“Open PO camilan week end….buruan order yuuks. “

“Monggo diorder jeng…mumpung masih fresh.”

“Assalamu’alaikum….numpang buka lapak njih. Monggo japri.”

Akhir-akhir ini kalimat postingan seperti ini jamak bersliweran di dalam sebuah akun medsos, khususnya akun sebuah grup. Postingan seperti itu terkadang mencuri waktu saya untuk sekadar window shopping.       

Dunia medsos makin marak dengan munculnya akun-akun grup yang mewadahi percakapan intern antar anggota. Umumnya mereka tergabung oleh kesamaan, dalam hal tujuan, minat, profesi, ikatan keluarga, atau yang lainnya.  Satu orang pemilik akun bisa menjadi anggota dari beberapa grup. Ada grup perkumpulan warga, grup keluarga, grup alumni, grup profesi/tempat kerja, grup komunitas hobby, grup pengajian/ibadah, dan sebagainya.

Seorang ibu rumahtangga seperti saya pun “terpaksa” harus ikut arus. Dalam kurun waktu 2 tahunan ini saya baru menyadari betapa grup medsos saya bertambah terus seiring bertambahnya aktifitas sosial saya. Tidak ada keharusan bagi saya menjadi anggota grup tertentu. Boleh menolak menjadi anggota, tetapi resikonya bisa-bisa ketinggalan informasi. 

Sekarang ini orang lebih memilih membagi informasi melalui grup medsos daripada harus menghubungi satu persatu kontak. Kecuali komunikasi pribadi atau yang diistilahkan “japri”.

Aplikasi yang paling banyak dipakai masyarakat adalah WhatsApp Grup (WAG), karena cara pengoperasiannya yang tergolong mudah.  Posting gambar/foto, copy-paste informasi, meng-update status, menghapus percakapan, bisa dipelajari dengan mudah. Orang yang baru melek internet-pun tak sulit menguasai fitur WAG tersebut. Tak heran kalau sebagian kaum ibu-ibu keranjingan bermedsos-ria, apalagi masuk ke dalam pergaulan WhatsApp Grup.

Awalnya topik postingan akun grup hanya berupa informasi formal. Seiring berjalannya waktu materi postingan menjadi semakin beraneka ragam, bagai martabak Markobar yang bertabur aneka toping. Mulai dari postingan receh seperti “Selamat pagi semua …semangat !!!, hingga percakapan membahas “makanan atau vitamin apa saja yang paling bagus dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas tubuh melawan virus covid-19”.

Undangan, pengumuman jadwal dan tempat arisan, guyonan, berita duka, hoaks, dan yang tak terlewatkan adalah postingan promosi dagangan. Ini semua sah-sah saja diposting di dalam WAG asalkan tidak menyinggung issue SARA.

Meski belum ada penelitian tentang intensitas percakapan grup WhatsApp, saya berani bilang bahwa dalam sehari rata-rata bisa lebih dari 10 postingan yang muncul dalam satu grup. Setiap postingan yang menarik minat dan memancing emosi, tentunya menuai banyak respon anggota. 

Obyek dagangan adalah salah satu postingan yang paling memancing emosi atau nafsu, terutama kaum perempuan. Fakta umumnya perempuan diidentikkan seperti haus belanja. Ingat bagaimana kalapnya ibu-ibu berbelanja menjelang Lebaran. Muncul sindiran untuk mereka, “nafsu yang tak bisa ditahan ibu-ibu saat puasa Ramadhan adalah nafsu belanja! “

Jika saya perhatikan, fenomena berdagang di WA grup terbukti mayoritas pelakunya adalah ibu-ibu. Baik yang posting ataupun yang comment. Tak ayal lagi para ibu melakukan make-over akunnya di grup WA menjadi “lapak” dagangan. Aplikasi yang paling banyak dipakai di Indonesia akhir-akhir ini adalah Whatsapp. 

Informasi dari Direktur APAC Whattsapp, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna Whatsapp terbanyak di dunia. Apakah mungkin jari jemari para ibu di sini turut berperan menjadikan penggunaan aplikasi Whatsapp di Indonesia juga mengalami peningkatan?

