Menulis memang bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kegigihan yang tak putus untuk melakukannya. Setidaknya hal itu sudah diakui oleh banyak orang, termasuk yang telah menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sebagian yang telah berusaha keras melakukannya, pada akhirnya menyerah dan berhenti karena merasa tak sanggup. Sebagian lainnya tetap terus menulis meski sering tanpa mengabaikan apakah tulisannya baik atau buruk.

Untuk orang-orang yang disebutkan terakhir ini, saya kira perlu sesekali mengambil jeda untuk melakukan evaluasi. Ya, semacam introspeksi diri. Apalagi jika sudah jelas terbukti tulisan-tulisan yang dihasilkan selalu ditolak redaktur media massa ataupun penerbit. Ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Pada tulisan ini saya ingin menyampaikan enam faktor yang menjadi penyebab tulisan tak kunjung berkembang. Tentu saja, saya sama sekali tanpa maksud menggurui. Saya hanya mencoba mengajukan pendapat, dari hasil evaluasi yang saya lakukan selama beberapa tahun terakhir.

1. Tidak Melek Bahasa

Melek bahasa, menurut saya, merupakan prasyarat wajib yang harus dimiliki seseorang yang mau menulis. Tanpanya, akan sangat sulit bagi orang tersebut untuk menjadikan tulisannya baik.

Melek bahasa ini berbeda dengan melek huruf--kemampuan membaca dan menulis. Secara sederhana, melek bahasa dapat dipahami sebagai pengetahuan/wawasan akan bahasa dan aturannya. Aturan yang dimaksud tentu saja mencakup semua aspek ketatabahasaan, mulai dari unsur-unsur pembentuk kalimat (yang kalau dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah parts of speech), sintaksis, penggunaan pungtuasi (tanda baca), pembubuhan imbuhan, dan lainnya.

Dari sini, tidak heran apabila ditemukan banyak kasus, misalnya di dunia jurnalistik, wartawan yang sudah puluhan menjadi wartawan, tulisannya tetap begitu-begitu saja. Wartawan dedengkot sekalipun, jika tak melek bahasa, akan kalah bagus tulisannya dengan wartawan ingusan yang melek bahasa. Jikapun ada hal yang lebih baik dari tulisan si wartawan dedengkot dibanding wartawan ingusan, itu adalah materi liputan yang tercakup di dalam tulisannya karena ia lebih berpengalaman.

2. Malas Membaca

Menulis itu membaca dulu. Kalimat itu saya amini sampai sekarang. Juga kalimat: menulis adalah keniscayaan bagi orang yang membaca. Artinya, tidak menulis adalah keniscayaan bagi orang yang tidak membaca.

Saya sendiri mengibaratkan membaca seperti asupan gizi, yang harus saya konsumsi agar saya bisa beraktivitas (menulis). Semakin sedikit gizi yang saya konsumsi, semakin kecil pula energi yang saya miliki untuk bergerak.

Orang-orang yang malas atau tidak mau membaca (tulisan-tulisan orang lain), tidak akan memiliki cermin untuk memeriksa seperti apa penampilan tulisannya. Akibatnya sudah bisa dijamin, tulisan mereka akan “jalan di tempat”.

3. Malas Melakukan Self-Editing

Penulis yang baik adalah penulis yang rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari dan berbulan-bulan, untuk memeriksa kembali tulisannya (self editing) sebelum menayangkan atau mengirimkannya ke penerbit atau media. Tak jarang, sebuah tulisan diendapkan dulu selama beberapa hari atau minggu (tergantung kondisi) sebelum disunting kembali.

Namun, untuk bisa melakukan penyuntingan tulisan secara mandiri, poin nomor satu tadi (melek bahasa) menjadi syarat mutlak. Bagaimana mungkin bisa mengoreksi kalau tidak tahu apa yang harus dikoreksi? Itulah sebabnya, sekali lagi, wawasan berbahasa menjadi teramat penting.

4. Enggan Menerima Koreksi

Orang yang tidak mau atau tidak siap dikoreksi akan membuat tulisannya sulit berkembang. Bahkan sama sekali tidak mungkin akan berkembang jika yang bersangkutan tidak melakukan koreksi diri sendiri.

Yang semacam ini cukup banyak terjadi di kalangan teman saya. Saya paham, gengsi membuat mereka menolak dikoreksi. Saya paham, karena pendidikan saya tidak lebih tinggi dari mereka, maka mereka enggan dikoreksi. Kalian yang membaca tulisan ini, jangan seperti itu, ya. Terima saja koreksi-koreksi itu sebagai bentuk tanda kasih sayang.

5. Tidak Akrab dengan Sastra

Percaya atau tidak, akrab dengan sastra akan menjadikan kita lebih terbiasa dengan tulis-menulis, dengan tata bahasa, dengan sintaksis, dengan cara menarasikan sesuatu. Akrab dengan sastra juga akan membuat tulisan kita tidak kaku. Dari pembacaan yang intens terhadap karya-karya sastra, kosa kata kita juga terus menerus bertambah. Kita juga terdorong untuk menghasilkan tulisan dengan bermacam-macam gaya.

Tidak akrab dengan sastra, apalagi menjauhinya, saya jamin, akibatnya akan sebaliknya.

6. Malas Menulis

Ya iyalah. Bagaimana bisa tulisan kita berkembang kalau menulis saja pun malas? Ini seperti seorang jomlo: bagaimana bisa mendapatkan pasangan, kalau malas bergerak, malas PDKT, dan tidak mau keluar modal? He-he-he.

***

Akhirnya, semua yang saya paparkan di atas juga berlaku bagi kalian yang sama sekali belum pernah menulis. (PS: menulis skripsi dan makalah-makalah kuliah, apalagi cuma status Facebook (kecuali status panjang yang memenuhi kaidah penulisan yang baik dan benar) atau nge-tweet di Twitter, tidak termasuk menulis, ya. He-he-he.)