Pukul 10 pagi, 4 Agustus 1970, lima puluh tahun yang lalu, Iwan Mardoa Dongan Simatupang, sastrawan yang lebih dikenal dengan nama Iwan Simatupang, meninggal dunia pada usia 42 tahun di Jakarta. Dia lahir di Sibolga, 18 Januari 1928.

Saat meninggalnya, di rumah duka, terjadi perebutan jenasah antara Frans Seda dan pihak keluarga. Menurut Frans Seda, yang bersama Iwan saat tinggal di Eropa, Iwan adalah orang Kristen karena sudah dibaptis di sebuah gereja di sana. 

Sementara, keluarga Iwan bersikukuh bahwa Iwan terlahir sebagai muslim, dan pihak keluarga tidak pernah mendapat informasi bahwa Iwan sudah berpindah agama. Akhirnya, pihak keluarga yang menang, dan Iwan dimakamkan sebagai muslim di pemakaman umat Islam.

Ini diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam salah satu tulisannya dalam buku kumpulan tulisan bertajuk LEKRA Adalah Bagian dari PKI (2015)

Iwan menikah dua kali. Pernikahan pertamanya dengan Corry pada 1955. Dari pernikahan ini Iwan mempunyai dua anak. Pada 1960 Corry meninggal dunia. Iwan sangat terpukul dengan kematian tersebut. 

Novel Ziarah didedikasikan untuk Corry: Untuk Corry, yang dengan novel ini aku ziarah terus-menerus.

Pada 1961, Iwan menikah lagi dengan Tanneke Burki, dan mempunyai seorang anak perempuan. Pada 1964 pernikahan mereka berakhir.

Iwan menyemarakkan dunia sastra tanah air selama dua dekade, mulai 1950-an hingga akhir 1960-an.  Ia menulis sajak, esai, cerpen, drama, dan roman. Esai dan sajaknya dimuat di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia pada 1952. Setelah meninggal, karya-karyanya masih diterbitkan.

Merahnya Merah adalah novel Iwan Simatupang yang pertama kali saya baca. “Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.” 

Kalimat-kalimat ringkas, padat dan kuat dalam paragraf pertama inilah yang membuat saya terkesan untuk menuntaskan novel tersebut serta membaca karya-karyanya yang lain.

Selain Merahnya Merah (Gunung Agung, 1968), yang mendapat hadiah sastra nasional, dia menulis tiga novel lagi, yaitu Ziarah (Djambatan, 1969), yang mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977; Kering (Gunung Agung, 1972); dan Koong: Kisah tentang Seekor Perkutut (Pustaka Jaya, 1975), yang mendapatkan Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K 1975. 

Pada 1982, kumpulan cerpennya, yang disunting oleh Dami N. Toda, diterbitkan dengan judul Tegak Lurus Dengan Langit.

Iwan menulis beberapa naskah drama, yaitu Bulan Bujur Sangkar (1960), RT Nol/RW Nol (1966), dan Petang di Taman (1966).

Pada 1963, esainya Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air mendapat hadiah kedua dari majalah Sastra, dan pada 2004 kumpulan esainya, yang disunting oleh Oyon Sofyan dan Frans M. Parera diterbitkan dengan judul yang sama.

Sajak-sajaknya dikumpulkan dan diterbitkan pada 1993 dengan judul Ziarah Malam: sajak-sajak 1952–1967. Buku kumpulan sajak ini disunting oleh Oyon Sofyan dan S. Samsoerizal Dar. Kumpulan surat menyuratnya dengan B. Soelarto diterbitkan pada 1986 dengan judul Surat-surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966. Buku ini disunting oleh Frans M. Parera.

Iwan Simatupang dipandang sebagai pembaru sastra Indonesia. Novel dan cerpennya memperkenalkan apa yang disebut dengan nouveau roman, atau novel baru adalah gerakan sastra modernis yang berkembang di Prancis 1950-an. Iwan sendiri tidak pernah menggunakan istilah tersebut.

