Boikot Pemilu! Boikot Pemilu! Boikot Pemilu! Pekikan tersebut begitu menggema di ruang sidang menjelang putusan hakim terkait insiden kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli). Insiden tersebut diduga dipelopori oleh Budiman Sudjatmiko.

Bagi sebagian orang, terutama generasi milenial, nama Budiman Sudjatmiko mungkin hanya dikenal sebatas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Namun, bagi generasi X (apalagi mereka yang aktif dalam gerakan reformasi), nama Budiman Sudjatmiko terdengar begitu dahsyat dan hebat.

Hal tersebut tidaklah mengherankan, mengingat catatan perjuangan dan perlawanan yang ia torehkan. Dengan mendirikan Partai Rakyat Demokratik, ia mampu menghajar orde baru dengan sejumlah kritik.

Partai Rakyat Demokratik (PRD) sendiri ia dirikan pada tahun 1996. Dalam perkembangannya, PRD tidak memiliki wakil langsung dalam parlemen. Namun, PRD tetap konsisten melakukan perlawanan terhadap rezim orde baru dengan penggalangan massa serta gerakan ekstraparlementer.

Gerakan PRD dilokomotifi oleh sejumlah intelektual muda, satu di antaranya adalah Budiman Sudjatmiko. Kiprahnya bersama dengan PRD kian menggema setelah meletusnya insiden 27 Juli 1996. Insiden tersebut memicu bentrokan antara aparat dengan aktivis pergerakan. Banyak yang ditangkap, dan tidak sedikit yang dihilangkan.

Akibat dari peristiwa tersebut, Budiman Sudjatmiko yang diduga menjadi provokator harus divonis penjara selama 13 tahun. Namun tidak lama kemudian, kemenangan gerakan reformasi pada tahun 1998 membawa angin segar bagi Budiman. Pada 10 Desember 1999, ia diberikan amnesti oleh Gusdur dengan hanya menjalani masa tahanan selama 3,5 tahun.

Pasca bebas dari tahanan, Budiman Sudjatmiko melanjutkan studi keluar negeri. Dan pada tahun 2004, sekembalinya dari luar negeri, ia memutuskan untuk bergabung dengan PDI Perjuangan dan membentuk Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM).

Dalam deklarasi pembentukan Repdem, Budiman Sudjatmiko menyampaikan ide, gagasan, serta gebrakan yang akan ia lakukan untuk merawat keberlanjutan demokrasi. Dan ia juga menegaskan bahwa PDI Perjuangan bukan sarana untuk memperoleh atau bahkan memupuk kekayaan.

Hingga kini, Budiman Sudjatmiko masih tetap eksis sebagai politisi PDI Perjuangan. Program dana desa merupakan manifestasi dari proyek perjuangan Budiman di bidang legislasi. 

Namun, di balik kiprahnya sebagai politisi, Budiman Sudjatmiko bisa dibilang merupakan paket komplet dalam hal pemikiran dan tindakan. Ketika politisi lain hanya berbicara soal politik, bertingkah laku nyentrik, dan mengekor atasan layaknya itik, ia mampu berpikir hal-hal di luar konteks politik. Berikut beberapa hal tersebut.

Melek Sains dan Teknologi

Baca Juga: PRD, PKS dan PSI

Melek sains dan teknologi di sini tidak hanya sekadar dilihat dari keaktifan Budiman Sudjatmiko di sejumlah media sosial, meski sebenarnya ia hanya aktif banget di Twitter. Tetapi, justru dari keaktifannya ngetweet tersebut kita bisa melihat bagaimana pemikiran dan pemahaman sesorang.

Tweet Budiman Sudjatmiko seputar mekanika kuantum, fisika kuantum, rekayasa genetika, big data, artificial intelligence setidaknya memberi kita gambaran bahwa ia pernah membaca teori-teori sains. Lantas apa yang kerap ia jadikan rujukan untuk hal-hal tersebut? Ya jelas, Trilogi Yuval yang sudah pasti kalian kenal.

Dalam berbagai kesempatan serta cuitan, Budiman Sudjatmiko sering mengajak pengikutnya untuk membaca buku-buku karya Yuval Noah Harari. Ia pun pernah menyampaikan bahwa sepanjang perjalanan hidupnya (lebih tepatnya pergulatan intelektualnya), hanya ada 2 buku yang membuatnya kagum dari segi filosofis hingga mampu dijadikan referensi untuk tindakan konkrit. Buku-buku tersebut adalah “Di Bawah Bendera Revolusi” serta Trilogi karya Yuval Noah Harari.

Bahkan, Budiman Sudjatmiko juga pernah menjadi pembicara dalam diskusi Sains Underground yang membedah bentang pemikiran Yuval dalam triloginya. Dalam diskusi tersebut, ia menyampaikan perihal imajinasi, teorima matematika, dan big data yang bakal mengubah kehidupan kita ke depan.

Bila tidak mengorganisasikan massa, tentu bukan Budiman Sudjatmiko namanya. Pemikiran, gagasan, serta tindakan konkret seputar kemajuan sains dan teknologi ia kembangkan dengan mendirikan Inovator 4.0 pada tahun 2018.

