Bagi para  pencari kerja keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) sudah tidak asing lagi. BLK yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia, melalui Kementerian Ketenagakerjaan RI atau Dinas tenaga kerja setempat menyediakan berbagai macam keterampilan dan keahlian. Pelatihan ini biasa disebut dengan Pelatihan Berbasis Kompetensi. Pelatihan bisa dipilih sesuai dengan minat masing-masing calon peserta pelatihan, seperti menjahit, teknik las, teknik otomotif, teknisi HP, teknik informatika, teknik listrik, barista dan lainnya.

Selama mengikuti pelatihan di BLK,  peserta pelatihan diberikan pakaian kerja, makan siang, modul pelatihan, alat tulis, transportasi sesuai dengan kehadiran peserta pelatihan. Tentunya selama mereka mengikuti pelatihan tersebut murni dibiayai oleh pemerintah alias gratis. Jadi intinya peserta pelatihan hanya tinggal duduk manis belajar dan berlatih sesuai arahan instruktur selama pelaksanaan pelatihan.

Di akhir pelatihan bagi peserta yang lulus akan mengikuti sertifikasi kompetensi yang sertifikatnya akan dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi dan Profesi (BNSP), bagi peserta yang di rekomendasikan kompeten.

Selama pengalaman saya bekerja di BLK Padang, saya mengamati bahwa secara garis besar peserta pelatihan di BLK dapat dibagi menjadi 5 kategori:

Pencari keahlian dan keterampilan.

Peserta pelatihan kategori ini biasanya sudah mempunyai pengalaman bekerja, baik dengan usaha sendiri ataupun bekerja dengan orang lain, baik sesuai dengan bidang keahiannya ataupun tidak dan dengan alasan tertentu berhenti dari pekerjaannya. Atau ada juga peserta pelatihan yang mengikuti pelatihan untuk meningkatkan atau menambah keahlian yang sudah mereka punya.

Sebagai contoh, seorang peserta pelatihan yang mempunyai peralatan menjahit namun masih terbatas hanya bisa menjahit dasar, agar dapat meningkatkan keahlian dan kompetensinya di bidang menjahit lainnya misalnya membuat bad cover dan seprai, maka dia mendaftar masuk dan berlatih di BLK.

Contoh lain, seorang ibu yang berperan sebagai single fighter, karena suaminya meninggal dunia dan mempunyai anak-anak dan memerlukan biaya yang cukup besar. Namun mendiang suaminya memiliki usaha service sepeda motor, agar  dapat melanjutkan usaha suaminya, maka si ibu tersebut ikut pelatihan dengan mengambil jurusan Service Sepeda Motor. Dengan ikut pelatihan di BLK si ibu akhirnya lulus.  Bengkel sepeda motor milik suaminya akhirnya di jalankan dan dikelola oleh si ibu.

 

Pemburu sertifikat

Peserta pelatihan dengan kategori ini umumnya tamatan Sekolah Menengah Atas atau tamat kuliah, dan memang bertujuan untuk memperoleh sertifikat pelatihan dan sertifikat kompetensi yang dilaksanakan setelah peserta pelatihan lulus pelatihan. Sertifikat tersebut digunakan untuk menambah porto folio dalam melamar pekerjaan nantinya.

Namun tidak sedikit peserta pelatihan kategori ini yang berhasil mulus mendapatkan sertifikat. Peserta pelatihan harus mengikuti semua aturan yang sudah dibuat oleh BLK. Satu paket pelatihan biasanya menghabiskan waktu lebih kurang 30 sampai dengan 40 hari kerja. Pelatihan berbasis kompetensi ini biasanya terdiri dari beberapa unit kompetensi. Satu hari saja tidak masuk pelatihan akan mengakibatkan ketinggalan unit kompetensi, sementara pelatihan terus berjalan sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan.

Ada peserta yang di akhir pelatihan dinyatakan tidak lulus pelatihan karena sering tidak masuk, tentunya tidak menyelesaikan tugas-tugas praktik. Dia panik, menangis dan protes ke bagian penyelenggaraan pelatihan, mohon untuk diluluskan. Tentu tidak bisa.

Jadi rumusnya adalah tidak lulus itu sama dengan tidak bisa ikut sertifikasi kompetensi artinya dia belum kompeten.

Pengisi waktu luang

Peserta pelatihan kategori ini, adalah mereka yang sudah tamat Sekolah Menengah Atas berniat masuk perguruan tinggi dan belum dapat diterima. Sambil mereka mempersiapkan diri untuk melakukan tes masuk perguruan tinggi untuk yang kedua kalinya, mereka mengisi waktu luang salah satunya dengan mengikuti pelatihan di BLK.

Ibu rumah tangga, mahasiswa yang sedang cuti kuliah, atau mahasiswa yang sedang menunggu waktu wisuda banyak juga yang masuk dalam kategori ini.

Petualang

Si petualang ini adalah mereka yang sudah pernah ikut pelatihan di BLK, beberapa waktu kemudian mereka ikut pelatihan lagi dengan mengambil jurusan yang berbeda dari sebelumnya.  

Contohnya,  si A yang sudah pernah mengikuti pelatihan desain grafis beberapa waktu lalu, saat mendengar BLK sudah membuka pelatihan baru dengan nama jurusan Barista, maka si A pun ikut mendaftar pada jurusan tersebut, berharap dapat membuka usaha sendiri dengan keterampilan tersebut.

Terkadang si petualang ini ada juga yang hanya memerlukan “pemberian” dari BLK. Lumayan kan datang setiap hari dapat makan siang dan uang transport.

Tukang Coba-coba

Kategori terakhir ini merupakan peserta pelatihan yang sebenarnya belum tentu berminat dengan pilihan atau jurusan yang diambilnya. Karena banyaknya peminat yang mendaftar masuk BLK, membuat calon peserta pelatihan ragu untuk memilih jurusan yang menjadi primadona, sehingga dia memilih jurusan yang lain dan bukan merupakan pilihan favorit dan ternyata lulus.

Karena untuk masuk ke BLK harus mengikuti seleksi penerimaan peserta pelatihan, tentunya ada sesi untuk menjawab pertanyaan tulis dan wawancara. Biasanya yang akan diterima adalah calon peserta yang betul-betul berminat dengan jurusan yang dipilihnya, dan bukan hanya sekedar coba-coba.

Kalaupun peserta yang hanya sekedar coba-coba berhasil lulus saat tes tulis dan wawancara, namun biasanya saat pelaksanaan pelatihan akan kelihatan mereka kurang antusias saat mengikuti pelatihan.

***