91877_41475.jpg
Gembala dan dombanya (Foto: streetpsalms.org)
Sosok · 9 menit baca

Aksi Pendeta Papua Tolak Mobilisasi Sipil dalam Peristiwa Biak Berdarah

Memobilisasi kelompok masyarakat sipil untuk diperhadapkan dengan kelompok masyarakat sipil lainnya bukan hal asing di panggung sejarah. Ia sudah ada bahkan sejak zaman sebelum penjajahan.

Di era kolonial pelbagai kelompok milisi dibentuk dengan argumen cinta tanah air. Di Orde Baru kelompok-kelompok milisi lahir di wilayah-wilayah konflik seperti Irian Jaya (kini Papua), Timor Timur (kini Timor Leste) serta Aceh untuk menghadapi ‘musuh’ pemerintah. Di awal reformasi mobilisasi itu berlanjut; kali ini digerakkan untuk menghadapi  elemen-elemen masyarakat sipil pro-reformasi yang menghendaki ditumbangkannya rezim otoriter dan status quo.

Belakangan ini, menghadapi aksi-aksi mahasiswa Papua di berbagai kota yang menyuarakan penentuan nasib sendiri, ditengarai juga muncul mobilisasi kelompok masyarakat sipil. Pembubaran acara-acara mereka diwarnai oleh tampilnya kelompok sipil bersama aparat dengan narasi menonjolkan kedaulatan negara. Tak jarang muncul ujaran-ujaran rasis dalam aksi itu.

Mobilisasi kelompok masyarakat sipil ini ditempatkan sebagai bantalan untuk menghindari negara (dalam hal ini aparat) berhadap-hadapan langsung dengan kelompok masyarakat yang berbeda aspirasi. Tetapi di sisi lain ia juga dapat memecah-belah masyarakat dan pada akhirnya memicu konflik yang dalam. Sekali terjadi bentrok, jejaknya akan jauh sampai bergenerasi-generasi.

Perdebatan Camat dan Pendeta

Dalam laporan Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELS-HAM)  tentang apa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Biak Berdarah 1998 dicatat sebuah dialog (baca: perdebatan) yang sangat menarik antara seorang pendeta dengan camat. Mereka memperdebatkan aksi mobilisasi masyarakat sipil di Biak yang dilakukan oleh otoritas pemerintah kala itu.

Dalam laporan berjudul Nama Tanpa Pusara, Pusara Tanpa Nama, Laporan Pelanggaran HAM di Biak Irian Jaya yang diterbitkan tahun 1999 itu, digambarkan bahwa mobilisasi masyarakat sipil oleh unsur-unsur otoritas setempat direncanakan untuk dikerahkan menyerbu kelompok masyarakat sipil lainnya. 

Mereka adalah kelompok masyarakat sipil di bawah pimpinan Filep Karma yang tengah melakukan aksi damai mengibarkan Bintang Kejora dan menduduki Menara Air di Biak. Peristiwa ini di kemudian hari dikenal sebagai peristiwa Biak Berdarah.

Hari itu, 2 Juli 1998, sekitar 500 sampai 1000 orang berkumpul di bawah Menara Air Biak. Di menara berkibar bendera Bintang Kejora. Tujuan aksi itu, bila merujuk pada pidato yang diucapkan oleh Filep Karma berulang-ulang, adalah untuk peneguhan kembali kemerdekaan Papua yang “Atas berkat anugerah dan kasih Tuhan”  telah dicapai “pada 1 Desember 1961.”  

Aksi pada hari itu, menurut Filep Karma adalah “perjuangan damai” untuk “mempertahankan bendera (Bintang Kejora) dengan hanya bersenjatakan Alkitab dan Nyanyian Rohani.”

Tahun 1998 adalah masa yang penuh pergolakan dalam politik Indonesia. Di Jakarta rezim Soeharto yang berkuasa selama lebih 30 tahun baru saja jatuh. Masyarakat sipil tengah menemukan kesadaran baru akan hak dan kedaulatannya. Juga kesadaran baru untuk meninjau ulang sejarah. Di Papua sejarah integrasi Papua lewat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 kembali dipertanyakan. Bintang Kejora yang terlarang coba dihidupkan.

Otoritas setempat melihat aksi massa di bawah pimpian Filep Karma ini sebagai ancaman. Mengibarkan Bintang Kejora adalah pelanggaran hukum. Ia dikategorikan sebagai makar. (Filep Karma kemudian dijatuhi hukuman 15 tahun penjara kemudian dibebaskan setelah menjalaninya 10 tahun 11 bulan).  

