Situasi pandemi COVID-19 membuat saya dan istri berkreasi untuk kegiatan anak. Nah, setiap akhir pekan, kami meminta anak lelaki kami untuk menuliskan dan mempresentasikan secara ringkas kegiatan hingga permainan yang sedang digemarinya.

Saya tulis kegiatan presentasi tersebut dalam 7 Cara Membangun Percaya Diri Anak, Diantaranya Latihan Presentasi. Karena kita sadari bersama bahwa karakter tiap anak memang berbeda-beda, terdapat beragam cara membangun kepercayaan dirinya. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita mesti cari cara tepat.

Berdasarkan pengamatan kami selama pandemi ini, terutama terhadap anak lelaki kami dan teman-temannya yang sebaya. Anak-anak masih memerlukan kegiatan bersosialisasi virtual maupun secara nyata pasca sekolah dari rumah.

Bermain secara tatap muka maupun mabar (main bareng) secara virtual menghiasi kegiatan sejumlah anak-anak di lingkungan sekitar.

Minggu, awal Agustus (01/08), anak lelaki kami menyiapkan presentasi tentang 5 permainan yang dilakukannya bersama teman-teman di tengah situasi pandemi COVID-19.

Tentunya dengan tetap berupaya menjaga protokol kesehatan (prokes), menggunakan masker dan membersihkan tangan dengan air dan sabun ataupun penyanitasi tangan. Tulisan ini berisi lima rekomendasi dari anak lelaki kami untuk permainan anak, dengan tetap taat prokes.

Berikut ini saya bagikan lima permainan rekomendasinya. Kalimat yang saya tuliskan di sini adalah deskripsi yang dituliskan oleh anak saya dengan sedikit penyesuaian, tanpa menghilangkan konteks yang disampaikannya.

#1 Badminton

Olimpiade Tokyo 2020 menjadi salah satu pemantik bagi anak-anak untuk bermain badminton. Meskipun, tidak memiliki lapangan badminton, anak-anak dapat bermain di halaman depan rumah. Masing-masing anak membawa raketnya sendiri dan bagi yang memiliki kok (shuttlecock) tentunya wajib membawa.

Bermain badminton ini merupakan bentuk olah raga yang santai di pagi hari (saat akhir pekan) sembari berjemur untuk mendapatkan asupan vitamin D.

Apabila jumlah anak yang turut bermain berjumlah 4 anak atau lebih, maka anak-anak cenderung memilih untuk bermain ganda, bahkan sering pula bermain ganda campuran.

Tergantung dengan anak-anak yang dapat bergabung dan karena bermain di tengah situasi pandemi, tentunya ada perwakilan orang tua atau pengasuh yang juga turut mengawasi selama permainan berlangsung.

Karena tidak semua anak mahir dalam bermain dan lebih mengutamakan bermain untuk sekadar bertemu dan bermain bersama, maka penggunaan poin yang dicetak sebagai skor pun kadang digunakan, kadang juga sekadar tiktektok kok (shuttlecock) saja.

Lalu, mengapa permainan badminton bagus dimainkan saat pandemi? Anak lelaki saya menjawab dengan lugas bahwa bermain badminton itu permainannya dilakukan dengan menjaga jarak, kemudian tidak berkerumun, selain itu tetap berusaha memakai masker.

Waktu mereka pun tidak bermain lama dan lebih untuk mengisi waktu dan bergembira bersama. Saya jadi belajar banyak dari kesadaran anak-anak tersebut menjaga prokes.

#2 Petak Umpet

Permainan petak umpet ini merupakan permainan tradisional yang tentunya kita mainkan juga saat masih kecil. Kalau kata anak saya, minimal ada dua anak saja tetap dapat bermain petak umpet.

Kemudian, bermain petak umpet di tengah pandemi ini semakin menantang karena anak-anak tetap menggunakan masker dan berusaha menjaga jarak. Saat mereka bersembunyi di balik pohon maupun di belakang bangunan pendopo tetap berusaha dilakukan tanpa berkerumun.

Berbeda dengan sebelum pandemi dimana rata-rata anak-anak suka bersembunyi dalam kerumunan.

Anak-anak terbiasa bermain petak umpet ini di taman depan rumah dimana relatif luas lokasinya dan terdapat pepohonan dan bangunan pendopo yang dapat jadi tempat sembunyi.

Kemudian ada satu istilah lagi dalam permainan ini yaitu 'api'. Api yang dimaksud di sini adalah ketika teman yang sedang bersembunyi tertangkap, karena diberitahu oleh teman yang sudah ditemukan terlebih dahulu dari persembunyiannya.

Mengapa petak umpet ini bagus dimainkan saat pandemi? Karena anak-anak jadi menggerakkan tubuhnya dengan berlari (melatih kemampuan motorik anak). Permainan petak umpet ini dapat tetap dimainkan dengan menjaga jarak dan tidak berkerumun, saat bermain juga harus memakai masker.

