Sependek pengetahuan saya, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif MA atau yang akrab dengan panggilan Buya Syafii adalah cendekiawan muslim besar dan barangkali sejauh ini tertua di Indonesia.

Koreksi saya jika keliru, nama-nama seperti Nurcholish Madjid, Harun Nasution, Quraish Shibab, Gus Dur, Din Syamsuddin, Ulil Abshar Abdalla, dan seterusnya, kita bisa berdebat panjang tentang siapa yang lebih besar, tapi soal umur Buya Syafii juara. Pasalnya, yang pada 31 Mei 2020 merayakan hari lahir, usia Buya Syafii menyentuh angka 85 tahun.

Bungsu dari empat saudara yang lahir dari pasangan Fathiyah dan Ma’rifah Rauf Datok Rajo Malayu itu tumbuh meremaja di tanah Minang daerah Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Buya Syafii adalah generasi pertama dan kini jadi salah dua dari “Pendekar dari Chicago“ yang  masih hidup dan terus bergiat. Bagi saya, Buya Syafii lebih dari sekadar nama. Beliau tidak lahir dari ruang hampa, melainkan telah melewati proses panjang sebelum kini mencapai usia yang sudah senja.

 Kita tahu, semua orang bisa berubah dan itu artinya Buya Syafii bukanlah sesuatu yang final. Guna memperingati itu semua, tulisan ini penulis sebut semacam “catatan kaki.” Lantas kemudian, apa yang tetap dan apa yang berubah dari seorang Ahmad Syafii Maarif? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu membagi Buya Syafii ke dalam periodisasi waktu, masa lampau dan yang sekarang. 

Rekam Jejak Intelektual Buya Syafii adalah potret seorang pembelajar sejati, yang tekun, gigih dan tak gampang menyerah. Dalam menempuh pendidikan tidak ada kata gagal dan terlambat.

Dua hal yang terakhir agaknya sudah hilang dari kamus kehidupan seorang Buya Syafii. Itulah gambaran yang saya tangkap. Lihat saja misalnya ketika Buya menceritakan semua hal yang di atas dalam Titik-Titik Kisar di Perjalanan Hidupku (2009) atau Memoar Seorang Anak Kampung (2013). 

Buya Syafii menempuh rute panjang dan melewati batas geografis, diawali Sekolah Rakyat Ibtidaiyah di kampung halamannya. Lalu menyambung sekolah lanjutan ke Kabupaten Lintau, tepatnya Madrasah Muallimin Muhammadiyah, setelah sebelumnya terjeda karena persoalan ekonomi.

Kemudian pendidikan menengah atas dan seterusnya Buya Syafii habiskan di tanah rantau. Sempat ditolak karena nilainya rendah, akhirnya pada usia 21 tahun Buya Syafii menamatkan “SMA”-nya di Madrasah Muallimin Yogyakarta.

Lalu Buya Syafii mengabdi selama beberapa tahun di Lombok Timur juga pada lembaga pendidikan milik Muhammadiyah. Selanjutnya, Buya Syafii kembali ke tanah Jawa, memilih kuliah dengan program studi Sejarah di Universitas Cokroamnito, Surakarta, lalu balik ke Yogyakarta guna mencukupi kebutuhan hidup.

Buya pernah bekerja menjadi pelayan toko grosir. Beliau juga pernah mengajar di sebuah sekolah yang jarak tempuhnya 52 kilometer.

***

Ketimbang teman seangkatan yang lain, Buya Syafii termasuk senior ketika terbang ke Negeri Paman Sam karena beliau sudah berusia kepala empat. Namun hal itu tak menghalanginya. Buya mendalami ilmu sejarah dan mengambil program Master di Ohio University, lalu mengambil Ph.D dengan lintas disiplin ilmu berbeda di Chicago University. Di Amerika Serikat, kita bisa mulai memetakan dari persentuhan dengan Fazlur Rahman. 

