Belum lama ini saya bertemu dan tanya kepada teman yang menjadi guru honorer di sekolah Negeri. Berapa sih gajimu? Dia diam sejenak, seperti menghitung dan kemudian berkata, sejuta lebih lah. Padahal, teman ini jam mengajarnya setara dengan guru yang PNS, bahkan PNS yang sudah tersertifikasi. Walaupun mendapat gaji yang tidak besar, namun dia ‘terlihat’ cukup mensyukurinya.

Gaji atau honor dari teman saya terbilang kecil. Namun masih banyak yang lebih kecil dari itu. Jika kita googling di Internet, banyak sekali cerita pilu tentang gaji guru honorer ini. Kasus guru Hervina di bulan Februari 2021 adalah salah satu contohnya. Ia bergaji kecil, dan tidak setiap bulan menerimanya.

Gaji yang lumayan ‘gede’ teman saya itu, ternyata jauh lebih kecil daripada gaji seorang cleaning servis. Di tempat kerja teman saya yang lain, gaji seorang cleaning service lulusan SMA, digaji sekitar 2,5 juta. Wah ternyata, gaji guru honorer teman saya tadi tidak ada separuhnya.

Ironis. Tapi itulah realitas  kebanyakan guru honor di Indonesia.  Ini salah siapa? Pemerintah atau yayasan pendidikan yang mengaji mereka? Atau kesalahan si guru sendiri? Salah sendiri mau digaji rendah? Atau ada hal lain, seperti ‘panggilan jiwa’ yang membuat para guru tersebut tetap bertahan? hal-hal Itu mungkin saja.

Gaji dan profesionalitas seseorang seharusnya bersifat linier. Seorang profesional seharusnya digaji berdasarkan kemampuan dan keahliannya menjalankan tanggung jawabnya. Pertanyaannya, apakah guru, baik yang honorer atau PNS, dapat disebut sebagai kaum profesional?

Menurut KBBI kata profesional berarti membutuhkan kepandaian khusus untuk menjalankan, dan mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya. Lebih jauh, menurut UU RI N0. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa: “Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.”

Jadi seorang yang profesional adalah seorang yang ahli, mahir dan cakap dalam melakukan suatu pekerjaan. Hal tersebut diperolehnya dari  studi di ruang kelas maupun praktik di lapangan. 

Menurut UU RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen dinyatakan dengan tegas bahwa, guru adalah pendidik profesional yang memiliki beragam tugas yang spesifik. Tugas utama keprofesionalan guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Guru bukan pekerjaan sebarangan. Guru diakui oleh pemerintah sebagai kaum profesional.

Guru profesional itu kan harus ada sertifikatnya? Sertifikat profesi. Ah itu sering kali hanya di atas kertas. Di lapangan banyak guru-guru honor, yang notabene lebih “pro” dari  guru yang memiliki sertifikat profesi. Yang honorer malah lebih rajin, capable,  dan lebih keras bekerja untuk memenuhi tuntutan profesinya.

Sedangkan banyak guru PNS tidak lagi menjalankan profesi dengan baik. Misal, buat perangkat pembelajaran saja download di internet tanpa ada penyesuaian konteks. Mengajar tanpa persiapan yang matang, datang terlambat, kerja malas-malasan,  dan kurang disiplin. Perlu diingat ya, tidak semua guru PNS demikian, ada banyak juga guru PNS profesional yang berdedikasi.

Pertanyaannya, guru honorer bisa mengerjakan itu? Bisa. Mereka yang telah bergelar S1 jurusan kependidikan dari sekolah tinggi yang terakreditas pasti membekali  mereka untuk melakukan hal di atas. Jika guru adalah pendidik profesional, berarti guru adalah orang yang berhak mendapatkan upah yang layak sesuai dengan profesinya bukan?

Namun ironisnya masih banyak guru-guru di sekolah-sekolah negeri maupun swasta yang digaji di bawah  gaji para buruh lepas, buruh pabrik ataupun jenis pekerjaan lain yang tidak membutuhkan keahlian khusus.

Banyak orang menimpakan ‘dosa’ ini pada pemerintah atau pada yayasan sekolah. Tentang hal ini banyak orang yang telah membahasnya. Oleh karena itu, saya ingin melihat masalah guru honorer dari sudut pandang lain.

