Pamali atau biasa yang disebut juga pantangan merupakan suatu mitos atau kepercayaan yang diyakini masyarakat mengenai suatu larangan tertentu. Larangan ini bersifat mengikat dan biasanya diselingi dengan suatu konsekuensi tertentu jika melanggarnya.

Pamali menjadi suatu konsensus yang telah lama melekat di kehidupan masyarakat. Entah dimulai sejak kapan atau asal mulanya bagaimana mengenai hadirnya pamali, yang pasti yakni pamali telah eksis dan diyakini oleh beberapa masyarakat.

Pamali ini sering ditemui di masyarakat yang bertipikal tradisional. Mereka masih amat meyakini dengan konsensus yang ada dalam pamali. Saking yakinnya, pamali menjadi suatu sakralitas tertentu yang ada di masyarakat.

Hadirnya pamali tentu saja tidak hanya sekedar melarang ini-itu saja. Melainkan ada suatu pesan yang ingin disampaikan di dalamnya. Di balik larangan dan konsekuensi yang ada di dalam pamali, terdapat nilai-nilai moralitas di baliknya.

Terdapatnya nilai moralitas dalam suatu pamali menjadikannya media pendidikan moral yang nyata dalam kehidupan masyarakat. Secara tidak langsung, melalui pamali tersebut, masyarakat telah mendidik generasi ke depan untuk berperilaku lebih bermoral.

Nilai-nilai moralitas yang terdapat di dalam pamali inilah yang perlu kita sadari bersama. Mungkin pamali dianggap sebagai mitos belaka oleh masyarakat modern saat ini. Namun, perlu dipahami bahwa nilai moral di balik pamalilah yang harus terus diemban oleh masyarakat.

Terdapat beberapa pamali yang sering didengar di masyarakat dan memiliki nilai moralitas di dalamnya.

Jangan membuang nasi, nanti nasinya nangis.

Pamali ini sering didengar ketika ada seseorang yang tidak menghabiskan nasinya ketika makan. Ditambah nasi yang tidak habis tersebut dibuang secara sia-sia. Amatlah disayangkan jika suatu barang yang seharusnya bermanfaat tapi disia-siakan begitu saja.

Pamali ini memuat suatu larangan yang begitu tegas tampaknya, bahwa kita dilarang untuk membuang nasi secara cuma-cuma. Konsekuensinya yakni nasinya akan menangis karena dibuang.

Memang tidaklah logis ketika ada nasi yang menangis. Bahkan terkesan aneh tampaknya. Malah menurut saya lebih mirip seperti cerita fiksi yang menampilkan kisah sedih seorang nasi yang dibuang oleh pemiliknya.

Namun yang terpenting dalam pamali ini yakni nilai moralitas di dalamnya. Melalui pamali ini memberi pesan pada semua orang bahwa ketika kita sedang makan maka makanan tersebut harus selalu dihabiskan.

Jika makanan tidak mungkin habis, maka bisa diberikan atau dikelola kembali yang lebih bermanfaat seperti diberikan ke makanan hewan. Sehingga tidak tersisa sedikit pun makanan yang terbuang dengan sia-sia.

Melalui tindakan tersebut, secara tidak langsung kita telah menghargai semua orang yang telah berjuang menyajikan makanan tersebut. Mulai dari tukang masak, penyaji, bahkan para petani yang menanam padi.

Melalui pamali tersebut juga secara tidak langsung kita diajarkan bahwa bagaimana kita menghargai setiap orang yang telah memberikan manfaat kepada diri kita. Melalui tindakan kecil seperti menghabiskan makanan, kita telah melakukan tindak moralitas yang adiluhung.

Jangan duduk di depan pintu, nanti jodohnya menjauh.

Sebetulnya ada beberapa versi yang saya pernah dengar mengenai pamali ini. Ada yang mengatakan bahwa “Jangan makan di depan pintu, nanti jodohnya jauh.” Ada juga yang mengatakan bahwa “Anak perawan jangan duduk di depan pintu, nanti jodohnya jauh.”

