Tak ada asap tanpa api. Tak ada akibat tanpa sebab. Meskipun sering kali apinya di mana, tapi asapnya ke mana-mana. Begitu pula adegan ghibah fenomenal di atas truk Gotrek dalam film pendek berjudul "Tilik". Bu Tejo cs tidak akan melakukan rasan-rasan sampai segitunya tanpa adanya objek penderita sebagai apinya. Siapa lagi kalo bukan Dian.

Memperhatikan banyak dialog dan ending cerita, yang ternyata Dian adalah calon istri bapaknya Fikri, kelakuan Bu Tejo cs ini menggambarkan karakter yang insecure. Keberadaan Dian yang cantik dan modis ala orang kota, dilihat sebagai ancaman pada stabilitas rumah tangga mereka.

Mereka takut, Dian, yang dicitrakan sebagai perempuan nggak bener itu merebut suami-suami mereka. Bahkan setelah mengamati level kekayaan Dian, yang motor dan henponnya anyar, Bu Tejo yang sombongnya tipis tipis itu pun merasa tersaingi.

Fenomena begini sebenarnya relate dengan kehidupan kita. Di sekitaran kita, pun di media sosial. Ada tetangga atau teman yang nampak punya kelebihan, lalu otomatis jadi objek ghibah alias pergunjingan. Ada yang  lebih cantik, lebih ngeksis, lebih kaya, lebih pintar, atau apalah, lalu perasaan merasa tersaingi menguar. Muncul sentimen tersendiri.

Lalu segala dugaan dan penerawangan terhadap secuil fakta yang terlihat, sentimen yang sudah ada itu seperti disulut. Informasi sepotong yang tidak lengkap dan belum jelas kebenarannya lantas digoreng sedemikian rupa, dan dicampur bumbu hoax dan fitnah. Disebar ke sana ke mari, akhirnya terjadi pembunuhan karakter.

Nah, hal-hal seperti itu awalnya hanya sepele saja. Perasaan insecure. Perasaan tidak aman. Perasaan tersaingi, padahal belum tentu orang yang dimaksud itu berniat menyaingi. Juga perasaan tidak pede yang diejawantahkan dengan cara nganu. Mempraktekkan teori perghibahan, misalnya.

Orang-orang seperti ini ada dan nyata. Bisa jadi tinggal di sekitaran kita, atau ada di dalam daftar teman di media sosial. Tak hanya berasal dari kaum wanita, tapi juga kaum pria. Sama lah kayak fenomena sein kiri belok kanan. Di realita jalanan, nggak cuman emak-emak yang punya kelakuan begitu. Bapak-bapak juga banyak kok.

Tapi sayangnya, identifikasi orang dengan kelakuan begini kurang jelas terlihat. Kadang bisa jadi dia menampakkan diri sebagai musuh. Tetapi dia bisa juga menyamar sebagai penggemar atau follower. Bahkan dia pun mungkin nyamar jadi teman yang seolah-olah dekat.

Satu hal yang pasti, di balik hal yang nampak manis,  dia tidak menyukai orang yang membuatnya merasa insecure. Dia akan berusaha untuk menjatuhkan demi mendapatkan 'rasa aman'.

Sebaiknya kita  berhati-hati terhadap orang-orang insecure, dan mempunyai hobi ghibah. Di depan nampak baik, di belakang ya gitu deh. Kayak Bu Tejo begitu. Di depan Dian, dia cuman bersikap seolah-olah perhatia. Lagipula mana berani dia ngomong kalau Dian adalah perempuan nggak bener. Atau minimal nanya Dian, waktu sama om-om itu sebenarnya ngapain. 

Nah, kan berbeda sekali jika di belakangnya. Segala cara bisa dilakukan untuk menjatuhkan, bahkan  dengan hoax dan fitnah sekalipun.

Lalu, solusinya apa? Dadi uwong ki mbok sing solutif ngono lhoo, begitu kata Bu Tejo.

Berikut adalah solusi praktis menangkis serangan  dari para kaum insecuremerangkap praktisi ghibah.

1. Ambil jarak aman alias menjauh. Bagi orang insecure, apapun bisa jadi "api"nya. Jadi, lebih baik menjauh daripada mendekat tapi yang didapat hanya sakit. Para praktisi ghibah tidak akan memedulikan seberapa sakit saat Anda digunjing dan difitnah.  Mereka lebih memedulikan rating atas ghibah plus fitnah yang berhasil disebarkan.

2. Jika menjauh tidak memungkinkan, maka berinteraksilah sekadarnya saja. Tetap jaga jarak aman. Dan latihan legawa, berbesar hati,  sebanyaknya. Apapun yang Anda lakukan, apapun yang Anda tampakkan, tidak mungkin menyenangkan semua orang. Dan kita pun tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain. Terlebih lagi mulutnya.

3. Mengurangi tindakan dan postingan yang berpotensi menambah panas hati orang-orang macam begitu. Anda boleh cantik dan eksis, tapi jangan sampai membuat mereka mempunyai rasa iri berlebihan. Sekali-kali bagilah tips kecantikan Anda, gitu lho. 

Anda boleh kaya raya di seantero desa, tapi jangan cuman punya hobi pamer harta. Sekali-kali ajaklah mereka yang doyan ngomongin Anda untuk shopping bareng. Yah, misalkan diomongin kan masih ada rasa sungkannya.

4. Ajak ketemuan empat mata. Para praktisi ghibah ini biasanya bukan jenis kaum single fighter. Dia hanya mengeluarkan jurusnya saat berkoloni dengan follower ghibahnya. Kegarangannya terpampang nyata hanya jika dibersamai jamaahnya. 

Lalu, saat ketemuan tanya baik-baik, barangkali dia punya masalah dengan Anda. Atau mungkin dia hanya iseng untuk cari perhatian dan keributan.

5. Jadilah praktisi ghibah, seperti Bu Tejo. Sebelum Anda jadi objek ghibah, jadilah subjeknya. Buatlah konten ghibah semenarik mungkin sehingga perhatian orang akan teralihkan. Dengan begitu, otomatis Anda  terhindar dari serangan praktisi ghibah. Ini solusi paling praktis dan solutif, tapi jelas tidak direkomendasikan.