Kuliah program doktoral (S3) bagi sebagian orang tentu tidak mudah. Banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi, terutama bagi mereka yang kuliah S3 sambil bekerja dan sudah berumah tangga. Hambatan dan tantangan akan bertambah jika usia sudah tidak muda lagi.

Namun, saya masih ingat sebuah motivasi yang disampaikan oleh salah satu professor saat pertemuan perdana yang diselenggarkan oleh kampus saya. Sang professor menyampaikan bahwa untuk bisa lulus kuliah S3, tidak harus pintar dan tidak tergantung usia.

Nah, berikut adalah tips untuk bisa sukses kulah S3 berdasarkan pengalaman pribadi, yang saya beri nama 6S.

1. Silaturrahmi.

Dengan silaturrahmi maka rezeki akan bertambah. Rezeki bagi seorang mahasiswa adalah dido’akan, serta memperoleh kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan studinya. Sambungkan dan jaga silaturrahmi dengan berbagai pihak, dari mulai dosen hingga penjaga parkir.

Saya pernah datang terlambat ke kampus karena bangun kesiangan setelah semalaman mengerjakan tugas. Begitu tiba di kampus, tinggal beberapa menit lagi perkuliahan akan dimulai. Saya bingung mau parkir kendaraan dimana, muter-muter cari tempat akan memakan waktu karena parkiran sudah penuh. Akibatnya, bisa terlambat, padahal sesuai kesepakatan pertemuan sebelumnya, saya mendapatkan giliran pertama untuk presentasi tugas.

Eh… tiba-tiba muncul penjaga parkir yang baik hati dan sudah saya kenal sebelumnya menawarkan bantuan untuk memarkirkan kendaraan saya. Betapa gembiranya saya saat itu, dan langsung saya berikan kunci kendaraan saya untuk diparkirkan oleh penjaga parkir itu. Saya pun langsung lari menuju ruang kuliah di lantai 3. Alhamdulillah, saya bisa sampai di ruang kuliah tepat waktu.

2. Sharing

Sharing pengetahuan, kemampuan, bahkan makanan dan minuman harus kita lakukan. Sharing ini akan membuat kita menjadi lebih dekat satu dengan yang lainnya. Dengan sharing juga kita akan terbantu misalnya dalam mengejar ketertinggalan materi perkuliahan di kelas.

Kadang kita kurang fokus saat kuliah, sehingga ada beberapa materi yang tertinggal. Sebagai solusi biasanya saya meminta teman yang sudah faham untuk membantu menjelaskan ulang materi yang diberikan oleh dosen. Setelah belajar bersama, lanjut dengan makan dan minuman bersama. Ilmu dapat, perutpun kenyang.

Sharing seperti ini semakin sering dilakukan biasanya menjelang ujian. Pembahasan contoh soal menjadi topik utama sharing yang dilakukan. Khusus untuk topik ini, sharing tidak hanya dilakukan dengan teman satu angkatan, tetapi juga melibatkan kakak kelas yang lebih berpengalaman. Mereka sharing tentang tips dan trik menjawab soal ujian. Cara ini sangat jitu bagi saya, karena menambah wawasan dan optimisme untuk menghadapi ujian.    

3. Sinergi. 

Belajar dan mengerjakan tugas bersama adalah contoh aktivitas yang memerlukan sinergi yang bagus di antara mahasiswa S3. Dengan sinergi, kita bisa saling menguatkan satu dan yang lainnya.

Salah satu tugas berat yang bisa diatasi dengan sinergi adalah penyelesaian tugas publikasi ilmiah. Walaupun berat, pihak kampus biasanya tidak memberikan program khusus untuk hal ini. Mahasiswa S3 sudah dianggap mumpuni dalam menulis jurnal ilmiah.

Bersinergi dengan himpunan mahasiswa pascasarjana untuk menyelenggarakan pelatihan penulisan jurnal ilmiah adalah pilihan yang tepat. Himpunan mahasiswa pascasarjana bisa mengundang pakar yang kompeten dalam hal penulisan jurnal ilmiah. Masalah kesulitan dalam penulisan jurnal ilmiah pun mulai menemukan titik terang.  

