Di Indonesia banyak sekali model pendidikan yang bisa dipilih oleh para orang tua. Ada model sekolah yang peserta didiknya berangkat pagi dan pulangnya sore hari, biasanya dikenal dengan full day school. Ada juga yang menyediakan penginapan atau asrama bagi peserta didiknya, biasanya dikenal boarding school. Yang paling umum adalah sekolah yang peserta didiknya berangkat pagi hari dan pulangnya tidak terlalu sore.

Yang belum terlalu familiar di kalangan masyarakat kita adalah model sekolah yang peserta didiknya -secara umum- selalu berada di dalam rumahnya. Model sekolah seperti ini biasa disebut dengan home schooling.

Dari hari ke hari home schooling semakin diminati oleh masyarakat. Informasi tentang home schooling tersebar luas berkat internet yang mudah diakses. Tantangannya sekarang pada ketersediaan akses menuju pelaku home schooling nya. Masih sedikit sekali komunitas home schooling yang diketahui oleh masyarakat.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan orang tua memilih home schooling sebagai metode yang dipilih untuk mendidik anaknya. Karena orang tua kadang masih bingung untuk membuat keputusan apakah perlu memulai home schooling.

Berikut ini adalah 5 hal yang membuat orang tua bisa beralih ke home schooling, yaitu:

1. Tidak cocok dengan metode pengajaran sekolah formal

Sekolah pada umumnya telah menerapkan metode pengajaran yang baku. Dengan metode tersebut diharapkan akan tercapai target tertentu, misalnya kelulusan siswa yang mencapai 100 persen.

Namun dalam situasi tertentu, ada anak yang tidak bisa mengikuti metode pengajaran seperti itu. Bisa dikarenakan anak tersebut lebih cocok dengan pengajaran di luar kelas. 

Akibatnya anak itu selalu mengalami ketertinggalan dalam nilai pelajarannya dibandingkan dengan anak yang lain. Sehingga solusi nya adalah anak tersebut harus dikenalkan dengan metode yang lain, yang sama sekali berbeda.

2. Berbeda pandangan masalah kurikulum

Sebuah sekolah yang bagus tentunya sudah memiliki kurikulum yang tertata dan dapat digunakan selama periode waktu yang panjang. Dan kurikulum tersebut akan diterapkan secara merata kepada seluruh anak didiknya. Contohnya, anak kelas 2 SD yang belum bisa baca tulis hitung (calistung) pastinya akan terus dievaluasi oleh gurunya, agar ia bisa segera calistung. Sehingga saat anak itu naik kelas tidak akan membebani gurunya.

Di satu sisi, ada orang tua yang beranggapan bahwa kemampuan calistung anak tidak perlu dipaksakan pada kelas awal. Karena akan membuat anak cepat merasa bosan dengan proses sekolahnya.

3. Menginginkan waktu istirahat dan bermain anak lebih banyak

Dalam beberapa hal, aktivitas sekolah dapat membuat anak sangat kelelahan, terutama kalau jam pelajarannya terlalu banyak . Padahal pada usia anak-anak sangat membutuhkan waktu istirahat yang cukup, di samping tentunya waktu untuk bermain pula. Orang tua bisa menyediakan waktu istirahat yang cukup bila pendidikannya tidak terikat dengan sekolah formal.

4. Memuluskan impian anak

Ada baiknya pada waktu usia pra sekolah, anak kita ditanya, pada saat besar nanti ingin melakukan apa. Sedikit banyak pertanyaan ini akan memberikan gambaran kepada orang tua apa sebenarnya bakat atau kegiatan yang paling diinginkan oleh anak. Anak yang hobi dan berbakat memasak tentunya harus berjuang keras untuk mendapatkan sekolah yang di dalamnya banyak kegiatan masak memasak. Di sinilah peran orang tua sangat penting, agar bakat anak terfasilitas dengan baik.

5. Ingin menjalin kebersamaan dengan anak secara lebih intens

Disadari atau tidak, masa anak-anak yang penuh kelucuan dan keriangan itu akan berlalu dengan cepatnya. Tanpa terasa tiba-tiba anak kita sudah beranjak remaja. Yang dulu sukanya minta diayun-ayun, sekarang bahkan sudah tidak mau digendong lagi. Sangat terasa betapa cepatnya waktu itu berjalan.

Perasaan seperti itu terjadi disebabkan karena kebersamaan antara orang tua dan anak memang sangat terbatas. Waktu yang seharusnya disediakan untuk anak terhambat kesibukan urusan pekerjaan.

Maka dari itu, bila orang tua tidak menginginkan waktu kebersamaan dengan anak berlalu begitu saja, orang tua bisa mulai memilih opsi menyekolahkan anaknya di rumah saja.

Itulah 5 hal yang dapat menyebabkan orang tua lebih memilih home schooling daripada sekolah formal.

Tentunya pilihan itu akan menimbulkan beberapa konsekuensi. Beberapa hal yang harus disiapkan adalah: kesiapan mental orang tua dan anak, kurikulum dan waktu pembelajaran. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah konsistensi orang tua dalam melakukan pendidikan home schooling. Jangan sampai anak mengalami kebingungan karena pola pembelajarannya tidak jelas.

Dan berita gembiranya adalah bahwa aktivitas belajar di rumah ini (home schoolingjuga dilindungi oleh negara dengan diterbitkannya Permendikbud 129 Tentang Sekolah Rumah. Jadi orang tua sudah tidak perlu khawatir dengan masalah perlindungan hukumnya. Tinggal dijalankan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

Anak adalah aset terbaik orang tuanya. Maka ia berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Jika harus melalui home schooling, orang tua harus menjadikan home schooling nya sebagai yang terbaik. Jika itu yang terjadi, maka impian kecil dapat menjadi impian besar yang menjadi kenyataan.