Menurut Budiman Sudjatmiko, Inovator 4.0 dibentuk untuk mewujudkan kehidupan masyarakat cerdas, hidup layak, serta mampu menjawab tantangan revolusi industri. Logo yang dipilih mungkin terkesan sederhana namun mengandung makna yang luar biasa, yakni lambang perkalian (×) dan pembagian(:).

Yah, saya rasa Budiman Sudjatmiko telah berhasil mengenalkan sains secara asik. Pokoknya bicara hal-hal yang futuristik itu harus asik.

Pendukung Fanatik Real Madrid

Barangkali tidak sedikit politisi yang berbicara bola dan klub idolanya, namun Budiman adalah yang paling vokal di antaranya. Lantas klub mana yang menjadi idolanya? Gamba Osaka? Guangzhao Evergrande? atau Jeongbuk Hyundai Motors? Oh ternyata bukan itu semua. 

Klub idola Budiman Sudjatmiko adalah klub asal Spanyol yang pernah menjuarai liga champion sebanyak 13 kali. Ya, klub idolanya tidak lain dan tidak bukan adalah Real Madrid

Saya kira dengan pengalaman sebagai aktivis gerakan reformasi, ia bakal punya selera tersendiri dalam megamati dunia sepak bola. Sempat terlintas dalam pikiran saya, barangkali seorang Budiman Sudjatmiko akan mengidolakan klub S.S Lazio beserta manifesto fasismenya Benito Musolini.

Tapi saya kembali teringat, bahwa Budiman Sudjatmiko kerap melontarkan kritik dan peringatannya terhadap bahaya fasisme. Dan sekarang terjawab sudah bahwa mungkin ia anti terhadap Lazio di Serie A dan Schalke di Bundesliga.

Menengok obsesinya seputar kesetaraan serta keadilan, saya rasa ia juga tidak akan begitu suka dengan derbi Glasgow Celtic melawan Glasgow Rangers. Karena hal tersebut dipengaruhi oleh sentimen agama antara kedua klub, dominasi Katholik melawan perjuangan pengakuan Protestan.

Tetapi yang menjadi menarik untuk diperbincangkan, mengapa Budiman Sudjatmiko mengidolakan Real Madrid yang merepresentasikan kaum borjuis atau si kaya? Wah ini jelas bahaya ketika bakal menjadi keberpihakan perumusan kebijakan apabila kebijakan hanya dibuat untuk memenuhi nafsu serta keserakahan si kaya.

Penikmat Kuliner Lokal

Melihat penampilan Budiman Sudjatmiko yang awet muda, faktor pemilihan makanan tentu jadi salah satu kunci utama. Di berbagai cuitan, ia kerap mengunggah foto menu makanannya. Beberapa yang saya ikuti kebanyakan adalah menu ikan asin sambel dan lalapan, pisang rebus, telo rebus, dan tahu tempe.

Dan yang paling penting, Budiman Sudjatmiko tetap mengutamakan menu masakan rumah. Bagaimanapun juga masakan istri, ibu, dan nenek adalah yang terlezat. Itu tidak bisa diganggu gugat.

Berbeda dengan presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang lebih menyukai makanan-makanan cepat saji. Obesitas, gula, kolesterol, omongan tetangga bakal menghantui. 

Terkhusus omongan tetangga, biasanya mereka bakal melontarkan kritik pedas terhadap istri yang dinilai gagal menjalankan program ketahanan pangan rumah tangga. Dan itu jelas meresahkan.

Selera Musik yang Unik

Setelah lebih dari 2 tahun mengikuti Twitter Budiman Sudjatmiko, saya juga kerap melihat cuitan-cuitan seputar musik yang menjadi favoritnya, baik di masa kecil, masa muda, hingga dewasa. Gosudarstvenny gimn SSSR, Internationale, atau La Marseillaise saya kira bakal menjadi trending topic.

Tetapi nyatanya Budiman Sudjatmiko lebih kerap membagikan lagu-lagu Obie Mesakh, Indra Lesmana, Mus Mulyadi, hingga Oasis. Lagu yang selalu ampuh untuk membawa kembali ingatan ke masa muda.

Tak jarang ia juga membagikan momen bersamanya ketika sedang bernyanyi bersama kawan-kawannya. Dari kualitas suara si ya bagus-bagus aja. Sebenarnya ia sedikit punya bakat di dunia tarik suara. Memang Arditho Pramono 2.0 ini istimewa.

Bagaimanapun, kiprah dan pemikiran Budiman Sudjatmiko selalu menarik untuk kita ikuti dan tentunya boleh kita kritisi. Budiman merupakan contoh politikus dengan paket komplet, karena ia tidak hanya piawai dalam urusan politik saja. Obsesinya seputar keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan telah berhasil ia realisasikan.

Tetapi tentu risiko sebagai seorang aktivis yang terjun di dunia politik juga harus menanggung risiko dikritisi oleh aktivis-aktivis lain. Bukan berarti bahwa seorang Budiman Sudjatmiko yang notabene merupakan mantan aktivis reformasi lantas ia tidak bisa dikritisi.