Bulan kesehatan mental memang sudah lewat. Tapi upaya membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental harus dilakukan setiap hari. Apalagi kita baru saja lumayan terbebas dari Pandemi Covid, yang ditenggarai salah satu penyebab meningkatnya jumlah orang terkena gangguan mental. Untung saja masa itu telah berlalu. Sekarang, sepertinya dunia sudah mendekati normal kembali.

Namun, meski serangan virus Covid sudah semakin dapat diatasi. Bukan berarti hidup kita lantas selalu damai dan membahagiakan. Selama kita hidup di dunia dan selama kita berinteraksi dengan sesama manusia, selama itu pula kita pasti mengalami pasang surut kehidupan yang bisa mempengaruhi kesehatan jiwa.

Itu karena interaksi antar sesama manusia sedikit banyak mempengaruhi keadaan mental seseorang. Hubungan yang baik akan membuat mental sehat. Sebaliknya hubungan kurang baik atau buruk akan membuat kesehatan pikiran dan jiwa ikut terganggu. Kita dituntut harus pandai-pandai mengelola hati dan emosi jika ingin tetap waras di dunia yang semakin tua ini.

Nah, berikut ini ada 6 hal yang harus kamu abaikan jika ingin hidupmu tetap bahagia:

1. Orang yang tidak peduli denganmu.

Idealnya orang yang kita pedulikan seharusnya memedulikan kita juga. Namun dalam kenyataannya tidak semua orang yang kita pedulikan juga membalas apa yang kita lakukan. Tentu melelahkan jika kita mengalami hal ini. Perasaan diabaikan dan dianggap tidak penting membuat kita terlihat menyedihkan. Pasti rasanya sangat tidak menyenangkan.

Jika menyayangi diri, kita harus berhenti menghabiskan waktu melakukan hal ini, karena memedulikan mereka yang mengabaikan kita akan memunculkan perasaan tidak berguna dan tidak bahagia. 

Diri kita sama berharganya dengan semua orang di dunia ini. Akan tidak benar jika hanya kita yang menghabiskan waktu memedulikan seseorang sementara yang bersangkutan tidak melakukan hal yang sama. Lebih baik kita fokus menyayangi diri sendiri dan mereka yang peduli pada kita.

2. Orang toksik

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa memilih karakter orang-orang yang kita temui. Meski tak ingin, tak jarang kita bertemu orang-orang yang suka menyusahkan dan merugikan orang lain, baik fisik maupun psikis. Orang ini biasa disebut orang toksik. Suatu sifat yang mengacu pada seseorang yang penuh drama, suka play victim, manipulatif, selalu merasa benar, suka berpikiran negatif dan lain sebagainya. Tipe manusia yang jago sekali menemukan keburukan pada semua hal.

Orang toksik memang melelahkan untuk dihadapi. Apalagi jika kita tidak bisa menghindari mereka karena suatu alasan. Akan tetapi demi kesehatan jiwa dan raga kita harus membuat batasan tegas. Bergaul dengan mereka seperlunya saja atau sekalian saja menjauhi mereka. 

Hal itu perlu kita lakukan supaya kita tidak tertular sifat negatif mereka yang nantinya justru merugikan kita. Satu orang toksik sudah terlalu banyak. Jangan lagi kita menambah beban dunia dengan ikut-ikutan berdiri di barisan mereka.  

3. Usia

Banyak orang mampu mencegah penuaan dini, namun tidak ada yang bisa menyetop pertambahan umur. Karena bertambahnya umur adalah keniscayaan. Memang bagi sebagian orang pertambahan usia dirasa cukup menakutkan. Semakin berkurangnya kesempatan hingga keterbatasan fisik hanya sebagian contoh efek dari pertambahan usia. Namun, bukankah manusia adalah makhluk yang pandai menyesuaikan diri?

Boleh jadi beberapa kesempatan sudah tertutup karena usia. Akan tetapi tertutupnya satu kesempatan bukan berarti seluruh kesempatan ikut-ikutan tidak membuka pintu. Akan selalu ada hal-hal yang bisa kita lakukan. Akan selalu ada hal-hal yang tersedia untuk kita. Bahkan banyak juga yang memulai kekaryaan justru di usia lewat dewasa.

Jadi, tak usah risau dengan usia. Risaulah jika kita tidak mampu melakukan hal-hal bermanfaat. Karena usia hanyalah angka, sedangkan kekaryaan adalah legacy yang akan dikenang orang dari kita bahkan setelah kita tiada.

4. Kesalahan masa lalu

Tidak ada orang secara sengaja ingin menodai sejarah hidupnya. Semua orang pastinya ingin catatan hidupnya bersih tanpa cacat sedikit pun. Namun, perjalanan hidup terkadang mengizinkan seseorang berbuat kesalahan. Entah terlibat pergaulan yang salah, melakukan kejahatan atau perbuatan melanggar hukum, menyakiti orang lain, dan lain sebagainya.