 Ibu-ibu yang membuka lapak di WAG ada pedagang asli yang memang sumber nafkahnya hanya dari berjualan, ada pedagang musiman, dan pedagang pemula.  Bagi anggota yang memang murni pedagang tentunya akan memanfaatkan “lapak”nya secara konsisten. Sedangkan ibu-ibu pedagang musiman dan pemula sesekali saja memposting dagangan, obyek jualannya pun sering berganti-ganti.

Namun demikian mereka semua tampak menyadari pentingnya sebuah postingan yang memikat calon pembelinya. Berbagai kiat-kiat promosi dipraktekkan, terlihat dengan makin bagus penyajian foto disertai kalimat promosi yang bombastis, iming-iming diskon, bonus, atau harga yang lebih murah.    

Tak dipungkiri pemanfaatan akun WAG sebagai lapak dagang kian hari kian diminati oleh para anggotanya, baik yang menjadi pedagang ataupun calon pembeli. Dibanding aplikasi online shopping lainnya, ada 6 hal kenapa fitur WAG cenderung dipilih sebagai tempat berdagang.

Pertama, hubungan sosial antar anggotaSemua anggota sudah saling mengenal dengan baik sehingga masing-masing merasa harus menjaga keharmonisan grup. Secara implisit seperti ada semacam etika yang dijaga, yaitu kehati-hatian dalam bertutur dan berperilaku di dalam grup.  Hal ini juga tampak saat transaksi jual-beli. Dari sini muncul kepercayaan yang tinggi antara seorang anggota sebagai penjual terhadap anggota lainnya sebagai pembeli. Dan sebaliknya.

Kedua, calon pembeli bisa mengecek fisik obyek daganganPembeli adalah raja. Hukum ini diterapkan juga di dalam lapak dagang WAG. Beberapa ibu-ibu calon pembeli cenderung bertransaksi setelah mengecek fisik barang yang akan dibelinya, mungkin ibu-ibu rempong yaaa…. 

Di sisi lain, pertemuan tatap muka tentunya akan membuka kesempatan ibu-ibu penjual mengeluarkan jurus-jurus rayuan dagangnya.  Sssstt…ibu-ibu yang sudah kenyang rayuan mantan pacar alias suaminya pasti sudah ahli bagaimana jurus jitu merayu calon pembelinya.

Ketiga, boleh menukar barang yang sudah dibeli. Penyebab yang sering terjadi, ibu-ibu gampang berubah keinginan. Tukar warna, jumlah, size dan motif barang. Penukaran harus sesuai kesepakatan sebelum transaksi dan prosesnya tidak berbelit. Hal ini dimungkinkan karena hubungan sosial yang kental antar mereka.

Keempat, pembayaran bertahap. Untuk barang yang harganya agak menguras isi dompet, biasanya ada diskon khusus atau pembayaran secara bertahap (sistim cicilan). Penjual yang juga seorang ibu-ibu rumahan tentunya memahami keterbatasan penggunaan uang rumah tangga. Adanya sistim pembayaran cicilan dan diskon lebih menarik minat ibu-ibu untuk membeli barang meski harganya lumayan mahal.

Kelima, barang di antar sesuai keinginan pembeli dan bebas ongkir. Pembeli bisa menentukan waktu dan lokasi pengiriman barang. Tidak dibatasi oleh durasi waktu pengiriman, baik hari maupun jam. Bagi ibu-ibu yang sering sendirian di rumah pasti pernah kesal menunggu kiriman belanjaan online yang tak tentu waktunya kapan datang. Di WAG pembeli dan penjual bisa janjian menentukan waktu dan lokasi pengiriman barang.

Keenam, ada kesempatan tawar-menawar. Seorang pedagang asli memahami bahwa faktor tawar-menawar bisa menjadi kuncinya berdagang. Para ibu sebagai calon pembeli tentu lebih tertarik kepada pedagang yang memberinya peluang menawar. Meskipun tidak semua transaksi di grup harus melalui tawar-menawar, tetap ada kemungkinan bisa menawar.

Pernah dengar saat ibu-ibu sedang menawar dagangan? Yang mengangguk dan tersenyum pasti tahu, atau jangan-jangan anda juga salah satunya. Maaaaf....jangan baper dulu. Saya pun salah satu ibu-ibu yang mengangguk dan tersenyum lho….