Mahasiswa
2 minggu lalu · 85 view · 5 min baca menit baca · Pendidikan 79327_97305.jpg
Dok. Pribadi

4 Poin dari Pemulung untuk Kamu Mahasiswa

Seminggu ini sedikit banyak telah memberi banyak pelajaran emas; tentang sisi kehidupan yang berbeda di tengah hiruk pikuk kehidupan kota. Meski tak seluas Jakarta dari segi demografi, Pontianak dengan sejumlah penduduknya tak kalah menyimpan segudang kisah yang mesti dicerna oleh anak muda seperti daku.

Sungguh tak terasa, perguliran waktu bak mengengkol sepeda dengan kekuatan ekstra dan menguras seluruh sendi organ tubuh. Nyatanya tak seperti itu, agak hiperbola memang. Analogi berlebihan yang boleh dikata sekadar pemanjang tulisan. Agar durasi membacanya menguras secuil waktu.

Maksudku soal kuliah. Rasanya baru kemarin pagi diospek senior, disiram air mineral di wajah lesu nan ngantuk, atau diteriak-teriaki tidak jelas.

Tetiba, sekarang sudah di akhir semester enam. Kuliah Praktik Lapangan (PKL) sedang dilaksanakan. Seusai ini ada lagi Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Dan ini adalah asal muasal tulisan ini dihadirkan.

Seminggu lepas, kekalutan terjadi di masa-masa pembekalan PKL. Pasalnya, lokasi PKL yang menurut sebagian mahasiswa tidak sesuai jurusan. Ada pula satu-dua mahasiswa saling olok karena tempat magang jauh dari jangkuan disiplin ilmu mereka sendiri. Entah, sungguh aku tidak begitu memedulikan itu.

Sebab, kami sendiri yang memilih lokasi PKL, bukan pihak kampus. Sedang mereka yang protes, mengikut bagaimana maunya kampus. Harusnya legawa. Ya iya, sehebat-hebatnya mereka protes, tidak juga mengubah situasi.

Mohon maaf jika tulisan ini tampak egois atau apa. Jujur, aku lebih enak menulis semacam ini. Rasanya mengalir saja tanpa beban. Boleh jadi karena aku terlalu sering nongkrong di mojok.id dan qureta.com.


Jadi soal judul di atas, sumber inspirasinya memang datang dari pemulung. Beberapa hari ini, di tempat kami magang, Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), memang sedang menggalakkan pembagian fidiah kepada pemulung. Kami selaku mahasiswa magang diperintahkan mencari dan menyalurkan.

Dari berbagai tingkah pola seorang pemulung, ada sedikit poin yang menurut hematku bisa dibagikan ke khalayak. Sebagai mahasiswa bukan aktivis yang terjun langsung ke lapangan serta koar-koar menggunakan toa demo mengeluarkan aspirasinya, tulisan adalah media alternatif orang-orang seperti kami.

1. Pemulung Itu Rajin

Jam kantor Lazismu beroperasi pukul 08.00-15.00 WIB, otomatis ketika magang kami mengikut prosedur. Ditugasi mencari pemulung seantero Pontianak (kalau bisa) pukul 09 teng-teng. Jam segitu sudah jelas para pengais rezeki ini hampir pada pulang ke rumahnya. 

Benar saja, sejauh mata memandang, sekuat tangan mengegas, hanya satu orang yang kami jumpai. Padahal bak-bak sampah banyak berdiam kaku di tepi jalan. Itu seharusnya tempat mereka bekerja menghidupi keluarga.

Kami menjumpai pemulung perempuan sedang mengayuh sepeda. Ketika ia berhenti istirahat sejenak, kami mengobrol sedikit. Lalu izin membontoti hingga rumahnya.

Buk Fatmawati namanya. Beranak empat, bersuami satu. Cerita punya cerita, sejak pukul empat subuh, ia mulai mengengkol sepedanya ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Jarak dari rumahnya sekitar 10 km. Pulang lagi ke rumah pukul sembilan pagi.

Sudah. Sampai di situ tampak bagaimana mereka bisa dikatakan rajin. Selain Buk Fatma, aku sangat yakin ada yg lebih subuh daripadanya. Jangan panjang-panjanglah. Itu cukup bukti bahwa mereka rajin. Apalagi ketimbang mahasiswa yang banyak molornya.

2. Mereka Pantas Dibantu dan Tidak Dibantu

Kalau Buk Fatma sendiri masih cukup layak dibantu. Karena menurut ceritanya, menyekolahkan anak terkendala biaya, suami tukang bangunan serabutan yang gajinya tak menentu. Rumahnya juga boleh dikata memungkinkan. Sungguh begitu, dia punya TV sebagai hiburan. Pada intinya, bisalah dibagikan fidiah.