Pertanyaan besarnya adalah, mengapa para guru honorer yang notabene bergelar sarjana mau digaji jauh di bawah gaji lulusan SMA. Apa saja motivasi atau dorongan para pekerja profesional ini tetap bertahan? Ada beberapa kemungkinan yang sangat mungkin menjadi daya dorong, yang membuat mereka tetap bertahan. Mari kita bahas bersama.

Pertama, mereka bertahan karena ingin berkarya sesuai dengan pendidikan dan gelar mereka. Tak penting gajinya berapa, yang penting saya bisa mengajar. Yang penting jadi guru. masak S.Pd kok jadi cleaning service, dagang buah, ternak bebek dan sebagainya. Percuma dong belajar susah-susah jika ilmunya tidak digunakan?

Kedua, mau mengajar sebagai guru honorer dengan gaji kecil untuk mengisi waktu tunggu. Guru honorer di sekolah negeri ataupun swasta banyak yang menjadi honorer sambil menunggu tes CPNS atau PPPK. Mungkin mereka baru lulus atau sudah tes tapi gagal, namun masih ingin menjadi PNS atau PPPK. Jadi sambil menunggu pembukaan formasi CPNS atau PPPK mereka menjadi guru honorer.

Ketiga, mau mengajar dengan gaji kecil karena berharap ada pengangkatan menjadi PNS atau PPPK. Nah harapan ini memberikan motivasi bagi para pendidik profesional tersebut untuk bertahan. Siapa tahu setelah sekian waktu mengabdi dapat diangkat jadi PPPK atau PNS. Mungkinkah hal ini terjadi? Mungkin aturan saat ini belum, tetapi ingat kebijakan bersifat dinamis. Bisa saja tahun depan ada regulasi memungkinkan hal itu.

Keempat,  mau menjadi guru honorer karena alasan keluarga. Nah ini yang menarik. Mereka bertahan karena tidak mau jauh dari keluarga. Karena pekerjaan pasangan sudah mapan. Atau karena tempat mengajarnya sekarang itu dekat dengan rumah mereka. Daripada menanggung beban psikososial dalam keluarga, mereka memilih menjadi guru honorer dengan gaji seadanya.

Alasan keluarga lainnya, bisa berkaitan dengan orang tua. Ada yang karena orang tuanya sudah tua, maka ia ingin merawat orang tuanya itu. Atau karena orang tuanya yang menghendakinya bekerja tidak jauh dari orang tua. Jadi jadi guru honorer dengan gaji kecil pun tidak masalah, yang penting dekat keluarga. 

Kelima, menjadi guru honorer masih bisa 'nyambi' melakukan pekerjaan yang lain. Jadi bergaji kecil tidak  terlalu masalah, karena masih punya kesempatan untuk mencari penghasilan tambahan. Saya melihat teman-teman saya yang masih honor punya usaha sambilan. Ada yang bertani, ada juga yang berdagang online. 

Selain itu ada juga yang nyambi jadi guru les. Mereka menjadi guru les di lembaga bimbingan belajar atau privat.  Tak jarang pendapatan dari guru les ini lebih besar dari gajinya sebagai guru honorer.

Keenam, jadi seorang guru itu terhormat. Masyarakat kita masih banyak yang memberikan suatu penghormatan yang cukup tinggi terhadap profesi guru. Seorang guru dianggap seorang yang mampu menjadi teladan dan memiliki intelektual  yang tinggi. Jadi besaran gaji tidak terlalu dipusingkan. 

Ketujuh, menjadi guru apapun statusnya adalah panggilan jiwa. Alasan ini adalah alasan paling kokoh.  Gaji tidak lagi jadi ukuran. Seberapa pun gaji yang ia terima, akan diterima dengan rasa syukur. Mereka ini bekerja bukan sekadar untuk mendapatkan uang, tetapi karena mencintai profesi sebagai guru. Mereka melihat pekerjaan sebagai guru adalah sarana menjadi manfaat bagi masyarakat.

Itulah berbagai alasan para guru honorer tetap bertahan dengan gaji kecil. Ada faktor X yang menopang mereka untuk bertahan. Namun demikian, perbaikan nasib para guru honor harus terus diperjuangkan. berdasarkan amanat Undang-undang di atas, pemerintah atau Yayasan pendidikan harus berusaha dengan serius untuk meningkatkan kesejahteraan para guru honor.

Jika  saat ini anda seorang guru honorer dengan gaji kecil, poin mana saja yang membuat anda tetap bertahan?