Jika kamu pendaki gunung dan pecinta alam yang suka melakukan pendakian, penjelajahan, pengembaraan di alam bebas yang tersedia semua jenis halangan alam yang ekstrem, maka ada 5 kebugaran alami yang mampu menjadi modal survival terhadap pandemi Covid-19.

Inilah ke-5 modal tersebut. Yuk, simak saja!

1. VO2Max (Volume Oksigen Maksimal)

Saya sebagai pendaki gunung (hiker) dan pelari (runner) dan sekaligus penulis (writer) merasakan keganasan kombinasi tiga kata yang berafiksasi "er" tersebut, Bung!

Pertama tentang kekuatan survival VO2 max yang berhubungan langsung dengan infeksi sekunder Covid-19 yang menyerang saluran pernapasan.

Pengertian sederhana dari VO2Max (Volume Oksigen Maximal) adalah jumlah maksimum oksigen di dalam paru-paru yang dapat dimanfaatkan secara maksimal selama aktivitas tertentu oleh sesorang.

VO2Max adalah sebuah parameter yang dinyatakan dengan numerik, jadi bisa digunakan untuk melihat tingkat kebugaran tubuh, daya tahan aerobik tubuh, serta kecepatan kardiovaskular seseorang.

VO2Max diukur dalam mililiter oksigen ketika konsumsi tubuh dalam satu menit, hitungannya dalam angka per kilogram berat badan (mL/kg/menit).

Tingkat VO2Max juga berhubungan erat dengan kesehatan detak jantung. Titik terpentingnya mengacu pada kemampuan oksigen yang digunakan tubuh ketika Covid-19 mulai menginfeksi saluran pernapasan sebagai infeksi sekunder.

Latihan rutin pendaki gunung yang berupa lari jarak menengah (10K ataupun Half Marathon) dan jarak jauh (Full Marathon atau Ultra Marathon) dapat memberi gambaran penting tentang kebugaran kardiorespirasi pendaki gunung.

Rata-rata laki-laki yang tidak aktif (tidak banyak beraktifitas) memiliki VO2Max sekitar 35 hingga 40 mL/kg/menit, sedang untuk skor wanita di mana kurang gerak sekitar 27 hingga 30 mL/kg/ menit. Pelari pria kelas elite menunjukkan maks VO2 hingga 85 mL/kg/mnt, sedang pelari wanita elite telah mencetak hingga 77 mL/kg/mnt.

Nilai VO2Max pendaki dan pelari merupakan nilai mempertahankan intensitas latihan tertentu yang berhubungan dengan kebugaran sebagai modal survival Covid-19.

TIdak semua pendaki gunung mempunyai kebugaran yang sama. Kemampuan tubuh terkait dengan memanfaatkan oksigen secara optimal, dan berbeda-beda di setiap pendaki gunung.

Juga, sangat tergantung dengan gaya pendakian seperti gaya pendakian Himalayan atau gaya berlarut (waktu dan jarak tempuh sangat panjang), gaya campsite (suka berhenti dan mendirikan kemah), ataupun gaya pendakian trail runner (jarak tempuh panjang dengan waktu pendek)

2. Asam laktat sahabat pendaki

Secara medis dapat dirumuskan bahwa VO2max terjadi ketika oksigen dihirup masuk ke dalam darah melalui paru-paru. Kemudian dalam paru-paru oksigen tersebut kembali diserap dan diikat oleh hemoglobin (HB) untuk diedarkan kembali pada sel-sel otot yang bekerja.

Dengan seringnya berlatih kemampuan aerobik secara terus-menerus, maka saluran sel pembuluh darah pada tubuh akan menjadi melebar sehingga menyebabkan banyaknya oksigen yang diserap oleh otot. Makin banyaknya oksigen yang masuk ke dalam otot, maka makin kuat dan tahan lama pula kita berlatih.

Saat dalam kondisi pembakaran energi, maka kondisi asam laktat atau asam lelah di dalam otot menumpuk di aliran darah. Pendaki gunung lebih cepat menumpuk asam laktat daripada yang bisa dikeluarkan oleh yang bukan pendaki gunung.

Saat seseorang mencapai ambang laktat tersebut, seseorang akan merasakan rasa terbakar atau kram yang biasa. Itu disebut ambang laktat yang besarnya sekitar 50-80% dari VO2Max seorang atlet.

Ketika titik tersebut tercapai, seseorang hanya dapat mempertahankan aktivitas secara konstan. Tetapi tidak bisa lebih cepat lagi. Biasa berteman dengan asam laktat akan membuat daya tahan tubuh meningkat. Termasuk imunitas tubuh alami yang sangat diperlukan untuk menghentikan infeksi sekunder Covid-12. 

3. Ritual perobekan jaringan otot

Meningkatkan kapasitas dalam memanfaatkan oksigen secara maksimal adalah salah satu cara untuk membuat ketahanan dan kebugaran tubuh terhadap serangan segala penyakit. Nilai VO2Max yang lebih tinggi pada dasarnya memperpanjang titik kemampuan seseorang untuk bertahan hidup lebih lama. 

Latihan interval intensitas tinggi adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan VO2Max seseorang dan teori ini juga untuk melatih tubuh untuk bekerja pada level yang sangat tinggi untuk jangka waktu cukup lama agar mendorong atau melampaui ambang anaerob sebelum kembali ke keadaan aerobik dari aktivitas yang stabil.