Tentu semua perbuatan itu menyebabkan rasa sesal mendalam di dalam hati si pelaku. Bahkan tidak jarang rasa sesal terus menghantui hidupnya dalam jangka waktu lama.

Masalahnya menyesal atas perbuatan buruk di masa lalu memang baik, karena itu berarti kita telah menyadari kesalahan yang telah kita perbuat. Akan tetapi bukan berarti kita harus berkubang di dalam rasa bersalah itu terus-menerus. Justru itu tidak sehat. 

Malah kita harus belajar memaafkan diri sendiri dan bangkit memperbaiki diri, serta menjadikan semua kesalahan yang pernah dilakukan sebagai pelajaran berharga. Karena berbuat salah adalah natur manusia. Kita berbuat salah karena kita hanya manusia biasa.

5. Standar kecantikan masyarakat

Semakin ke sini standar kecantikan perempuan semakin tidak masuk akal saja. Apalagi semenjak Korean wave melanda dunia, kiblat kecantikan perempuan Indonesia selain berkiblat ke Barat juga mengarah kepada artis-artis Korea yang berkulit putih, tinggi langsing dan berambut lurus.

Tak heran produk kecantikan seperti krim pemutih, pencerah, penghilang kerut laris manis di pasaran. Begitu juga produk pelangsing selalu diminati kaum perempuan. Semua hal di atas dilakukan demi memenuhi standar kecantikan tersebut.

Tentu saja tidak ada yang salah ingin menjadi cantik. Hanya saja, stereotipe kecantikan di masyarakat yang kian tidak masuk akal. Bayangkan jika yang masuk kategori cantik hanya mereka yang berkulit putih, bertubuh langsing dan berambut lurus saja, sementara di dunia ini banyak perempuan yang jenis kulitnya tidak hanya putih. 

Ada yang kuning Langsat, sawo matang, coklat kehitaman dan hitam gelap.  Pun banyak juga perempuan yang bertubuh pendek berisi, bongsor, berambut keriting atau gimbal.

Bukannya perempuan tidak harus memedulikan kecantikan dirinya. Kecantikan dan merasa cantik itu perlu dimiliki seorang perempuan. Namun terlalu terpaku pada standar kecantikan masyarakat takutnya membuat kita sengsara.

Bagaimana jika kita tidak memenuhi standar itu. Tubuh yang pendek mungkin, atau kulit yang hitam legam. Bukankah hanya akan membuat kita insecure dan tidak mensyukuri keadaan diri?

Memangnya kenapa kalau kulit kita hitam, rambut kita gimbal dan tubuh kita pendek? Setiap perempuan cantik dan istimewa dengan caranya sendiri, karena setiap manusia itu unik. Jadi, alih-alih habis-habisan memenuhi standar masyarakat. Lebih baik kita fokus menggali bakat dan minat yang terpendam di dalam diri masing-masing demi mengangkat value diri.

6. Apa yang dipikirkan orang lain

Risiko hidup bermasyarakat kita akan berhadapan dengan banyak kepala yang isinya berbeda-beda. Apa yang menurut kita baik dan sesuai belum tentu begitu  menurut orang lain. 

Memang kadang menjengkelkan jika kita dikomentari buruk oleh seseorang hanya karena pilihan-pilihan yang kita buat tidak sesuai pendapat orang ini. Walau bagaimana pun sudah menjadi tabiat manusia ingin terlihat baik di mata orang lain. Termasuk saya.

Hanya saja keinginan itu harus disesuaikan juga dengan keadaan dan kebutuhan diri. Jangan sampai keinginan dianggap baik atau keren oleh orang lain malah justru membuat susah diri sendiri. Toh, yang punya tubuh dan hidup adalah kita sendiri. Masa iya setiap keputusan yang kita ambil harus selalu bersandar kepada pendapat orang lain?

Selama apa yang kita lakukan tidak melanggar norma agama, hukum dan kenyamanan bermasyarakat ya lakukan saja. Apa masalahnya. Nah, jika orang lain masih saja mengomentari setiap tindakan kita. Abaikan saja. Jangan membebani diri berharap semua orang setuju dengan kita. Karena kita tidak memiliki kewajiban menyenangkan semua orang. 

Percayalah, adakalanya bersikap masa bodoh di tengah masyarakat yang kian julid adalah langkah terbaik menyelamatkan kesehatan mental dan jiwa.

Itulah 6 hal yang harus kita abaikan jika ingin tetap bahagia. Karena kebahagiaan adalah tanggung jawab setiap individu yang tidak bisa dibebankan kepada orang orang lain. Karena setiap oranglah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan dirinya sendiri.