Tidak mengherankan bila aksi itu ditanggapi serius oleh penguasa setempat. Persuasi dilakukan agar Filep Karma menghentikan aksinya. Pada saat yang sama pasukan aparat keamanan untuk pembubaran paksa juga telah disiapkan. Lebih jauh – dan ini yang ingin dikemukakan dalam catatan ini – adalah adanya mobilisasi massa yang direncanakan untuk menyerbu peserta aksi damai.

Laporan EL-SHAM mencatat ada dua kali upaya memobilisasi masyarakat sipil untuk menyerbu aksi itu. Pertama pada  3 Juli 2018 dan yang kedua pada 5 Juli 2018.

Pada mobilisasi pertama, yaitu pada 3 Juli 2018, gagasan mobilisasi sipil dibicarakan pada pukul 03:00 WIT. Ketika itu Unsur Pimpinan Kabupaten (USPIKA) Biak Barat  mengumpulkan 11 kepala desa menggunakan mobil milik Camat. Para kepala desa mendapat pengarahan untuk mengumpulkan warga yang akan mengadakan unjuk rasa menentang aksi Filep Karma sekaligus juga untuk menyerang.

Sekitar 200 warga dari 10 desa berhasil dikumpulkan. Mereka  diangkut dengan truk menuju Biak Kota pada pagi harinya. Sekitar pukul 13:00 mereka tiba di tujuan dan langsung diarahkan ke kantor DPRD Biak Numfor.  Di sana mereka dijadwalkan berdialog dengan Ketua DPRD Dati II Biak seraya berunjuk rasa dengan spanduk yang sudah disiapkan oleh pemerintah setempat.

Tetapi aksi ini tidak sesuai skenario bahkan dapat dikatakan gagal. Di Gedung DPRD ketika berdialog dengan Ketua DPRD, dua tokoh masyarakat yang berbicara, Noak Awom dari desa Farusi Adadikam, dan Yohan Maker, sekretaris desa Wado, justru menolak dibenturkan dengan kelompok pimpinan Filep Karma.

Mobilisasi warga sipil kedua kalinya dilakukan pada 5 Juli sekitar pukul 01:00 dini hari. Dalam pertemuan dengan Camat dan Danramil, para kepala desa diminta mengikutsertakan 30 orang dari tiap desa. Mereka diwajibkan membawa parang, tombak dan alat tajam.

Imbauan untuk ikut serta juga dikumandangkan pada pagi harinya seusai ibadah Minggu di desa Kanaan, Wardo. Seorang aparat desa mengumumkan kepada jemaat bahwa setelah pulang ke rumah, semua pria berkumpul di rumah kepala desa untuk mendengar arahan. Sekaligus untuk diberangkatkan.

Pada saat itu, menurut laporan EL-SHAM, tampil ke seorang pendeta bernama J. Wamafma, yang tak bisa menahan diri untuk menyuarakan ketidaksetujuannya. Dalam pertemuan di rumah kepala desa di Wardo yang dihadiri oleh Kapolsek dan Danramil, ia berdebat dengan Camat Biak Barat. EL-SHAM menggambarkannya sebagai berikut:

Camat: Maunya kamu apa?

Pendeta: Menurut saya, sebaiknya warga jemaat saya tidak boleh diikutsertakan dalam operasi tersebut. Sebab jika terjadi sesuatu terhadap mereka, maka siapa yang akan bertanggungjawab atas diri mereka.

Camat: Instruksi itu bukan dari kami USPIKA Biak Barat. Tetapi instruksi langsung dari Dandim. Demi keselamatan Bapak Bupati terhadap seluruh pejabat di Kab Biak Numfor, sehingga saya mengambil inisiatif untuk melibatkan masyarakat Biak Barat dalam operasi pembubaran massa yang ada di lokasi kejadian.

Pendeta: Apakah kita harus selamatkan harga diri seorang bupati lalu kita korbankan ribuan masyarakat? Sebab secara adat, soal ini akan merambat sampai ke seluruh warga di kampung-kampung di seluruh kota Biak yang akan membuat praduga bahwa warga masyarakat Biak Barat turut membunuh masyarakat adatnya sendiri yang berada di bagian lain pulau Biak. Akibatnya soal ini akan menimbulkan dendam turun-temurun sampai ke anak cucu.