Secara teoritis, latihan apa pun yang mendorong batas kita dapat meningkatkan VO2Max termasuk membangun semua otot tubuh, termasuk otot-otok yang bekerja pada saluran pernapasan yang menjadi titik serang infeksi sekunder Covid-19.

Jangan lupa, otot tidak akan tumbuh berkembang kecuali mereka terkena beban kerja yang menantang seperti meningkatkan olahraga berat. Benar, jaringan otot akan robek, tapi setelah itu akan tumbuh jaringan otot yang lebih kuat, termasuk otot-otot yang mendukung sistem pernafasan yang rentan terinfeksi Covid-19. 

4. Imunitas alami rasa kontur terjal 

Olahraga dengan intensitas sedang namun sering dilakukan atau frekuentif tinggi bisa mendatangkan aneka manfaat antara lain, merilis hormon stres sehingga menurunkan inflamasi, fungsi microbial killing, meningkatkan hemostasis (mekanisme tubuh untuk melindungi diri dari proses pendarahan, juga meningkatkan sitokin (sel imunitas tubuh) serta hormon kegembiraan (endorfin).

Kesemuanya itu adalah faktor-faktor pemicu keluarnya imunitas alami tubuh.

Salah satu keuntungan dari hormon kegembiraan (endorfin) ini adalah untuk mengimbangi dampak psikologis Covid-19 yang cenderung memberikan perasaan ketakutan, teror, dan intimidasi sehingga meningkatkan hormon kecemasan (adrenalin). Ketakutan dan kecemasan adalah biang penyebab penurunan imunitas tubuh.

Pendaki gunung yang berhasil memanfaatkan hormon kegembiraan (endorfin) dan mengontrol hormon kecemasan (adrenalin) salah satunya adalah Reinhold Messner, pendaki legendaris Itali ini sanggup memanfaatkan gagasan-gagasan Nietzsche tentang manusia sebagai Ubermensch atau manusia super (superman) dalam setiap misi gilanya.

Bahan bakar manusia super yang berupa will to power (kehendak untuk berkuasa/berhasil survive) mampu mendorongnya hingga di luar titik batas kesanggupan manusia. Misal, pendakian Everest tanpa menggunakan bantuan tabung oksigen dan mampu survival hipoksia.

Imunitas tubuh turun juga bisa disebabkan oleh rasa bosan (boredom susceptibility) yang berupa penolakan terhadap hal-hal yang bersifat rutin, berulang. Hati-hati juga dengan rutinitas di rumah akibat physical distancing dan social distancing efek Covid-19.

Pada saat seseorang individu merasa bosan, maka individu tersebut berusaha mencari cara untuk membuat mereka merasa tertarik atau segera mencari aktivitas-aktivitas baru sebagai penambahan stimulasi dan reaksi. Inilah cara tubuh menguatkan kemampuan imunitasnya.

Pencarian pengalaman baru, perilaku tanpa ikatan, juga merupakan iming-iming yang dapat mempertajam kemauan seseorang untuk melakukan sensation seeking (pencarian sensasional) yang kerap terjadi dalam kegiatan mountaineering (pendakian). Inilah modal besar bagi peningkatan imunitas alami tubuh.

5. Terbiasa tersiksa hipoksia

Hipoksia atau keadaan di mana oksigen sangat menipis. Ini adalah salah satu bentuk survival khas pendaki di ketinggian yang memang tipis oksigennya.

Covid-19 dengan infeksi sekundernya pada saluran pernapasan tentunya akan mengganggu kemampuan alveolus, kantung udara kecil yang menjadi alat kerja pernapasan.

Setiap orang memiliki sekitar 480 juta alveolus di dalam tubuhnya. Ada 170 alveoli dalam setiap 1 kubikmilimeter jaringan paru. Semuanya terletak di ujung tabung bronkiolus.

Ketika Anda menarik napas, alveolus akan melebar, untuk menyerap oksigen. Saat mengembuskan napas, alveolus akan mengecil, dan mengeluarkan karbon dioksida. Ini menjadi salah satu fungsi alveolus yang utama.

Fungsi alveolus yang utama adalah menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Oksigen yang kamu hirup, menyebar melalui alveolus dan kapiler (pembuluh darah terkecil) ke dalam darah.

Nah, di sinilah titik serang utama Covid-19 yang menginfeksi alveolus-alveolus tersebut. Andai pun sudah terinfeksi parah, masih ada sisa ruang dari Vo2Max yang cukup dipakai untuk bertahan hidup sambil menunggu imunitas alami tubuh muncul ataupun pertolongan vaksin buatan. 

Kebugaran dan daya survival terhadap hipoksia ditunjukkan oleh Reinhold Messner, pendaki gunung kawakan dunia berkewarganegaraan Itali yang mengantongi rekor pendakian 14 puncak dunia dengan rata-rata berketinggian 8.000 meter di atas permukaan laut.

Manusia normal dipastikan akan mengalami hipoksia atau mati lemas karena tipisnya oksigen di atas ketinggian 6.000 mdpl. 

Reinhold mampu berpuasa atau hemat oksigen yang manusia normal saja masih membutuhkannya sekitar 375 liter per hari. Dalam kondisi lelah karena mendaki berjam-jam, kebutuhan akan oksigen otomatis bisa meningkat 5-0 kali lipat. 

Dengan dukungan nilai VO2Max yang besar, kemampuan bertahan dalam keadaan hipoksia, serta kekuatan jaringan otot dan imunitas alami tubuh baru yang muncul, maka seorang pendaki gunung akan siap dan mampu melakukan survival terhadap infeksi sekunder Covid-19.

Menarik, bukan?