“Penyebaran Islam (di Nusantara) merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas (secara waktu dan pembawanya),” begitulah kiranya bunyi pembuka buku A History of Modern Indonesia yang ditulis oleh profesor sejarah asal Prancis, M. C. Ricklefs.

Profesor yang baru saja meninggal akhir tahun lalu di Melbourne Australia itu telah lama meneliti perkembangan sejarah Indonesia. Sedikit banyak, fokus kajiannya membahas penyebaran islam, yang dia sebut sebagai “titik awal” periodisasi sejarah modern di Indonesia.

Agaknya pernyataan Ricklefs itu membuat kita bertanya, apakah benar demikian?

Jika kita kaji, memang, ada berbagai penjelasan yang membuat kita bingung tentang kapan, siapa dan dari mana pembawa Islamisasi di Nusantara. Seperti contoh jawaban yang masih mengandung pertanyaan, “Islam masuk ke Nusantara abad ke-7, 13, atau 16? Pembawanya berasal dari Arab, India, atau Persia? Berprofesi sebagai pedagang, pendakwah, atau malah prajurit perang?”

Nah, setelah saya telisik, rupanya pendapat-pendapat itu berasal dari “empat golongan sejarawan” ketika meneliti tentang Islamisasi di Nusantara. Berikut saya sajikan penjelasannya. 

Yang pertama, dari pendapat lama. Buku “Sejarah Peradaban Islam” yang ditulis Samsul Munir Amin, menjelaskan, jika Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Pendapat ini dikemukakan oleh kalangan ‘sejarawan barat’ seperti N.J Krom dan Van den Berg yang mengemukakan Islam datang ke Nusantara dibawa oleh pedagang asal Persia (Irak dan Iran).

Menurut mereka, Kesultanan Samudera Pasai ditengarai sebagai tonggak awal Islamisasi di Nusantara. Hal itu karena Islam sudah dilembagakan secara politik, dengan rajanya telah memeluk Islam yang diikuti rakyatnya.

Selain itu, menurut versi ini, adanya ‘kesamaan’ beberapa tradisi dari kelompok masyarakat islam di Nusantara ternyata juga terpengaruh dengan Persia. Sebut saja peringatan Suroan yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram di Jawa. Lalu tradisi Tabut yang dilakukan di Sumatera Barat. 

Warisan tersebut merupakan tradisi yang juga dilakukan orang Persia untuk memperingati meninggalnya Husain anak dari Ali Bin Abi Thalib, sekaligus cucu kesayangan Rasulullah Muhammad Shallalohu ‘alaihi Wasallam.  Lebih dari itu, dari kalangan ini disinyalir sebagai pembawa ajaran tasawuf, karena secara mayoritas digemari oleh orang Nusantara.

Sementara dari pendapat kedua, atau pendapat baru, mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara jauh lebih lama, tepatnya pada abad ke-7 Masehi dan dibawa langsung oleh bangsa Arab. Hal itu diungkap dalam buku karangan Saifudin Zuhri, berjudul “Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembanggannya di Indonesia”.

Buku itu menjelaskan bahwa pendapat baru ini dikemukakan oleh ‘sejarawan muslim’ seperti H. Agus Salim, M. Zainal Arifin Abbas, Hamka, A. Hasjmy, dan Sayed Alwi bin Tahir Alhadad yang pernah di musyawarahkan dalam “Seminar Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan tahun 1963, yang kurang lebih berisi sebagai berikut;

Bahwa daerah pertama yang didatangi oleh bangsa Arab adalah pesisir Sumatera, dengan bukti terbentuknya masyarakat islam yang cukup banyak di bagian utara. Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang itu ikut aktif mengambil peran sebagai mubaligh.  Mubaligh-mubaligh itu selain sebagai pendakwah juga berprofesi sebagai saudagar.

Mereka mendakwahkan Islam di Nusantara dengan cara damai, bukan dengan cara perang atau mengangkat senjata untuk menaklukan kerajaan lain. Menurut hasil dari musyawarah itu, kedatangan Islam ke Nusantara telah membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.

Pendapat ketiga, berasal dari kalangan ‘orientalis’. Ulasan ini berasal dari buku yang ditulis Ajid Thohir berjudul “Studi Kawasan Dunia Islam”. Menurut versi ini, Islam datang ke Nusantara pada akhir abad ke-12 atau permulaan abad ke-13 Masehi. Pada masa ini, Islam dibawa oleh para pedagang anak benua, India, yang berasal dari daerah Gujarat, Malabar, dan Bengali. Versi ini dijelaskan oleh Pijnappel, yang kemudian dilanjutkan oleh Snouck Horgronje.

Dalam pandangan Hurgronje, terdapat pola hubungan kebudayaan yang sudah terjalin beberapa abad antara penduduk Nusantara dengan para pedagang dari India. Bahkan sejak masa Hindu-Budha. Pengamatan Hurgronje ini, juga bertumpu pada perilaku masyarakat islam di Nusantara yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai ‘asli’ Arab dengan kecenderungan akulturasi budaya.

Pendapat terakhir, berasal dari kalangan ‘sejarawan Indonesia modern’, salah satunya adalah Taufik Abdullah. Dalam buku “Indonesia Dalam Arus Sejarah” diungkapkan, bahwa secara sosio-kultural, Islam telah menyebar di Nusantara pada abad ke-7 dengan bukti adanya pemukiman-pemukiman seperti pekojan dan kanton.

Sementara secara politik, Islam di Nusantara telah mempunyai kerajaan pertama yakni Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-13 di Sumatera. Kemudian Demak Kedaton pada akhir abad ke-15 di Pulau Jawa.

Begitulah kiranya riset sederhana dari saya. Benar tidaknya ulasan yang saya tulis tidak bisa dijadikan sebagai pedoman “mutlak”. Karena sejarah sejatinya mengupas masa lalu dengan berbagai pisau pemahaman. Sebagai penutup, saya mengutip perkataan dari sejarawan fenomenal, Kuntowijoyo. “Bahwa sejarah ditulis bukan untuk menghakimi, melainkan hanya untuk melukiskan (peristiwa).”