4. Senyum. 

Senantiasa tersenyum menghadapi berbagai hambatan dan tantangan selama menjalankan studi. Senyum dapat meringankan beban yang sedang kita hadapi. Tapi ingat, jangan gara-gara beban kuliah S3, kita menjadi suka senyum-senyum sendirian.

Sebagai contoh misalnya pada saat saya menghadapi tugas kuliah yang banyak dengan kerjaan dari kantor yang deadline-nya bersamaan. Rasanya itu ruwet alias bad mood, stress, dan tensi darah pun naik. Bahkan kesehatan fisikpun jadi terganggu.

Ketika keruwetan datang, saya coba bercanda dengan anak dan istri agar mendapatkan momentum yang dapat membuat saya tersenyum. Hasilnya luar biasa, senyum mampu memperbaiki mood, meredakan stress, dan menurunkan tensi darah saya. Tugas kuliah dan kerjaan kantor pun dapat diselesaikan tepat waktu.    

5. Sabar.

Bayangkan saja, hari Senin saya memulai kuliah S3, hari Jum’at anak saya pun lahir melalui operasi caesar. Istri saya harus melahirkan secara caesar karena anak pertama dan kedua juga lahir melalui operasi caesar. Sebagai suami, tentu saya harus memastikan anak dan istri saya sehat dan terpenuhi segala kebutuhannya.

Karena saya tidak memiliki pembantu dan jauh dari keluarga, kemudian anak-anak yang besar harus sekolah, maka setiap pagi saya pun harus akrab dengan pekerjaan dapur sebelum berangkat kuliah. Sabar saya implementasikan dengan cara mengatur waktu dan ritme kerja, belajar, dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hasilnya semua tugas bisa diselesaikan, pekerjaan tuntas, dan keluarga juga puas.

Termasuk bagian dari sabar adalah memperbanyak do’a. Dengan do’a, kita berharap kepada Allah agar kita senantiasa diberikan bimbingan dan pertolongan-Nya. Sepanjang perjalanan, sekitar 1,5 jam, dari rumah menuju kampus, saya senantiasa membaca dzikir dan do’a. Hatipun jadi tenang, galau dan gelisah jadi hilang, masuk kelas pun jadi senang. Begitu pula pada saat pulang dari kampus ke rumah, sehingga sampai di rumah, hati dan pikiran sudah kembali tenang.

6. Semangat.

Nah, tips yang terakhir adalah semangat. Tetap jaga semangat dari awal hingga akhir proses studi. Menjaga untuk tetap semangat memang tidak mudah. Namun dengan mengingat kembali tujuan awal studi, atau membayangkan dukungan dan pengorbanan dari orang-orang terkasih, biasanya mampu memompa semangat kita.

Saya merasakan bahwa semangat ini sering mengalami up and down. Pada saat lelah datang, kemudian banyaknya tagihan yang harus dibayar, pusing rasanya. Semangat pun turun dan ingin berhenti walaupun belum sampai garis finish.

Ketika sampai di kondisi seperti ini, maka saya pun coba merenung dan mengingat kembali perjuangan yang sudah dilakukan serta mimpi masa depan yang diharapkan. Pelan-pelan, semangatpun naik, terpompa dan stabil kembali.

Dukungan dari pasangan dan keluarga serta teman-teman seperjuangan, berkontribusi besar dalam menjaga stabilitas semangat kita. Semangat yang tetap terjaga, akan menjadi energi yang luar biasa bagi kita untuk mampu melakukan berbagai aktivitas di tengah keterbatasan dan kendala yang ada. Dengan demikian maka tahapan demi tahapan dapat dilalui dengan baik, dan gelar doktor pun dapat diraih.  

6S merupakan tips yang harus dilakukan secara bersamaan. Kita tidak bisa memisah-misahnya atau menguranginya. Antara S yang satu dengan S yang lainnya adalah saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Dengan 6S ini, alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah S3 dengan IPK hampir sempurna, dalam kurun waktu 41 bulan.

Dengan 6S pula saya menjalani proses perkuliahan dengan normal, pekerjaan lancar, dan ekonomi keluarga pun tidak terganggu. Selamat mencoba ya.