Interaksi sosial saat ini tidak lagi dibatasi oleh jarak. Ruang komunikasi antarindividu terlipat menjadi begitu dekat dan rapat, di mana pun dan kapan pun, melalui jagat maya yang tunggal, sederhana dan canggih.

Jejaring sosial bagi sebagian warganet merupakan arena utama pertukaran informasi aktual (sharing). Terlebih, jejaring sosial memberikan akses berupa laman komentar; arena interaksi digital warganet dalam suatu diskursus atas topik tertentu (biasanya isu kekinian/aktual). Lewat laman komentar, mereka dapat memberikan pendapat atau memberikan respons atas suatu topik berdasarkan preferensi sosial, pilihan politik, maupun budaya tertentu. Mereka berinteraksi di laman komentar artikel, berita, maupun kolom komentar status influencer media sosial. 

Dari interaksi tersebut, mereka mendapatkan informasi, memberikan dan memetik makna, serta menumbuhkan persepsi tertentu untuk kemudian bersikap atau menentukan sikap. Aktivitas mereka turut memberikan sumbangan atas viralnya suatu fenomena sosial, gejala politik, maupun perilaku budaya tertentu di lini masa Anda.

Berdasarkan pengamatan sederhana yang saya lakukan (di laman komentar beberapa artikel atau berita yang viral, dalam beberapa topik diskursus tertentu), maka berikut adalah beberapa tipe warganet yang turut meramaikan jagat maya. Di sini latar belakang sosial-ekonomi (seperti kelas sosial, tingkat pendidikan, jenis kelamin dan profesi) saya anggap seragam atau anonim, meskipun turut memengaruhi pola perilaku mereka dalam memaknai informasi, memberikan pendapat dan merespons suatu fenomena. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan kategorisasi. 

Buzzer Politik

Mudah ditemui di laman komentar (artikel, berita maupun konten digital yang bermuatan politik). Buzzer politik tidak lepas dari gejala perpolitikan nasional yang suhunya masih terasa hangat sejak pemilihan presiden tahun 2014.

Mereka juga merupakan bagian entitas politik yang relatif baru dalam upaya memasifikasi nilai-nilai tertentu kepada publik lewat ruang sosial digital.

Mereka sebetulnya agak sulit dikenali. Ciri utama mereka, biasanya, bergerak dengan membombardir isu-isu negatif yang menyerang persona politik tertentu melalui penyebaran kontranarasi, isu tandingan dan pencitraan persona (value branding) agar menarik dan memberikan kesan positif bagi calon pemilih (voters).

Sejauh narasi yang diketengahkan bersifat membangun, berupa persaingan nilai-nilai kemanusiaan, keadaban yang sehat dalam suhu politik yang demokratis, tentu bukan masalah. Sebab siapa pun yang terpilih, publik tetap yang menjadi pemenang.

Celakanya, dalam titik tertentu, persaingan personalitas dalam upaya meraih simpati publik dapat mengarah pada narasi "hitam" berupa “serangan” yang memuat konten ofensif. Reaksinya jelas, akan menimbulkan narasi tandingan berupa kontranarasi sejenis. Hal itu bersifat destruktif bagi nalar publik. 

Untuk kerja-kerja “hitam” seperti ini, biasanya dilakukan secara anonim. Jumlah mereka yang tidak sedikit—dengan metode-metode tertentu—dapat membuat kontranarasi yang dilakukan menjadi masif. Harapan dari masifnya konten mereka adalah anggapan bahwa pesan tersebut dimiliki atau setidaknya menggambarkan sebagian besar populasi warganet. Padahal tidak.

Upaya tersebut sebenarnya dilakukan dengan tujuan memengaruhi atau bahkan mengarahkan opini publik. Jadi, jika Anda melihat fan garis keras kubu kanan atau kiri (terserah Anda menentukan mana atau siapa yang kanan/kiri) bertikai dan baku hantam secara membabi buta, bisa jadi mereka sebenarnya cuma buzzer yang mencari nafkah. Jangan mudah terjebak.

Seperti yang saya sedikit singgung di atas, tujuan buzzer yang utama yaitu memengaruhi nilai-nilai publik dengan memberikan wacana-wacana tertentu. Harapannya, publik digital dapat memahami “pesan” yang diberikan dan bertindak sesuai dengan “pesan” tersebut.

Saya menggunakan bahasa “kontranarasi” sebagai konten utama yang dibuat buzzer karena saya melihat kecenderungan dari kedua belah pihak (entitas politik) yang bersaing dalam nilai-nilai utama demokrasi, bukannya menggunakan wacana yang sehat seperti visi kesetaraan sosial/gender, pembangunan dan perbaikan sistem hukum, pelaksanaan pembangunan sentra maritim, pemerataan pembangunan di wilayah timur Indonesia, pengentasan kemiskinan desa-kota, keterwakilan publik di parlemen maupun responsivitas dan akuntabilitas lembaga publik dalam upaya melawan korupsi.

