5 Tips Mendampingi Anak Autis di Masa Pandemi

Pandemi covid-19 belum berakhir. Sebagai orang tua dari anak dengan gangguan autisme, masa pandemi ini begitu berdampak dalam kehidupan kami. Rutinitas harian berubah total. Sebagai manusia ‘’normal’’ saya dan istri harus adaptif dengan situasi yang tak menentu. Namun, hal ini sulit di terima oleh anak autis yang kaku, kerap mengalami kecemasan dan panik berlebih saat mengalami perubahan. 

Sebuah tantangan besar bagi kami menangani anak autis yang saat ini berusia tujuh tahun. Diperlukan adanya kerja sama antara saya dan istri dalam mengasuh putri istimewa kami. Bentuk penerimaan dari orang tua yang memiliki anak dengan gangguan autisme diperlukan agar anak mendapat penanganan yang tepat, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dengan anak sebaya dan meminimalisir gejala autisme nya. Anak autis mengalami gangguan dalam perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Mereka tidak mudah dalam melakukan sesuatu. Penyerapan informasi pun berlangsung lama. Oleh karena itu sebagai orang tua dari anak autis diperlukan kesabaran lebih dalam menghadapinya.

Lalu, bagaimana mendampingi anak autis di masa pandemi ini?

  • 1. Memasak Bersama

Selama pandemi berlangsung kami cukup mematuhi aturan pemerintah untuk stay at home sebagai salah satu ikhtiar melawan virus covid-19. Sebagai orang tua, saat pandemi ini kami mengubah pola belajar anak supaya tidak merasa bosan. Solusinya yaitu dengan mengizinkan ia melakukan pekerjaan rumah tangga bersama sesuai dengan usia dan kemampuannya. Walaupun putri kami berusia tujuh tahun, akan tetapi kemampuannya berbeda dengan anak typical (normal) lainnya sehingga ia harus mengejar ketertinggalan itu. Seperti memegang pisau, ia belum dapat memegang pisau dengan benar, saat ini kami masih membantunya.

  • Putri kami masih belajar mengenal benda di sekitar seperti memotong sayuran untuk di masak. Saat memotong sayuran misalnya, tanya anak mengenai benda apa yang dilihatnya. Juga berikan perintah ‘’ambil sendok,’’ misalnya. Hal ini cukup efektif untuk belajar nama benda, buah dan sayuran. Selain itu, dengan menyiapkan sarapan mulai dari mengambil alat makan seperti piring dan sendok hingga mengambil makanan yang sudah matang.

    • 2. Bermain Bersama Adik
    • Kami pun memberikan penjelasan kepada sang adik untuk mengurus kakak autisnya yang tumbuh tidak sesuai usianya. Tidak heran adik jauh lebih dewasa bila dibandingkan dengan anak tiga tahun pada umumnya. Selama pandemi ini anak-anak mengalami ikatan batin yang kuat, karena seharian mereka melakukan aktifitas bersama dari bangun hingga menuju tidur. Mereka sering loncat-loncat di atas trampoline atau di tempat tidur, juga bermain balok kayu. Saat pandemi ini putri kami mengalami kemajuan yang cukup pesat seperti dapat berdoa, membaca ayat suci Al-Qur’an dan bernyanyi seperti adiknya.

    • 3. Belajar Bersama Adik
    • Mendampingi anak autis tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak termasuk saudara kandung. Oleh karena itu, kami selalu mengajak sang adik berkomunikasi untuk selalu mendampingi kakak autisnya. Termasuk mendampingi saat belajar.

    • Belajar formal merupakan momok menakutkan bagi setiap anak autis termasuk putri kami. Solusinya adalah menciptakan suasana belajar yang mengasyikan. Buatlah ruang khusus untuk bermain dan belajar. Saat ini, ia sering meniru apapun yang dilakukan oleh sang adik, padahal adiknya berusia tiga tahun. Oleh karena itu, kami meminta adik untuk menulis atau menggambar dekat dengan kakak. Sehingga tanpa di suruh pun, kakak meniru memegang pensil dan membawa buku lalu mencorat-coret nya. 

      • 4. Bercocok tanam di sekitar rumah
      • Kegiatan bercocok tanam mulai dari menanam, menyiram tanaman hingga proses panen baik untuk anak-anak terutama anak autis. Hal ini dapat membantu melatih motorik halus dan melatih kesabaran anak. Putri kami memiliki ciri khas dari anak autis yaitu rentan panik dan tidak menyukai tekstur tertentu seperti tanah. Namun setelah beberapa kali melakukan kegiatan ini, ia mulai menyukainya. Ia dapat mengikuti arahan dari saya atau istri untuk melakukan aktifitas tersebut.

      • Tak perlu khawatir anak menjadi kotor karena bermain tanah, asalkan pendampingan selalu diutamakan. Khususnya untuk memanen sayuran, kami mengajak anak saat sore hari, menuju jam makan supaya dapat melihat langsung proses dari memanen hngga memasak sayuran tersebut untuk ia konsumsi.

        • 5. Olahraga bersama anggota keluarga
      • Salah satu ikhtiar agar tetap sehat yaitu dengan berolahraga. Sebelum adanya pandemi, biasanya hampir setiap pagi kami rutin melakukan olahraga di luar rumah, seperti jalan pagi atau hiking di akhir minggu. Namun, semenjak adanya pandemi seluruh kegiatan olahraga kami lakukan di rumah seperti berjemur pagi hari, senam dan bersepeda di halaman rumah. Pandemi memang banyak membawa dampak negatif untuk kehidupan. Namun tak dipungkiri ada berkah di balik semua ini, diantaranya hubungan kekeluargaan semakin erat, khususnya bagi putri istimewa kami, ia baru dapat mengayuh sepeda sendiri lima bulan yang lalu.