Kajian tentang karya-karya Iwan Simatupang ditulis oleh Dami N. Toda dalam buku Novel Baru Iwan Simatupang (1980).

Iwan Simatupang adalah sosok yang unik. Bersekolah di HBS Medan. Pada 1950-an, ia tinggal di Surabaya menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan sekaligus guru SMA. Gagal menjadi dokter, ia belajar antropologi dan filsafat. 

Iwan beberapa tahun tinggal di Eropa karena diundang sebagai tamu oleh STICUSA (Stichting voor Culturele Samenwerking – Yayasan Kerjasama Kebudayaan).

Selain peristiwa perebutan jenazah di saat meninggalnya, ada beberapa hal mengenai sosok Iwan Simatupang yang misterius dan mengundang kontroversi.

Pernah Ajip Rosidi bertemu dengan Achdiat K. Mihardja, yang kebetulan berlibur ke tanah air. Achdiat berkisah bahwa dia baru saja bertemu dengan Iwan Simatupang, yang bercerita bahwa dia berhasil membujuk Rektor IPB untuk mengundang Rendra untuk mementaskan “Bip Bop” di IPB. 

Tentunya, Achdiat kagum akan prestasi Iwan. Namun, menurut Ajip, pada kenyataannya Rendra tidak pernah pentas di IPB.

Ada beberapa kejadian sejenis, di mana apa yang diceritakan Iwan berbeda dengan kenyataannya. Menurut Ajip Rosidi, Iwan memang jagoan dan dalam membuat kisah. Apa yang diangan-angankannya tampak nyata, karena cara dia bercerita sangat mengasyikkan.

Ada catatan menarik tentang Iwan Simatupang dalam kaitannya dengan kehidupan politik nasional pada 1960-an. 

Dalam buku Kekerasan Budaya Pasca 1965, Wijaya Herlambang menggambarkan bahwa sastrawan anti komunis Iwan Simatupang mengundang rekan-rekannya ke kediamannya untuk bertemu dengan tokoh SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia), organisasi bentukan Angkatan Darat untuk menandingi SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), yang ada di bawah PKI. (hal. 82)

Dalam catatan kakinya, Wijaya Herlambang merujuk pada penelitian Alexander Supartono, LEKRA vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950 – 1965 yang mencurigai bahwa Iwan sebagai agen militer yang bergerak di bidang kebudayaan.

Kecurigaan ini didasari atas gaya hidup Iwan Simatupang yang mewah. Sampai ia meninggal, Iwan tinggal di Hotel Salak di Bogor. Ia juga memiliki mobil mewah.

Dari wawancara dengan Goenawan Mohamad, diketahui bahwa Iwan sangat tertarik dengan “uang berjumlah besar” yang mungkin dapat dihasilkan melalui kolaborasi dengan SOKSI.

Tidak jelas berapa lama Iwan tinggal di Hotel Salak kamar 52. M. Ryana Veta, yang menulis satu tahun setelah meninggalnya Iwan Simatupang, mengatakan bahwa Iwan tinggal di Bogor selama 4 tahun. Sementara, Aulia A. Muhammad menulis bahwa Iwan tinggal di hotel selama 9 tahun.

Terlepas dari keakuratan informasi berapa lama Iwan tinggal di Hotel Salak, hidupnya tampak tertekan sebagaimana diungkapkannya dalam suratnya kepada H.B. Jassin. Karena kondisi keuangan dan kesehatannya yang memburuk, Iwan kemudian menumpang di rumah adiknya di Jakarta hingga meninggal pada 4 Agustus 1970.

Terlepas dari berbagai kontroversi dalam hidupnya, saya menempatkan Iwan Simatupang sebagai pengarang yang dahsyat dan tak tergantikan. Karya-karyanya mengajak kita untuk merenung dan selalu mempertanyakan makna kehidupan.