Revolusi Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan tahun 2011 oleh German Industry – Science Research Aliance. 

Visi Revolusi Industri 4.0 menggambarkan realisasi dari Internet of Things yaitu merealisasikan kemampuan beradaptasi yang tinggi. 

Dalam kehidupan sekarang Gojek bisa dijadikan sebagai contoh aplikasi di era 4.0 yang hanya dalam hitungan bulan telah mengubah pola hidup masyarakat.

Dengan aplikasi itu masyarakat menjadi ketergantungan karena dimudahkan dalam bertransportasi dan transaksi pembelian barang.  

Namun, walaupun banyak peluang dan dampak positif yang didapat dari Revolusi Industri 4.0 bukan berarti tidak ada dampak negatifnya.

Selain persebaran hoaks, pengangguran juga menjadi masalah besar jika di era ini sumber daya manusia yang dimiliki tidak mempunyai soft skill yang mumpuni. 

Bahkan persebaran hoaks dan kebohongan yang terus terjadi, apabila dibiarkan bisa memicu konflik dan kegentingan nasional.

Oleh karena itu, kecepatan merespon hal tersebut sangatlah penting. Kita membutuhkan sesuatu yang bisa diaplikasikan secara nyata.

Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dibutuhkan generasi yang mempunyai sikap religiositas.

Panggabean (2014) menyatakan  bahwa untuk menghadapi tantangan global di Indonesia, maka kompetensi pertama yang harus dimiliki yaitu religiositas.

Artinya religiositas menjadi pondasi utama seseorang berpikir, berperasaan, dan bertidak dalam bekerja.

Prophetic softkills sebagai keterampilan soft yang mendasari seseorang bekerja dengan berpedoman pada diri seorang Rasul Muhammad SAW.

Dengan menjadikan Rasulullah sebagai pedoman, seorang muslim akan bekerja unggul sesuai dengan tantangan zaman termasuk era Revolusi Industri 4.0.

Bahkan Antonio (2013) mengembangkan empat keteladanan utama propethic dalam bentuk kompetensi.

Keteladanan tersebut meliputi: excelence (sidiq), inter-personal kapital (amanah), profesionalism dan competence (fathanah), serta communicative (tabligh). 

Mengapa Harus Memiliki Empat Sifat Rasul?

Seiring berkembangnya zaman  tentunya akan muncul permasalahan-permasalahan yang kompleks. 

Oleh karena itu, manusia harus menyiapkan segala hal agar posisinya tetap diperhitungkan.

Meningkatkan kualitas pengetahuan, ketrampilan, sikap, kepribadian, dan perilaku tentu menjadi hal yang mutlak.

Namun disisi lain meningkatkan kecerdasan IQ, EQ dan SQ juga menjadi faktor lebih.

Kecerdasan intelektual dan emosional akan lebih efektif jika disertai dengan kecerdasan spiritual. 

Akhlak mulia merupakan aspek penting dalam mendidik seseorang. Bahkan suatu bangsa yang berkarakter juga ditentukan oleh tingkat akhlak bangsanya.

Pembentukan watak itu dapat dikatakan sebagai upaya membentuk karakter. Karakter adalah hal yang sangat penting bagi setiap orang. 

Tanpa karakter seseorang dengan mudah melakukan sesuatu apapun yang menyakiti atau menyengsarakan orang lain.

Oleh karenanya, kita harus membentuk karakter agar bisa mengolah diri kita dari hal-hal negatif.

Karakter yang terbangun nantinya dapat mendorong perilaku manusia dalam mengerjakan sesuatu. 

Mengingat pentingnya karakter dalam membangun sumber daya manusia yang kuat, maka perlunya pendidikan karakter yang dilakukan dengan tepat.

Dapat dikatakan bahwa pembentukan karakter merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. 

Oleh karena itu, diperlukan kepedulian oleh berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, masyarakat, keluarga, hingga sekolah.

Kondisi ini akan terbangun jika semua pihak memiliki kesadaran bersama dalam membangun pendidikan karakter.

Idealnya pembentukan atau pendidikan karakter diintegrasikan ke seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan sekolah. 

Kita bisa lihat bahwa empat sifat Rasul menunjukan pendidikan karakter, akhlak dan soft skill yang mampu membuat seseorang lebih berkualitas. 

Konsep yang meliputi As Sidiq (integritas), Al Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), Al Fathamah (cerdas) dapat diterapkan di berbagai bidang. 

Tentu sifat ini juga dapat diterapkan di bidang teknologi. Hal ini bisa membantu kita bagaimana  untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. 

Jika kita mampu mengaplikasikan  sifat tersebut menjadi solutif, maka Revolusi Industri 4.0 akan kita hadapi dengan mudah. 

Bagaimana Caranya Empat Sifat Rasul Bisa Menjadi Solusi Alternatif Untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0?

Soft skill digambarkan sebagai perilaku unggul dalam mengelola diri personal dan antar personal. 

Dalam islam manusia yang menjadi role model atau uswatun hasanah yang dianggap manusia unggul dan ideal adalah Nabi Muhammad SAW.

Banyak literatur yang menyebutkan bahwa Rasul Muhammad SAW memiliki atribut kunci yang menjadi ciri-ciri beliau.

Atribut kunci nabi Muhammad adalah: sidiq, amanah, tabligh dan fathanah. 

Sidiq adalah sebuah kenyataan yang benar tercermin dalam perkataan, perbuatan dan tindakan batinnya.  

Bahkan kunci/soft skill yang dicari perusahaan menurut National Association Of Colleges and Employers (NACE) nomor dua adalah integritas atau kejujuran.

Apabila setiap orang yang ingin aktif dalam perkembangan teknologi mempunyai sifat sidiq, tentu ia akan merealisasikannya dengan perbuatan.

Amanah yaitu kepercayaan yang harus diemban dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan penuh komitmen, kerja keras, dan kompeten.

Ketika sudah mengaplikasikan sifat sidiq dan idenya mengalami kegagalan, tentu sifat amanah harus dipakai agar kita terus bekerja keras mewujudkan ide yang ada.

 Sedangkan tabligh (menyampaikan) itu memiliki tiga poin: amar makruf nahi mungkar, komunikasi efektif, dan asertif. 

Setiap manusia hidup maka akan membutuhkan bantuan orang lain, oleh karenanya kita harus menyampaikan (tabligh) gagasan kita. 

Dengan demikian, penyampaian ini akan bisa menggaet berbagai pihak yang dapat membantu kita. Sehingga gagasan tersebut terlaksana. 

Kita juga harus menjalin komunikasi yang efektif dan aserif kepada pihak yang bersangkutan.  

Memastikan bahwa gagasan yang kita miliki bersifat amar makruf nahi mungkar juga tak boleh dilupakan.

Sifat yang terakhir yaitu Fathanah. Pengertian fathanah sendiri  meliputi beberapa butir didalamnya. 

Memiliki kemampuan adaptif di berbagai zaman, memiliki kompetensi unggul, serta memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual.

Apabila sifat sidiq, amanah, tabligh sudah dijalankan. Maka manusia memerlukan sifat fathanah agar bisa konsisten dalam mengatasi perubahan zaman.

Dengan meneladani sifat ini, seseorang akan menjadi generasi unggul karena terus mau belajar dan mengembangkan kreatifitas yang dimiliki. 

Sehingga mereka dapat menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan memanfaatkan peluang yang ada dan meminimalisir ancaman yang akan terjadi.