“Wapada vaksin jenis AZ ternyata bisa menyebabkan kematian!”. “Lama tak terlihat di layar kaca, ternyata aktor tampan itu kini telah menjadi pemulung”. Mungkin kalian pernah atau sering menjumpai berbagai pernyataan seperti kalimat diatas yang mengejutkan sekaligus membuat bertanya-tanya “apa benar seperti itu?”.

Berbagai berita yang tersebar melalui media sosial seperti instagram, twitter dan whattsapp grup keluarga khususnya, rasanya cukup mudah menarik perhatian banyak orang dan tak jarang ada yang langsung percaya dengan berita yang simpang siur itu. Padahal semua hal fenomenal yang dikabarkan media maupun yang dibagikan oleh suatu oknum belum tentu valid loh.

Kabar tersebut sering disebut dengan hoax. Bukan hanya para orang tua saja yang mudah termakan hoax, kini anak muda juga sering terpancing dengan berita palsu yang muncul dari sumber yang tidak jelas asalnya. Tentu hal ini akan sangat meresahkan dan bisa membuat kegaduhan bila orang-orang masih belum bisa memilah dengan baik segala informasi yang mereka dapatkan.

Tentu ada banyak jenis hoax yang beredar di media sosial saat ini. Berikut adalah beberapa macam hoax yang sering kita jumpai

1. Fake News

Berita palsu. Berita yang berisi kebohongan tentang sesuatu hal. Penulis menyadari bahwa itu tidak benar dan justru makin berusaha membuat fake news itu viral dengan menambahkan teori aneh atau opini yang ekstrem agar pembaca tertarik & terperangkap dalam ketidakpastian itu.

2. Clickbait

Sering dijumpai judul dari sebuah konten yang tidak selaras dengan isi kontennya. Hal ini dilakukan para content creator di media sosial untuk menarik simpati orang supaya kontennya bisa dibaca atau ditonton lebih banyak lagi & tersebar luas.

3. Satir

Dalam KBBI satir bermakna bentuk komedi kebijaksanaan dan kebodohan yang ditampilkan sebagai kelucuan. Kerap digunakan untuk mengomentari isu yang sedang hangat. Bahkan tidak hanya dijumpai di media sosial, kini di televisi juga sudah ada acara serupa.

4. Propaganda

Usaha meaykinkan orang agar menganut maksud & tujuan si pembuat konten. Biasanya cenderung mengarah pada hal-hal yang setengah benar atau gosip tapi bisa juga untuk memengaruhi opini publik dengan hal-hal yang memang tidak benar.

5. Post Truth

Dalam kamus kampus Oxford hal ini diartikan sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal.

Nah kenapa sih orang-orang bisa dengan mudah percaya sama hoax? Alasan umumnya ada dua yaitu,

1. Confirmation Bias

Kecenderungan melihat sesuatu secara subjektif menjadikan kita akan lebih berpihak pada pernyataan yang mendukung opini atau pemikiran awal kita saja tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya dan mengabaikan pernyataan lainnya.

Contohnya saat kita percaya bahwa vaksin jenis AZ dapat memberikan pengaruh berbahaya bahkan sampai pada kematian, hal itu akan tertanam kuat di pikiran kita, lalu kita hanya peduli dengan pernyataan yang mendukung opini kita saja tanpa mengeksplorasi informasi secara lebih ilmiah dan netral.

2. Back Fire

Sehubungan dengan Confirmation Bias, Back Fire merupakan serangan balik. Dalam artian kita akan cenderung menyangkal bahkan menyalahkan pernyataan yang bertentangan dengan asumsi kita atau apa yang kita mau dan harapkan terhadap suatu hal.

Contohnya ketika ada suatu berita yang mengabarkan bahwa “efek samping yang ditimbulkan oleh vaksin AZ tidak semuanya berbahaya karena itu tergantung dengan kondisi tubuh masing-masing orang saat akan di vaksin”. Hal itu bagi sebagian orang yang percaya bahwa vaksin AZ bisa sampai menyebabkan kematian akan secara langsung disangkal dan akan tetap membenarkan informasi awal yang dianutnya.


Salah satu cara agar tidak terpancing & terhindar dari hoax yaitu dengan literasi digital. Dalam (Ati, 2019) dijelaskan bawha literasi digital tidak hanya mengacu pada keterampilan operasi dan menggunakan berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi, teknologi (perangkat keras dan platform perangkat lunak), tetapi juga untuk proses “membaca” dan “memahami” sajian isi perangkat teknologi serta proses “menciptakan” dan “menulis” menjadi sebuah pengetahuan baru.

Jadi selain kita harus lebih pandai menggunakan teknologi masa kini kita juga harus pandai dalam menyikapi setiap informasi yang ada dan tersebar melalui berbagai sarana teknologi khususnya pada media sosial. Maka dari itu hendaknya kita mampu menyaring segala informasi yang kita temui sebelum kita sharing ke orang lain agar jelas duduk perkara dan sumbernya.


Sumber Referensi

Ati, A. P. (2019). Peran Literasi Digital Dalam Mencegah Hoax Pada Siswa SMA. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 5(3), 48-52. https://doi.org/10.5281/jiwp.v5i3.112

Rahadi, D. R. (2017). Perilaku Pengguna Dan Informasi Hoax Di Media Sosial. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 5(1), 58–70. https://doi.org/10.26905/jmdk.v5i1.1342