajah Carol dari ceria menjadi suram saat Theresa menyebut kata ‘home’ misalnya. Kita dapat merasakan gejolak perasaan Therese walaupun dia hanya duduk diam dengan bahu terbuka dengan wajah kaku.

Rooney adalah actor yang total dalam berperan. Saya teringat pada aktingnya sebagai gadis punk yang menakjubkan pada film The Girl with the Dragon Tattoo (2011). Luar biasa. Dalam film Carol, Rooney menunjukkan kemampuannya yang lain, berakting seperti tidak berakting. Sangat alami. Kita dapat menangkap emosi dalam raut wajahnya atau gerakannya yang tenang. Sedikit gerakan kepala atau tatapan ekor matanya menyiratkan kedalaman perasaannya.

Dalam sebuah interview Rooney mengatakan bahwa awalanya dia merasa terintimidasi bermain bersama Cate. Mungkin kesan terintimidasi itu tertangkap karena dia tidak sedang berakting. Hehehe.. itu hanya perkiraanku saja.

Tentang Cate, aktingnya jangan ditanya. menawan seperti biasanya. Sepertinya screenplay Carol memang ditulis untuk Cate. Tapi Rooney mampu mengimbangi acting Cate. Sudah sepatutnya Rooney dan Cate mendapatkan banyak awards dan nominasi di berbagai penghargaan untuk peran mereka.

Nagy banyak mengunakan kalimat pendek yang powerful dan bersayap. Dialognya singkat, padat dan bermakna. Penonton diberikan kebebasan untuk menterjemahkan artinya. Todd juga tidak ingin repot menjelaskan apakah sarung tangan itu tertinggal atau sengaja ditinggalkan oleh Carol.  

Film ini adalah film yang tenang. Voice-over (V.O) hanya ada saat Therese membaca surat Carol yang dia titipkan lewat Abby, sahabat Carol. Indahnya film dengan minim V.O adalah, penonton dapat berimajinasi menterjemahkan adegan-adegan tersebut seliar yang mereka mau.

Begitu banyak adegan yang menarik. Salah satunya saat dalam perjalanan setelah Carol melabrak orang yang menyadap kamar mereka. Orang tersebut adalah bayaran Harge. Sadapan itu akan dipakai sebagai bukti bahwa Carol tidak layak mendapatkan hak asuh Rindy. Pengacara Harge akan mencap Carol sebagai perempuan tak bermoral, berprilaku tercela karena menjalin hubungan dengan sesama jenis. 

Saat sedang menyetir, berkali-kali Carol menanyakan apa yang Therese pikirkan terkait peristiwa tersebut. Therese menangis dan mengatakan merasa egois karena merampas semua yang Carol miliki, yakni memisahkannya dari suami dan anaknya. Carol menepikankan mobil kemudian membuat Therese menatapnya, lalu katanya “I took what you gave willingly. It’s not your fault, Therese.” Lalu menghapus air mata Therese.

Dari kejadian penyadapan itu, Carol memutuskan untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Harge. Carol meninggalkan Therese di tengah perjalanan. Lewat surat dia meminta Therese untuk tidak menghubunginya hingga dia menyelesaikan perceraiannya.

Therese patah hati.

Kemudian Therese berusaha menata kembali hidupnya. Akhirnya Therese mendapatkan pekerjaan di surat kabar sebagai fotografer. Karirnya bagus. Perlahan dia menjelma menjadi wanita dewasa yang bersinar dengan rasa percaya diri tinggi.

Film ini menunjukkan bahwa beberapa gay pada 1950-an dapat mengatur kehidupan mereka dengan bermartabat. Aura depresi masih terlihat. Carol merelakan hak asuh anaknya jatuh pada Harge dengan syarat dia bisa mengunjungi Rindy satu atau dua kali seminggu. Itu adalah pengorbanan yang dia lakukun untuk putrinya, sambil berharap masih ada kesempatan hidup bersama Therese.

Film Barat dengan tema hubungan sejenis pada tahun 50-an senantiasa berakhir sedih. Tapi film ini diakhiri dengan adegan manis yang penuh emosi; amarah, gengsi, rasa rindu, dan cinta yang menggebu.

Seting tahun 50-an menjadi masuk akal untuk cerita seperti ini di dunia Barat, karena bila seting zaman sekarang dengan cerita demikian akan terasa mengada-ada. Ironisnya, cerita ini masih relevan di masyarakat kita saat ini. Dengan kata lain, dalam memandang hubungn sesama jenis, masyarakat Indonesia saat ini mirip dengan masyarakat Amerika di tahun 50-an. Tertinggal 60 tahun!!

Anyway, film Carol ini banyak mendapatkan nominasi dan menang dalam berbagai penghargaan baik untuk pemeran utama, pemeran pembantu, penyutradaraan, penulisan skrip, cinematografi, desain produksi, dan lain-lain.. Acting Cate dan Rooney juga aktor lainnya akan membuatmu jatuh cinta. Saya memberikan bintang 4,5 untuk keseluruhannya.