Menurut laporan EL-SHAM, pada hari itu  tetap diberangkatkan sejumlah warga masyarakat dalam satu truk, satu bis dan satu taksi Epondi ke Biak kota. Hanya saja mereka tak diarahkan menyerbu massa di Menara Air. Mereka diantar ke halaman DPRD tingkat II Biak, diminta berbaris dan memegang spanduk yang sudah disediakan. Setelah itu diminta pulang setelah Danrem memberikan uang tunai kepada masyarakat sebesar Rp 500 ribu untuk dibagikan kepada sembilan desa. (Dalam catatan kaki laporannya, EL-SHAM mengatakan bahwa ketika dikonfirmasi kepada Danramil, instruksi untuk mobilisasi massa tidak berasal dari Dandim).

20 Tahun Biak Berdarah 

Kendati ‘perang saudara’ dapat dihindari, aksi damai di Menara Air itu berubah menjadi ‘tragedi’ ketika aparat keamanan akhirnya memutuskan melakukan penyerbuan untuk membubarkan massa. Penyerbuan ini tercatat sebagai salah satu pelanggaran HAM berat di Papua yang sampai hari ini, 20 tahun kemudian, belum terungkap.

Dini hari pada hari ketiga aksi, seperti termuat dalam laporan EL-SHAM, aparat keamanan menyerbu kerumunan massa  dengan menembak 'membabi buta' dan bahkan menembaki masyarakat sipil. Prajurit tempur yang diperkirakan berasal dari satuan keamanan yang ada di Biak dibantu oleh YONIF Pattimura Ambon turut dikerahkan. Mereka  menyerang dari empat titik berbentuk huruf U,  menembaki setiap orang yang dijumpai dalam gerakan maju menuju lokasi kegiatan penaikan bendera. Mobil kontainer dan truk-truk lainnya bergerak dari belakang pasukan yang sedang menyerang massa.

Selain menyerang demonstran, pasukan itu juga menembaki rumah-rumah penduduk. Penghuninya diperintahkan keluar, digiring menuju pelabuhan dan  ditembak dari arah belakang. Ada yang dibacok dengan kampak kecil oleh tentara.

Laporan EL-SHAM yang dibuat bekerjasama dengan Gereja Kristen Injili (GKI) di Irian Jaya, Keuskupan Jayapura dan Gereja Kemah  Injil Indonesia Wilayah Irian Jaya, memuat secara rinci peristiwa itu, lengkap dengan kesaksian-kesaksian sejumlah saksi korban.  

Salah satu kesaksian dramatis datang dari seorang perempuani berinisial MA. Ia dan peserta aksi damai lainnya sedang berdiri melingkar berpegangan tangan seraya menyanyikan lagu Rohani “Serikat Persaudaraan” ketika serbuan terjadi.  Saat itu saksi melihat dua orang pemuda tertembak. “Yang berdiri di depan saya, tertembak di paha sebelah kanan. Dan yang di sebelah kanan saya, tertembak betis sebelah kiri,” kata saksi MA.

Ia memeluk dua pemuda tersebut lalu menyuruh mereka berbaring. Saat berbaring, ia melihat ibu-ibu yang sedang dalam ketakutan memeluk para tentara yang datang menyerang dan minta ampun. Tetapi para tentara itu menendang ibu-ibu tadi dan memerintahkan mereka segera lari ke pelabuhan.

“Kemudian saya menarik kedua pemuda yang tertembak itu berdiri lalu saya menunjukkan Alkitab yang saya pegang di hadapan tentara yang menurut saya adalah orang Irian. Saya kenal dari rambutnya yang keriting. Lalu saya mengatakan kepada tentara tersebut, ‘Kalau kamu orang yang beragama dan anak Tuhan, sudah cukup untuk tembak dan jangan tendang lagi.’ 

Selesai saya berbicara, dia (tentara) langsung mengarahkan senjatanya di dada saya lalu tembak. Tetapi tiba-tiba peluru yang keluar dari laras senjata itu melenceng di bawah ketiak sebelah kanan saya dan kena di beton tiang bendera. Maka saya menunjukkan Alkitab di hadapannya lalu saya katakan, ‘Sudah! Tembak yang kedua kali lagi, saya tidak bisa undur satu langkah pun, kalau kau berani tembak lagi.’ 

Mendengar itu tentara itu menaruh senjatanya dan langsung menatap saya agak lama. Saat itu saya menarik dua orang itu lalu kami berjalan menuju pelabuhan.”