Justru malah mengketengahkan “serangan-serangan” yang kurang substantif; isu identitas atau kategori sosial (SARA), kebangkitan PKI (partai komunis yang sempat besar di Indonesia pada awal kemerdekaan), stigma negatif pada kelompok ideologi tertentu dan lain sebagainya.

Bigot

Kalau kata Alissa Wahid, bigot itu orang yang fanatik terhadap keyakinannya, bersikap intoleran, dan benci kepada kelompok-kelompok lain.

Izinkan saya memperluas cakupan kategorisasi bigot yang di dalamnya. Dengan demikian, sebagai contoh kecil, bigot termasuk suporter sepak bola garis keras yang saling membenci satu sama lain (kasus di dunia nyata, belum lama ada pengeroyokan yang berujung pada tewasnya salah satu suporter Persija Jakarta, Haringga Sirila di Bandung; Anda bisa cari beritanya).

Gamer yang saling mencaci karena beda pilihan pengembang (developer) yang banyak di Facebook, sampai pada kelompok keyakinan tertentu yang menolak dengan keras pendapat atau pandangan (yang kebetulan) berbeda yang berujung pada persekusi. Sebagai contoh, Anda bisa cari berita terkait Tretan Muslim dan Coki Pardede yang sampai-sampai diancam karena konten vlog miliknya.

Bigot memiliki ciri utama yang cenderung memusuhi kelompok yang dianggap berseberangan. Dalam konteks digital, mereka bersikap keras dalam mengutarakan pendapat berdasarkan nilai-nilai, preferensi politik, selera maupun budaya yang telah dianggap sebagai kebenaran final, sehingga tidak menyisakan ruang atau diskursus terhadap pandangan yang berbeda.

Anda bisa jawab, banyak tidak bigot yang akhir-akhir ini Anda temui?

Kompas Moral (Moral Compass)

Warganet tipe ini biasanya berkomentar dengan bijak. Menggunakan bahasa dan kalimat yang santun. Tidak out of topic (OOT), apalagi bersikap ofensif terhadap pendapat yang berbeda dalam suatu diskursus tertentu. Dalam beberapa hal, mereka tidak keberatan mengedukasi dengan memberikan acuan suplemen tambahan terkait isu-isu terkini dengan tujuan pencerdasan bagi nalar publik.

Berita baiknya, mereka ini jumlahnya tidak sedikit. Celakanya, mereka sering kali kena nyinyir sebagai orang yang pansos alias panjat sosial (cari tenar atau ingin terkenal).

Sedikit contoh yang akan saya berikan terkait kampanye moral compass yang saya temui di laman medsos saya. Sebagai contohnya, konten edukatif terkait sup sirip ikan hiu yang tidak layak dikonsumsi, sekaligus membahayakan kelestarian ikan hiu itu dari ancaman perburuan liar/ilegal. 

Kemudian penjelasan ilmiah tonic immobility dalam  kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum mahasiswa kampus ternama di Yogyakarta yang baru-baru ini viral (Anda bisa cari dengan kata kunci: Agni) sebagai upaya tandingan melawan nalar victim blaming, sampai edukasi terkait eksplanasi bagaimana panjang garis pantai tidak serta-merta berkorelasi positif dengan tingkat produksi garam di Indonesia, sebagai respons isu rendahnya produksi garam dalam negeri. Itu adalah sedikit contoh pendapat warganet dengan tipe kompas moral.

Mereka adalah oase, orang-orang yang rela berpikir, meluangkan waktu dan mengampanyekan kebaikan di tengah ingar bingar kebisingan digital yang dipenuhi “sampah dangkal internet” dalam bentuk hoax, hate speech dan lain sebagainya.

Polisi Moral

Kebalikan dengan tipe sebelumnya. warganet tipe ini menghakimi sesukanya. Kebiasaanya berkomentar miring atas apa pun, seolah nilai-nilai, selera, preferensi persepsi atau sikap yang dia anut merupakan tindakan yang paling sempurna sehingga semua orang wajib mengikutinya—dalam tulisan ini, saya ulas mereka yang dapat dikatakan sebagai polisi moral.

Namun demikian, tidak jarang juga ditemui polisi moral yang berpijak dengan kebenaran nilai-nilai moral universal. Meski begitu, salah satu acuan pendapatnya dapat dikatakan relatif objektif adalah pertimbangan etis.

Kreator Meme

Meme yang kita kenal saat ini secara relatif merupakan produk budaya digital (meskipun tidak selamanya demikian), yang biasanya berupa gambar digital dengan tulisan atau penjelas yang berkaitan dengan ide-ide, perilaku sosial, budaya, maupun gaya hidup tertentu yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam suatu komunitas. Kebanyakan substansi meme berupa satir, komedi maupun ungkapan sarkas atas suatu fenomena sosial tertentu. 

Meme sebagai ekspresi sosial tertentu dalam dunia maya merupakan simplifikasi penyebaran informasi yang tadinya kompleks menjadi lebih mudah dipahami banyak orang. Lihatlah pada gambar tulisan ini. Itu adalah salah satu contoh meme yang menarik. 

Kreator meme adalah mereka yang kreatif dalam mengisi hiburan-hiburan ringan di kala internet dipenuhi oleh kebisingan.