Penjelajahan intelektual Buya di Chicago memberi porsi besar terhadap bangunan berpikirnya. Pada titik inilah seumpama Buya Syafii menjadi “fundamentalis insyaf”. Buya Syafii bahkan tak segan mengakui dirinya pernah pro terhadap Gerakan pemberontakan PRRI/Permesta.

Kepada gurunya, Fazlur Rahman, satu waktu beliau secara “vulgar” berseloroh, “Profesor Rahman, limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam, maka saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah negara Islam.”

Lama di Chicago, tak bisa dimungkiri lagi telah membuat sebuah perubahan. Sebagai pribadi Buya Syafii bertransformasi dari pribadi yang konservatif menuju lebih inklusif.

Dalam hal tertentu memang Buya Syafii tidak terdisrupsi oleh zaman. Tapi kita bisa memahami bahwa pandangan dan gagasan keislamannya dibentuk ulang atau barangkali matang setelah melewati pergulatan pemikiran yang melelahkan. 

Pandangan Keislaman dan Keindonesiaan Buya Syafii sering kali berpesan, “bangunlah peradaban dari titik dan koma.” Sebuah kalimat yang memuat makna literasi. Oleh karena itu, selain lewat forum-forum diskusi, mimbar ceramah, dan dialog, Buya Syafii rajin mengartikulasikan pandangan-pandangannya melalui teks-teks. Tulisan-tulisan beliau telah banyak dihimpun dan berulang kali naik cetak.

Salah satunya, dalam buku Islam dan Politik (2018) Buya Syafii menjelaskan bahwa Islam tampaknya lebih toleran terhadap kenyataan pluralisme agama dan budaya. Bahkan mereka yang tidak ber-Tuhan pun tak boleh dimusnahkan atas nama agama. Bagi Buya Syafii, agama haruslah menjadi suluh bagi akal yang sifatnya fungsional. 

Praktik keberagamaan di Indonesia haruslah mendorong Islam yang inklusif, sehingga menghasilkan tanggung jawab sosial lebih. Dan keberadaan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin jadi kian tak terbantahkan.

Secara ringkas Buya Syafii hendak mengatakan bahwa Indonesia adalah satu dan perbedaan hanyalah cara. Sikap dan pandangannya jelas menunjukkan bahwa Buya Syafii adalah pribadi yang amat terbuka, hormat dan bersedia berbeda pendapat. 

Yang Tetap dan Yang Berubah

Lain daripada itu, sebagai tambahan, secara personal, saya pikir kita semua tahu bahwa Buya Syafii adalah sosok yang loyal pujian terhadap anak-anak muda. Sosok yang apa adanya: berani, jujur, sederhana, tidak pernah membuat jarak, dan tidak neko-neko.

Sungguh terasa kontras memang jika menengok atribut intelektual seorang Buya Syafii yang pernah memimpin Persyarikatan Muhammadiyah (2000-2005), alumnus Universitas Chicago, peraih penghargaan Ramon Magsaysay, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), dan setumpuk citra diri lainnya. 

Terakhir, melalui “catatan kaki” ini saya ingin melakukan hal yang sama, yakni afirmasi terhadap komentar Gus Dur kepada Cak Nur, bahwa Buya Syafii tetap di permukaan namun ia berubah secara mendasar di dalam. Tetap terbuka dan jujur pada pandangan diri sendiri, namun berubah pada aspek keluasan dan kedalaman berpikir. 

Buya Syafii tetaplah Buya Syafii, mirip apa yang dibilang Pramoedya, lain bukan tidak. Bagi saya juga persis seperti kata Goenawan Mohamad, selama masih ada orang tua seperti Buya Syafii, ada harapan dan kita semua belum boleh putus asa. Yaumul milad. Selamat ulang tahun yang ke-85 Buya Syafii Maarif. Semoga  senantiasa sehat dan tetap mencerahkan.