Setelah permunculannya pada Oktober lalu, serial drama Korea Start Up nggak habis-habisnya viral di mana-mana, baik media sosial maupun media satire. Saya yang penasaran pun langsung nonton. Nggak tahan cuma dengar cerita orang.

Konon, drama ini begitu kuat pengaruhnya terhadap kesatuan umat. Sampai-sampai dunia maya terpecah jadi dua polar besar persis saat Pilpres 2019 lalu. Namun, kali ini berbeda, bukan kubu Jokowi atau Prabowo, tapi dua kubu tersebut adalah tim Nam Do-San dan tim Han Ji-Pyeong, yang bersaing merebutkan hati Seo Dal-Mi. Widih, ternyata ada juga drama Korea yang bisa memecah belah umat ya?

Setelah nonton episode pertama, ternyata benar, serial ini cukup mengaduk-aduk emosi penonton bahkan sejak dari episode awal. Dimulai dari kebaikan neneknya Seo Dal-Mi dan Seo In-jae yang membolehkan Ji-Pyeong untuk menginap di tokonya karena diusir dari yayasan yatim piatu, hingga terjadi konspirasi surat menyurat yang didalangi oleh nenek dan Ji-Pyeong untuk menghibur Dal-Mi, sampai perpisahan antara nenek dan Ji-Pyeong di stasiun bus saat Ji-Pyeong berangkat ke Seoul, semua sudah mengacak-acak dan meremas-remas perasaan. Renyuh, tapi menyenangkan. Haru. Dan ambyar!

Tapi tema utama serial ini adalah "Start Up", perusahaan rintisan. Itu juga yang membuat banyak anak milenial, termasuk saya, tiba-tiba ikut demam drama Korea yang nggilani itu. 

Maka dari itu, selain mengikuti alur cerita yang menghibur, di sela-sela drama saya juga memperhatikan, mencatat, dan merenung soal beberapa pelajaran yang dapat diambil. Saya pun mendapatkan beberapa kata motivasi dosis tinggi yang entah sengaja atau tidak terucap dalam adegan-adegan tersebut. Eh, mau tau kata-kata motivasinya apa saja? Cekidot!

Pertama: Kalau setiap hari cerah, maka dunia ini akan jadi gurun pasir

Kata-kata ini diucapkan Seo Dal-Mi, sang tokoh utama, kepada neneknya saat neneknya bertanya apakah ia menyesal atau tidak telah mengambil keputusan untuk ikut ayahnya saat orang tuanya bercerai. 

Kalau diperhatikan, benar juga kata Dal-Mi, bayangin kalau dunia ini tiap hari cerah, panas, nggak ada hujan, tanaman layu, debu dimana-mana, sumur kering, sungai kering, pohon mulai mati, dan akhirnya kita benar-benar tinggal di gurun pasir.

Kedua: Antara menjadi orang baik dan CEO, pilihlah salah satunya, jangan serakah mengambil keduanya.

Ucapan ini dilontarkan Ji-Pyeong kepada Dal-Mi saat di Hackathon atau pekan retas yang diadakan Sandbox. Dal-Mi yang menjadi CEO Samsan Tech bingung karena tidak bisa memberi keputusan dan terlalu menuruti kemauan timnya yang beraneka macam, sehingga membuatnya semakin bingung. 

Maka dari itu, Ji-Pyeong menasihati untuk nggak perlu menuruti perasaan tiap orang dalam tim, dan tentukan keputusan meski terlihat arogan.

Ketiga: Jangan menemuiku kalau sudah sukses, aku tak mau merasa iri, tapi temui aku kalau susah, atau kalau tak punya rumah, atau butuh pertolongan.

Kata-kata ini yang membuat hati saya seketika ambyar meleleh karena haru. Ya, ucapan ini keluar dari mulut neneknya Dal-Mi untuk Ji-Pyeong saat hendak berpisah di stasiun bus.

Keempat: Berbisnis itu sulit. Kau akan disebut CEO jika berhasil, tapi akan disebut penipu jika gagal.

Kata-kata ini keluar dari CEO Sandbox, kepada ayahnya Dal-Mi di sebuah lift. Inilah tantangan untuk pebisnis pemula. Bagaimana pebisnis yang mampu membawa perusahaannya maju akan disebut CEO hebat, terutama oleh investor. Tapi, kalau bisnis merugi, maka investor akan melabelinya penipu, sudah biasa begitu.

Kelima: Jika musuhmu tak mampu kau lawan, maka jadilah pasukannya.

Lagi, ucapan Han Ji-Pyeong memang topcer untuk diingat. Dan ucapan ini kembali untuk Seo Dal-Mi, yang akhirnya membuat Dal-Mi bergabung dengan perusahaan kakaknya yang jadi rivalnya, setelah Samsan Tech miliknya diakuisisi oleh 2STO.

Keenam: Hidup jadi kebanggaan orang lain adalah hal sulit, harus sembunyikan banyak hal karena takut mengecewakan, jadilah diri sendiri.

Ini merupakan nasihat seorang ayah kepada seorang anak bernama Nam-Do San, yang saat itu masih belum berhasil. Nam Do-San meminta maaf kepada ayahnya karena belum membanggakan, dan selama ini memang sangat berusaha agar ayahnya tidak memaksa diri untuk membanggakannya. 

Akhirnya, ayahnya sadar, untuk tidak terlalu membanggakan Do-San dan tidak perlu kecewa pada anaknya kalaupun gagal.

Ketujuh: Amatir bereaksi pada suara pelanggan dengan perasaan, tapi profesional meresponsnya dengan data.

Ji-Pyeong lagi, Ji-Pyeong lagi! Memang kata-kata yang keluar dari mulutnnya itu kok motivasi semua. Pantes ibu-ibu online pada masuk tim Ji-Pyeong. Udah ganteng, kaya, pintar, kata-katanya ambyar pula!

Sampai di episode terakhir, kira-kira itu kata-kata apik yang bisa diambil pelajarannya. Oh ya, masalah perselisihan antara Ji-Pyeong dan Do-San yang akhirnya dimenangkan oleh Do-San, ya itu sudah dari skenarionya. Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari itu semua.