Ungkapan sastra siber memang asing di telinga banyak orang, namun bagi yang mendalami bidang sastra pastinya sudah mengenal ungkapan tersebut. Istilah sastra siber diambil dari kata cyber atau siber yang diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan sistem komputer dan informasi. 

Sedangkan sastra menurut pandangan Wellek dan Warren (1993) adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Jadi bisa dapat disimpulkan bahwa sastra siber adalah aktivitas pengembangan sebuah karya sastra yang tertulis atau tercetak dengan memanfaatkan atau berkaitan dengan sistem komputer dan informasi.

Sastra siber memang merupakan media untuk mengekspresikan karya sastra tanpa dibatasi oleh apapun, termasuk usia, latar belakang, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Semua orang dapat memberikan kreativitasannya dalam bentuk karya sastra dengan cara yang mudah dan gampang, serta tidak merugikan siapapun.

Bahkan dengan adanya teknologi yang semakin canggih membuat semua orang bisa menikmati karya sastra tanpa batas waktu dan negara. Seseorang tidak perlu bersusah payah dalam menikmati karya sastra yang diinginkan.

Istilah sastra siber mulai dikenal belum lama ini dalam beberapa dekade terakhir, tepatnya saat budaya internet sudah berkecamuk di Indonesia. Neuage dalam bukunya yang bertajuk Influence of the World Wide Web on Literature (1997) menyebutkan bahwa sastra siber diperkirakan muncul untuk pertama kali pada 1990 dan pada tahun 1998 ke atas, sastra siber semakin populer. 

Setelah populer, banyak komunitas sastra yang bermunculan dan memanfaatkan teknologi untuk membuat blog, situs, maupun forum. Bahkan, di zaman modern ini sudah banyak jejaring sosial untuk mengembangkan kreativitas seseorang dalam bidang sastra, seperti Wattpad, Webtoon, FanFiction, Twitlonger, fitur catatan di Facebook, dan jejaring sosial lainnya. 

Tentu saja, sastra siber memberikan dampak positif dan manfaat yang sangat besar terhadap perkembangan sastra di Indonesia, baik untuk sastrawan itu sendiri maupun untuk masyarakat Indonesia. Berikut dampak positif dan manfaat sastra siber bagi sastrawan dan masyarakat Indonesia.

1. Media Komunikasi 

Manfaat sastra siber yang pertama adalah berguna sebagai media komunikasi. Maksudnya, sastra siber berguna sebagai sarana komunikasi, baik di Indonesia maupun di berbagai negara. 

Selain itu, sastra siber juga mampu menjadi sarana dan media komunikasi antar bangsa, agama, suku, ras, bahasa, maupun negara. Serta dijadikan sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada negara asing. 

Sastra siber juga dapat dijadikan alat komunikasi antar penulis dengan penikmat karya. Misalkan seorang sastrawan menghasilkan sebuah tulisan atau karya. 

Kemudian tulisan atau karya tersebut dituangkan ke dalam jejaring sosial dengan memanfaatkan sastra siber. Dan penikmat karya dapat mengomentari hasil tulisan dari sastrawan dan sastrawan atau penulis tersebut bisa membalasnya komentar dari pembaca maupun penikmat karya.

2. Sarana Publikasi dan Memberi Kemudahan Mengakses Informasi

Sastra siber juga bermanfaat sebagai sarana publikasi dan memberikan kemudahan bagi penikmat karya untuk mengakses informasi yang diinginkan. Maksudnya, dengan adanya sastra siber sastrawan dapat dengan mudah mempublikasikan hasil karyanya ke berbagai jejaring sosial.

Selain itu, sastra siber juga membuat hasil karya sastrawan dengan mudah menarik perhatian pembaca atau penikmat karya sastra. Bahkan, tak jarang sastrawan membuat karya sastra yang disukai oleh pembaca agar karyanya lebih mudah diterima di kalangan umum.

Selain sebagai sarana publikasi bagi sastrawan, sastra siber juga memberi kemudahan dalam mengakses informasi. Memang benar, dengan adanya teknologi canggih saat ini, seseorang akan mampu mendapatkan informasi dengan mudah.

Maka tidak heran, dengan adanya sastra siber akan memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi terkait sastra, baik bagi sastrawan itu sendiri maupun untuk pembacanya. 

3. Sarana Berkreasi dan Inovasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berkreasi adalah menghasilkan atau menciptakan sesuatu sebagai hasil buah pikiran. Jadi sastra siber dapat dijadikan sarana untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang menarik atau unik dari hasil pemikiran seseorang.

Yang dimaksud sastra siber sebagai sarana inovasi di sini adalah sastra siber mampu menjadikan seseorang memiliki sebuah gagasan dan ide baru yang dapat diterapkan sebuah karya. 

4. Mengembangkan Eksistensi Diri

Eksistensi berasal dari bahasa latin yakni nexistere yang berarti muncul, ada, timbul, atau memiliki keberadaan aktual. Bisa dapat disimpulkan bahwa eksistensi diri merupakan suatu kondisi dimana seseorang akan menemukan makna dalam kehidupan dengan kemampuannya.

Menurut Frankl, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi hakikat eksistensi manusia, yaitu 1) faktor spiritual, yaitu faktor yang tidak dapat dijelaskan dengan istilah material; 2) faktor kebebasan, yaitu faktor yang tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisi dari lingkungan; 3) kebebasan tanggung jawab, yaitu konsekuensi individu.

Sastra siber ini dapat mengembangkan eksistensi diri seseorang. Dengan adanya sastra siber banyak orang yang ingin mencoba hal baru dan menunjukkan eksistensi yang ada dalam dirinya, serta menunjukkan kebebasan yang diinginkannya.