Entah mana yang paling populer mengenai versi pamali ini, namun setidaknya ada titik tengah di antara. Jika ditarik benang merah dari berbagai versi pamali ini bahwa kita dilarang untuk duduk di depan pintu, karena dapat menjauhkan jodoh.

Lagi-lagi pamali tetap akan berkutat pada mitos klasik di masyarakat. Begitulah pamali dengan alur logikanya. Ia memunculkan pernyataan larangan dengan bumbu konsekuensi ketika larangan itu dilanggar.

Namun, di balik pernyataan pamali memuat nilai moral yang ingin disampaikan. Salah satunya pamali larangan duduk di depan pintu ini.

Pamali ini memerintahkan agar tidak duduk di depan pintu. Alasannya bukan karena dapat menjauhkan jodoh. Namun lebih tepatnya agar orang yang keluar masuk pintu tersebut tidak terganggu aktivitasnya.

Melalui pamali kita telah diajarkan bahwa agar tidak menganggu aktivitas orang lain dengan aktivitas pribadi kita. Melalui makan di tempat yang semestinya tidak di depan pintu maka secara tidak langsung kita tidak sedang mengganggu aktivitas orang lain seperti lalu-lalangnya orang keluar masuk pintu.

Jangan duduk di atas bantal, nanti bisa bisulan.

Pamali berikutnya tentang larangan duduk di atas bantal. Katanya dapat membuat bisul di bokong jika melanggarnya.

Terlihat menakutkan dan menggelikan sepertinya ketika konsekuensi itu benar-benar terjadi. Sebab, kehadiran bisul di bokong sangat tidak mengenakkan dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, salah satunya yakni duduk akan menjadi tidak nyaman.

Namun, syukurnya konsekuensi yang ada dalam pamali ini hanyalah mitos klasik masyarakat tradisional untuk menakuti orang lain agar tidak duduk di atas bantal.

Memangnya kenapa sih duduk di atas bantal dilarang?

Perlu diketahui bahwa masyarakat tradisional memegang teguh nilai-nilai moralitas kesopanan. Sedangkan duduk di atas bantal dianggap sebagai tindakan yang kurang sopan.

Sebab, bantal menurut masyarakat tradisional digunakan untuk kepala sebagai alas untuk tidur. Sehingga kurang tepat tampaknya ketika wadah kepala digunakan untuk wadah bokong.

Oleh karena itu, muncullah pernyataan pamali larangan duduk di atas bantal ini. Ditambah pernyataan konsekuensi sebagai penegasan agar tidak ada yang melanggar pamali tersebut.

Sadar atau tidak, melalui pamali ini kita telah diajarkan tentang bagaimana menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Salah satunya yakni jika bantal untuk kepala maka tidak boleh untuk bokong. Ketika sesuatu ditempatkan sesuai dengan tempatnya, maka kehidupan dapat berjalan dengan seimbang dan tertata dengan rapi.

Jangan bersiul di malam hari, nanti bisa mengundang hantu.

Pamali yang terakhir ini tampaknya begitu seram. Sebab dibubuhi dengan mengundang hantu di dalamnya.

Namun seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa alur logika pamali memang memuat konsekuensi hukuman yang mengikat. Bahkan hukuman tersebut terkesan menyeramkan.

Pamali larangan bersiul di malam hari ini bukannya tanpa alasan. Justru pamali ini berlandaskan nilai moral yang mendalam.

Bersiul di malam hari bukan berakibat mengundang hantu, ibarat ritual pemanggil setan seperti di film-film. Namun bersiul di malam hari dapat mengganggu tidur malam masyarakat sekitar. Ditakutkan suara siulan tersebut dapat membangunkan orang yang tidur nyenyak.

Malam hari merupakan waktu untuk tidur. Sehingga kurang amat patut untuk membunyikan suara yang mampu mengganggu orang tidur seperti bersiul.

Melalui larangan ini kita telah ditekankan bahwa sangat tidak boleh untuk mengganggu kenyamanan orang lain. Menghormati, menghargai dan memberi kenyamanan untuk orang lain merupakan etika yang harus dilakukan dalam bermasyarakat.