Pemulung yang lain lebih miris. Namanya Bapak Nopa. Yang ini benar-benar tinggal di gerobak dekat TPS. Anaknya dua: perempuan umur 10 tahun kena sakit TBC dan laki-laki umur 8 tahun. Keduanya tak sekolah, kerjaannya minta-minta. 


Bayangkan tinggal di gerobak. Dulu bahkan lebih parah, tidur di bawah pohon beralas kasur bekas. Jelas, ini sangat pantas dibantu. 

Menurut kisahnya, tidak ada pantauan dari pemerintah terkait kondisinya yang begitu. Yang sabar, pak. Mana tahu lewat tulisan ini tergerak hati pemerintah. Iya kalau dibaca. Tapi mustahillah. Ini hanya esai biasa. Hiburan tersendiri bagi penulisnya.

Nah, yang ini sedikit lucu. Tapi tidak selucu komedian. Pengemis di masjid, kerjaannya setiap hari menjaga cangkir bekas air mineral (tempat uang) di waktu zuhur dan asar. Tapi penghasilannya Rp100.000 - Rp200.000. Kalah dari penghasilanku sebagai karyawan martabak. 

Anaknya satu, tidak sekolah. Kalau dipikir mendalam, rasa-rasanya tidak dibantu pun tak mengapa.

Ada lagi di sekitaran Tol Landak, tepatnya perumahan sebelah kanan kalau dari arah Tanjung Raya. Setelah survei, kami menyaksikan di situ banyak rumah-rumah kumuh nan tua. 

Tapi di balik semua itu, tersimpan di dalamnya barang-barang yang bisa disebut mewah. Sederer TV, kulkas, kipas angin, bahkan sekaliber android berkelas mereka mainkan saban hari.

Pada intinya, pemulung atau pengemis yang berkeliaran di sekeliling kita belum tentu mereka tidak mampu. Tidak sedikit memiliki kecukupan yang lebih daripada kita. Hanya kita cenderung melihat dari luarnya saja. 

Namun, juga banyak pemulung atau pengemis yang betul-betul untuk makan sehari saja susah payah membanting tulang. Kesimpulan sederhananya, survei dulu sebelum membantu supaya indah kesudahannya.

3. Mereka Punya Loyalitas Tinggi

Sedikit mengorek-ngorek informasi dari salah satu di antara mereka, sama saja antara pemulung atau pengemis, keduanya memiliki daerah operasi sendiri. Aturan ini selalu dipatuhi, mereka memiliki kesetiaan tinggi terhadap sesama.

Dalam kata lain, ada sistem zonasi dalam ranah pengemisan dan pemulungan ini. Mereka juga menamakannya daerah rezeki. Masing-masing porsi area kerja sudah terbagi, tidak boleh diganggu gugat.


4. Pahlawan Kesehatan Bangsa tanpa Tanda Jasa

Ini poin penting yang pada dasarnya banyak diabaikan. Paradigma masyarakat mendengar pemulung atau pengemis cenderung negatif. Pekerjaan yang memalukan, kotor, pencuri perabot, menjijikkan, serta carut-marut lain. Meski dalam tanda kutip tidak semuanya.

Manakala dipandang dari sudut positif, hakikatnya mereka adalah penyehat bangsa. Pikirkan saja seandainya tidak ada yang memungut sampah, terutama botol minuman, besi berkarat, botol kaca, dan barang lain yang bisa dijual., menumpuk di mana-mana, bukan? Apalah lagi kalau tidak ada petugas kebersihan.

Di TPS atau TPA pun sama. Kalau bukan pemulung yang memungut barang-barang itu, penuh sampah ini desa.

Nah, dari sini sudah kelihatan fungsi pemulung. Mereka berkontribusi mengurangi volume sampah yang jika dibiarkan bakal menumpuk dan bau. Pada gilirannya menimbulkan beragam penyakit.

Setidaknya pemulung berperan penting dalam meminimalisasi penyakit. Tanpa perlu digelari dokter, mereka berlapang dada bekerja untuk semua itu. Mereka tak juga menginginkan tanda jasa atas setiap tetesan peluhnya. Mereka adalah pahlawan kesehatan tanpa tanda jasa.

Mari belajar dari pengemis dan pemulung makna kehidupan ini. Sesungguhnya barang siapa yang belajar dari mereka, itu sangat lebih berfaedah dibanding belajar dari kekecewaan atas pengkhianatan perempuan dambaanmu yang lebih memilih sahabatmu sendiri daripada dirimu.

Artikel Terkait