#3 Bersepeda keliling lingkungan sekitar

Tidak ada aturan khusus dalam bersepeda dan yang utama adalah tiap anak-anak membawa sepedanya masing-masing dan tidak melakukan pertukaran sepeda yang digunakan. Selain itu, bermain sepeda juga harus hati-hati, tetap memakai masker dan menjaga jarak.

Saat bersepeda juga jangan terlalu cepat jika terlalu cepat bisa terjadi kecelakaan atau terjatuh dari sepeda. Anak-anak berusaha saling menjaga dan mengingatkan satu dengan lainnya agar tidak ngebut.

Oleh karena itu, satu-satunya peraturan bermain sepeda adalah saat bermain sepeda di jalan harus mengikuti jalur sepeda yang telah diberikan.

Mengapa bersepeda bagus untuk bermain di masa pandemi? Karena mengendarai sepeda merupakan permainan yang seru dan menggerakkan tubuh anak-anak setelah setengah hari duduk bersekolah dari rumah (melatih kemampuan motorik anak).

Kemudian, bermain sepeda tetap dapat dilakukan dengan mematuhi prokes yaitu menjaga jarak dan tidak berkerumun, anak-anak pun paham bahwa saat bermain juga harus memakai masker. Istirahat duduk pun dilakukan dengan jaga jarak (sekilas pandangan mata saat saya melihat mereka).

#4 Lempar Sandal

Melempar sandal adalah salah satu permainan tradisional yang mudah dilakukan dan menyenangkan. Permainan lempar sandal dilakukan dengan mengatur sandal sedemikian rupa, sehingga anak-anak melempar dari jarak jauh yang sudah disepakati.

Mereka melakukan lempar sandal, harus memukul atau melempar sandal yang sudah ditata tadi. Permainan lempar sandal ini melatih kekompakan dalam tim dan layaknya seorang pemanah atau penembak yang mesti cermat dan tepat untuk mengenai sasarannya.

Ilustrasi gim menembak yang sering dimainkan pun berusaha diterapkan secara langsung melalui permainan lempar sandal.

Mengapa bermain lempar sandal bagus dimainkan saat pandemi? Sama dengan permainan petak umpet maupun lainnya, permainan lempar sandal dapat dilakukan dengan menjaga jarak dan tidak berkerumun, tentu saja saat bermain juga harus memakai masker.

#5 Bermain gim di handphone

Bagi anak-anak zaman sekarang, bermain handphone dapat menghilangkan kebosanan dan berinteraksi virtual dengan anak-anak lain yang berada jauh, misalnya saudara di kampung halaman maupun teman sekolah.

Menariknya lagi, anak-anak suka bermain gim secara mabar (main bareng) di salah satu rumah dengan duduk jaga jarak dan tetap mengenakan maskernya.

Saat saya gim tanya apa saja yang dimainkan bersama? Anak saya menjelaskan sejumlah gim untuk mabar. Untuk bermain gim ini, tentunya masih dalam pengawasan orang tua, terutama batasan waktu dan jenis gim yang dimainkan perlu kita ketahui juga.

Nah, ternyata anak saya pun menyadari bahwa bermain gim mesti dibatasi waktu dan tidak boleh berlama-lama. “Jika terlalu sering memainkan hp maka akan merusak mata dan akan ada efek buruk lainnya”, ujar anak saya.

Kenapa main handphone enak dimainkan saat pandemi? karena bermain gim di handphone dapat dilakukan dengan menjaga jarak dan tidak berkerumun, saat bermain juga harus memakai masker serta dapat bermain dengan teman atau saudara sebaya yang rumahnya jauh.

Tetaplah Bermain dan Jaga Prokes

Itulah lima permainan anak zaman sekarang di tengah pandemi yang direkomendasikan oleh anak lelaki kami. Pengawasan dari orang tua dan kesadaran anak untuk tetap menjaga prokes tetap menjadi kunci.

Sehingga mereka dapat bermain dalam keceriaan dan kebersamaan. Sekadar untuk usir penat dan sekadar berkegiatan setelah duduk lama dalam belajar dari rumah.

Interaksi sosial secara langsung bagi anak-anak tentunya masih tetap diperlukan, sebagai orang tua jangan bosan-bosannya untuk ingatkan anak-anak setelah bermain agar cuci tangan, bahkan mandi terutama karena sejumlah permainan dapat mengeluarkan keringat.

Itulah gambaran singkat rekomendasi permainan, tapi tetap perhatikan kondisi kesehatan di lingkungan sekitar kita. Salam sehat untuk kita semua dan mari jaga anak-anak kita, sebagai anak-anak Indonesia penerus masa depan bangsa.