Mengapa engkau begitu bersemangat saat mendirikan rumahmu agar cepat selesai, sedangkan gedung untuk keperluan persyarikatan Muhammadiyah tidak engkau perhatikan dan tidak segera diselesaikan? (KH Ahmad Dahlan)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir dan hadir didasari atas beberapa faktor problematis keumatan. Setidaknya terdapat delapan faktor latar belakang mengapa IMM muncul, yakni:

1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, serta adanya ancaman komunisme di Indonesia.

2. Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politik umat Islam yang makin buruk.

3. Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis.

4. Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan makin tumbuhnya materialism-individualisme.

5. Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus, serta masih kuatnya kehidupan kampus yang sekuler.

6. Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.

7. Masih banyaknya praktik-praktik kehidupan yang serba bid’ah, khurafat, bahkan kesyirikan, serta makin meningkatnya misionaris-kristenisasi.

8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang makin memburuk.

Delapan hal tersebut sering kita baca dan dengar di berbagai buku dan media terkait dengan alasan lahirnya IMM. Dan memang benar seperti itu kenyataan dan semangat spirit yang luar biasa dari para pendiri IMM dahulu terpancarkan, bahkan hingga kini—spirit dan cita-cita besarnya wajib dimaksimalkan oleh para penerus generasi Ikatan.

Penulis berpendapat, lahirnya IMM merupakan sebuah keniscayaan, karena memang kondisi dan situasi pada kala itu sangat-sangat memprihatinkan. Selain itu, di internal Muhammadiyah sendiri belum ada organisasi otonom (ortom) yang menaungi mahasiswa, sehingga terbentuklah IMM sebagai wadah berkegiatan kader-kader IMM.

Dengan berjalannya waktu, seiring penulis berproses di IMM, banyak sekali keresahan dan kegelisahan yang dirasakan sampai saat ini. Seperti pada ulasan di bawah ini.

“Contohnya tentang bagaimana pengkaderan yang kurang maksimal, informasi kegiatan yang kurang masif, masih tertinggal dengan ranah intelektualitas dan humanitas, pola pikir kader yang masih dikatakan minim, masih minim menarasikan ide, gagasan, pemikiran sampai mendokumentasikan gerakan itu dalam bentuk Mind Mapping teoretis kondisi kader (mapping theory), analisis komprehensif, narasi progress kader (progress report), dan semacamnya. 

Dan atau boleh jadi masih kurang diskusi dan ngopi, di sisi lain sinergitas yang belum terlihat utuh ada di tubuh kader ikatan.”

Dengan berbagai masalah di atas, penulis tetap optimis bisa memperbaiki dan membuat lebih baik lagi dengan pendekatan secara intens kepada kader-kader yang dirasa berkepentingan dalam hal-hal di atas. Mencoba membantu sebaik mungkin dengan pemikiran dan tindakan. Dan tujuan pribadi terjun ke IMM adalah ingin menjadi kader yang baik dan bijak.

Dan dengan alasan lain kita bisa mencontohkan spirit berdirinya IMM pada masa lalu yang diceritakan di atas untuk menjadi dasar keyakinan kita sebagai kader IMM dalam memperbaiki dan membuat lebih optimal lagi, baik secara individu sebagai kader IMM dan secara organisasi dengan penuh optimis akan keberhasilan di masa mendatang.

Menarasikan Ide Gerakan

Ahmad Soleh (Sekretaris Bidang Riset, dan Pengembangan Keilmuan DPP IMM 2018-2020) sering kali memelopori gerakan literasi. Ia pernah menyampaikan dalam satu sesi dalam Launching buku Manifesto Cendekiawan Berpribadi (2019) di Aula Ahmad Dahlan, FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), bahwa:

“Kita sering kali lupa tentang dokumentasi gerakan. Menurut Sholeh, penting melakukan dokumentasi gerakan untuk IMM. Alasannya acap kali kader IMM masih sulit membaca masa lalu (sejarah, pergerakan IMM) jika tidak memiliki catatan-catatan dokumentasinya.”

Hal yang dimaksud oleh Soleh dapat dimaknai dengan sejauh mana dan sudah berapa banyak literatur/referensi mengenai ikatan dibuat (dalam bentuk apa pun) oleh kader ikatan? Termasuk bagaimana upaya mendokumentasikan gerakan ketika ada diskusi-diskusi, seminar, simposium, dan semacamnya, sehingga pada akhirnya ide-ide tidak tampil utuh, komprehensif dalam wujud tulisan-tulisan. 

Hal tersebut yang penulis maksud dengan upaya dokumentasi gerakan. Dokumentasi gerakan hadir melalui proses pemikiran yang reflektif, konsisten, komitmen terhadap apa yang akan di dokumentasikan (dalam hal ini, ide-ide, gagasan).

Ide-ide itu menjadi penting dinarasikan oleh segenap kader ikatan jika kita ingin membangun sebuah gerakan yang utuh. IMM—aktivis ikatan perlu melakukan menarasikan beragam wacana keilmuan di tubuh ikatan. Fungsinya bukan sebatas menambah struktur kognitif kader, melainkan upaya membumikan cinta literasi, menjadi sukma ikatan, kemudian menguji kemampuan itu di tengah kondisi keumatan. 

Teori digunakan untuk mengatasi beragam persoalan yang ada dalam realitas (dunia). Oleh karenanya, teori dan praktik tidaklah boleh dipisahkan. Mereka (teori-praktik) erat kaitannya dalam rangka penciptaan transformasi sosial.

Kita lihat beberapa pemikir terdahulu, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan cendekiawan Muslim, mereka menciptakan teori atas dasar kemanusiaan. Menciptakan beragam penemuan-penemuan, yang kemudian itu dihasilkan untuk kepentingan orang banyak. Proses refleksi, dan mengamati realitas menjadi hal yang tidak ketinggalan oleh mereka.

Hal ini tentu tidak menjadi sebuah problem bagi kader ikatan. Mereka—kader IMM sudah memiliki konstruksi paradigma ilmu, pemahaman akan keilmuan, memiliki basis metodologi, tinggal bagaimana melakukan keyakinan, dan konsistensi untuk membuat transformasi sosial. 

Sehingga upaya menafsirkan religiusitas, intelektualitas, dan humanitas itu tidak sebatas retorik di mulut saja, melainkan sudah di narasikannya dalam bentuk dokumentasi gerakan yang utuh, komprehensif. Wallahu a’lam bishawab.