Saksi korban berinisial WS mengatakan banyak korban berjatuhan. Korban-korban penembakan diangkut dengan menggunakan 6 (enam) buah truk milik Kompi C TNI AD Biak. Di atas 6 truk tersebut saksi diangkut bersama korban-korban yang menurut saksi sebagian masih hidup dan ada yang sudah meninggal. Ia melihat ada lima orang yang telah tertembak mati dengan alasan bahwa pada tubuh mereka ada gambar bendera Papua Barat.

Laporan EL-SHAM juga mengutip keterangan saksi yang mengatakan sebagian korban diangkat oleh kapal perang dan tidak diketahui nasibnya. Yang mengherankan, beberapa minggu kemudian masyarakat Biak Timur dan Biak Utara menemukan mayat-mayat misterius, terapung di luat.  

Sebagian orang menduga bahwa mayat-mayat misterius itu berkaitan dengan pembubaran demonstrasi di Biak pada 6 Juli. Namun pihak pemerintah dan aparat keamanan menghubungkannya dengan tsunami yang terjadi di Altape PNG. Padahal bencana tsunami itu terjadi pada minggu ketiga bulan Juli 1998. Di antara mayat itu ada yang tangannya diikat ke depan.

Peter Arndt, dalam bukunya, Into the Deep – seeking justice for the people of West Papua (Australian Catholic Social Justice Council, 2018), mengutip pengakuan Laurens, seorang pemuda yang selamat dalam peristiwa itu, yang mengatakan puluhan orang ditangkap, dipaksa naik kapal Angkatan Laut, diperkosa, dimutilasi, dibunuh, dan dibuang ke laut.

Tanyakan pada Rumput yang Bergoyang

 Secara keseluruhan, menurut catatan EL-SHAM, korban meninggal akibat peristiwa Biak Berdarah berjumlah delapan orang, korban hilang sebanyak tiga orang, korban luka (berat)  empat orang, korban luka biasa 33 orang, korban penahanan 50 orang dan mayat misterius 32 orang.

Salah seorang korban meninggal yang hingga saat ini tak pernah ditemukan lagi jenazahnya adalah Ruben Orboy. Pria berusia 27 tahun ini meninggal dunia akibat luka parah pada bagian kepala terkena peluru tajam.

Paramedis mengatakan korban menghembuskan nafas terakhir di UGD RSUD Biak Numfor pada 6 Juli 1998 pukul 10:00 WIT. Menurut laporan EL-SHAM, aparat keamanan memaksa paramedis untuk menyerahkan jenazah Ruben Orboy untuk diangkut dengan kendaraan ambulance milik RSAL. Sejak saat itu jenazah Ruben Orboy yang telah beristri dan mempunyai tiga anak tersebut tidak pernah dikembalikan kepada keluarga.

Bupati Biak Numfor kala itu, Amandus Masnembra dalam pertemuan antara MUSPIDA BIak Numfor dengan para korban, masyarakat dan tokoh agama di Biak pada 11 Agustus 1998,  mengakui bahwa Ruben Orboy benar tertembak dan jenazahnya telah dibuang ke laut. Informasi tersebut tersebut dia peroleh dari Danlanal Biak Numfor, Kol. Laut Yoppy Ruhuputty.

Ketika masalah ini ditanyakan oleh seorang peserta dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh Forum Rekonsiliasi Masyarakat Irian Jaya (FORERI) pada Oktober 1998 di Aula STIE Jayapura, Pangdam VIII Trikora Maluku Irian Jaya, mengatakan," Jenazah Ruben Orboy sudah 'disimpan' di luat jadi tanyakan saja pada rumput yang bergoyang."


Referensi:

  • Informasi dan ulasan tentang Biak Berdarah telah banyak tersaji. Salah satu sumber yang cukup lengkap adalah yang disediakan oleh situs The Biak Massacre Citizens Tribunal. Pada 6 Juli 2013 atas permintaan West Papua Project pada Centre for Peace and Conflict Stuies of the University of Sydney, Pengadilan Warga (Citizens' Tribunal) mengadakan penyelidikan peristiwa 6 Juli 1998 di Biak, Papua atau dikenal sebagai peristiwa Biak Berdarah. Kesaksikan-kesaksian pada pemeriksaan tersebut ditampilkan di situs Biak Massacre Citizen Tribunal. Laporan EL-SHAM tahun 1999, yang menjadi sumber utama tulisan ini, juga disajikan di situs tersebut.