Siang ini di employee dining room beredar gosip bahwa si Udin, Guest Relation Officer, sedang di approached oleh salah satu hotel bintang lima di area Seminyak. Konon katanya sudah sempat interview, dan Front Office Manager hotel tersebut terkesan dengan kualifikasi Udin.

Gosip itu rupanya sudah sampai ke telinga pak Rahmat, atasan langsung yang selama ini menjadi mentor Udin. Dengan wajah kesal pak Rahmat masuk ke office HRD dan menumpahkan seluruh keluh kesahnya kepada saya, singkatnya, pak Rahmat merasa kecewa dan dikhianati oleh subordinate yang selama ini dia bimbing dari nol, dan memilih pergi ketika sudah capable di posisinya. 

“Tidak semua employee turnover itu buruk” , begitu saya menanggapi. Sering kali perginya karyawan itu justru membawa berkah, bahkan jika yang pergi itu adalah karyawan terbaik, karena ini akan membuka kesempatan bagi karyawan junior dibawahnya untuk bertumbuh dan mencegah terbentuknya deadwood, karna terlalu lama di posisi yang sama, sehingga enggan bertumbuh. Sesi curhat kami sore itu pun berakhir dengan kesepakatan bahwa pak Rahmat akan memanggil Udin untuk sesi konseling.

Nah, belajar dari kasus si Udin, agar tidak terjadi misscommunication antara anda dan manajemen mengenai resignation, yuk kita pertimbangkan 5 hal berikut ini sebelum memutuskan untuk resign.

Apakah saya sudah bekerja di perusahaan yang tepat, di posisi yang tepat, dan memiliki career path yang sesuai? 

Jika salah satu dari ketiga pertanyaan jawabannya tidak, maka resign bisa jadi pilihan yang tepat. Sebesar apapun gaji yang anda terima, jika perusahaan tempat anda bekerja tidak memiliki budaya kerja dan value yang sesuai dengan value pribadi Anda, bekerja akan hanya terasa sebagai rutinitas, tidak ada gairah, dan hambar. 

Begitu juga dengan posisi, katakanlah anda berada di posisi yang sejak dulu anda impi-impikan, namun jika di posisi tersebut Anda tidak diberikan ruang untuk mengaktualisasikan diri, tidak diberikan wewenang untuk mengambil keputusan serta tidak dilibatkan dalam hal-hal penting sesuai dengan kapasitas jabatan Anda, maka jabatan Anda menjadi tidak berarti. 

Selain itu, career path juga menjadi pertimbangan besar. Idealnya, seorang karyawan boleh ada di posisi yang sama selama dua hingga tiga tahun agar tidak terjebak di comfort zone.

Apakah saya harus mencari pekerjaan terlebih dahulu sebelum resign?

Sebaiknya iya, karena rata-rata perusahaan di Indonesia memiliki preferensi untuk mempekerjakan seorang karyawan yang masih aktif bekerja dibandingkan dengan pengangguran. Mencari pekerjaan sebelum Anda resign akan memberikan kesan positif bahwa anda tidak memiliki masalah di tempat kerja saat ini, tapi ingin men-develop karir Anda di perusahaan lain. Namun jika lingkungan di perusahaan tempat Anda bekerja sangat toxic, atau memaksa Anda untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai regulasi pemerintah, maka tidak ada pilihan lain selain mengundurkan diri.

Siapa saja yang perlu Anda beritahu saat Anda resign?

Atasan langsung Anda, tentu saja. Sebagian besar karyawan melakukan kekeliruan dengan menganggap bahwa yang paling pertama harus di info mengenai keinginannya untuk resign adalah HRD. padahal, yang paling tahu situasi kerja anda sehari hari adalah atasan Anda. Utarakan keinginan Anda untuk resign beserta alasannya, diskusikan dengan atasan Anda apa yang menjadi permasalahan selama Anda bekerja. Dengan demikian atasan Anda akan merasa Anda menghormati posisinya sebagai mentor sekaligus orang yang bertanggung jawab terhadap kinerja Anda. Setelah terjadi kesepakatan dengan atasan Anda mengenai tanggal terakhir kerja, maka Anda atau atasan Anda bisa menginformasikan kepada HRD mengenai keinginan Anda untuk resign.

Kapan saat yang tepat untuk resign?

Waktu terbaik untuk mengajukan resign adalah saat Anda sudah mendapatkan kepastian dari perusahaan baru yang dikuatkan dengan diterbitkannya surat penawaran kerja untuk anda. Sepakati terlebih dahulu dengan perusahaan baru tersebut kapan Anda dapat bergabung, idealnya adalah satu bulan terhitung dari tanggal resign Anda di perusahaan lama. 

Berkaca pada kasus si Udin di atas,  jangan sekali-sekali memberitahukan kepada teman kerja Anda tentang keinginan Anda untuk resign, atau sedang dalam proses interview di perusahaan lain karna hal ini bisa saja menimbulkan masalah bagi Anda di tempat kerja. Tidak semua atasan cukup bijak menyikapi hal hal seperti ini, bahkan kemungkinan terburuknya, Anda akan dianggap tidak respek kepada atasan Anda karena lebih memilih membicarakan keinginan Anda untuk resign kepada teman teman Anda dibandingkan berdiskusi terlebih dahulu dengan atasan.

Apa yang harus dilakukan setelah resign?

Setelah Anda resign, Anda akan berada dalam masa “satu bulan pemberitahuan'' atau yang lebih sering disebut dengan periode one month notice. Di periode ini yang harus menjadi fokus Anda adalah handover pekerjaan. Jangan menyusahkan atasan atau rekan kerja pengganti Anda dengan proses handover yang tidak clear, karena hal ini akan menjadi masalah bagi Anda ke depannya. Anda akan tidak fokus bekerja di perusahaan baru karena banyak ditelpon oleh perusahaan lama untuk menanyakan ini dan itu. 

Selain itu, selama Anda dalam periode one month notice, jaga hubungan baik Anda dengan atasan dan rekan kerja Anda karna mereka akan menjadi networking Anda di masa yang akan datang. Salah satu kekeliruan pekerja saat ini adalah burn the bridge atau memutus hubungan dengan tempat kerja sebelumnya. Padahal, pada saat Anda nantinya bekerja di tempat yang lain lagi, perusahaan Anda yang baru akan tetap menggali informasi tentang kinerja anda di tempat lama. Akan lebih mudah bagi Anda untuk mendapat review positif dari perusahaan lama Anda jika Anda masih menjaga silaturahmi.

Setelah membaca  5 hal tersebut diatas, kini saatnya anda membuat keputusan, tentunya sudah tidak galau lagi kan?. Penting untuk disadari bahwa setiap keputusan yang Anda buat pasti akan memiliki konsekuensi. Siapkan diri anda untuk segala konsekuensi yang mungkin terjadi, dan bertanggung jawablah atas apa yang anda putuskan.