Pada tanggal 3 Oktober, publik Jerman akan merayakan 30 tahun penyatuan kembali atau reunifikasi Jerman. Tentu ini merupakan momen bersejarah, mengingat begitu dramatisnya rangkaian peristiwa yang terjadi, mulai dari runtuhnya Tembok Berlin pada 3 November 1989 yang berujung pada bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur setahun berselang.

Sejatinya, pada saat itu tak ada yang menyangka bahwa penyatuan ini berlangsung begitu cepat. Bahkan pada mulanya negara-negara seperti Inggris, Polandia, Italia dan Prancis menyatakan keberatannya, karena khawatir Jerman akan menjadi lebih kuat lagi secara ekonomi, politik serta militer. Mereka risau jika nantinya negara ini akan terlalu berkuasa dan berulah lagi di Eropa.

Setelah melalui begitu banyak negosiasi serta perundingan rumit, mulai dari persoalan wilayah administratif, ekonomi, militer serta kesepakatan politik di antara negara-negara besar, tercapailah Perjanjian Dua Plus Empat pada September 1990. Dua plus Empat ini adalah Jerman Barat, Jerman Timur, Amerika Serikat, Uni Soviet beserta Inggris dan Prancis.

Inti dari perjanjian tersebut ialah bahwa mereka menerima dan mengakui negara Jerman yang bersatu nanti. Dengan persetujuan dari negara-negara pemenang Perang Dunia tersebut, makin muluslah langkah penyatuan Jerman. Tanggal sakral yang disepakati adalah 3 Oktober 1990.

Pada 2 Oktober malam hari, semua masyarakat antusias menantikan Jerman yang baru. Beberapa saat lagi, Republik Demokratik Jerman tidak akan ada lagi. Ia bergabung dengan Jerman Barat dan menjadi Republik Federal Jerman yang baru. Akan ada tambahan 16 juta orang Jerman baru, beserta enam negara bagian baru. Begitu pun dengan angkatan bersenjatanya, Nationale Volksarmee (NVA) yang juga akan dibubarkan.

Tepat di tengah malam, lahirlah negara Jerman yang baru. Perayaan begitu semarak di seantero negeri. Revolusi Damai akhirnya berakhir manis. Pada hari itu, orang Jerman seolah-olah menjadi orang yang paling berbahagia di dunia.

Tak terasa sudah tiga dekade negara ini bersatu. Seperti yang sudah diperkirakan bahwa Jerman akan menjadi negara yang kuat dan stabil secara ekonomi dan politik. Di era Kanselir Angela Merkel, “Negeri Panzer” secara tidak langsung menjadi pemimpin Uni Eropa (UE).

Akan tetapi, seperti apakah kondisi dalam negeri Jerman pasca penyatuan tersebut? Apakah ada banyak perubahan disana? Jawabannya tentu saja ada, dan memang banyak. Kemudian apakah proses integrasi dua negara yang sempat berseteru hebat ini sudah selesai? Sayangnya, jawabannya adalah belum.

Masih banyak catatan atau pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan pemerintah Jerman. Yang paling kentara adalah disparitas ekonomi antara Jerman bagian barat dan timur yang masih terlihat. Belum lagi masalah sosial dan ekstremisme yang masih marak di Jerman bagian timur.

Kesenjangan ekonomi masih terasa hingga hari ini. Pertumbuhan penduduk serta ekonomi disana juga tidak secepat wilayah-wilayah eks-Jerman Barat. Tercatat hanya 16 dari 500 perusahaan top Jerman yang berada di Jerman bagian timur. Ini menandakan bahwa pemerataan industrialisasi masih berjalan lambat.

Angka pengangguran juga masih relatif lebih tinggi yaitu sekitar 7-9 persen. Sementara di barat, persentasenya sudah 4 persenan. Meski masih tinggi, ini sudah menunjukkan perbaikan. Bayangkan saja, di tahun 2005, tingkat pengangguran disana mencapai 15 persen.

Soal upah juga ada perbedaan yang cukup mencolok. Para pekerja di wilayah timur mendapat gaji sekitar 16 persen lebih rendah ketimbang yang di barat, walau pekerjaan mereka sejenis, sama terampilnya serta setara juga pengalaman kerjanya.

Masih banyak persoalan ekonomi lainnya yang perlu dibenahi. Disparitas tersebut masih terlihat dan terasa. Namun sayangnya, tak hanya ekonomi saja, masalah sosial juga ternyata menimbulkan sejumlah permasalahan serius.

Pasca reunifikasi, warga eks-Jerman Timur juga dituntut menyesuaikan diri dengan keterbukaan dan kehidupan multikultural, hal yang sama sekali tidak mereka rasakan selama masa kepemimpinan rezim komunis. Masyarakat disana masih kesulitan menerima pendatang baru, terlebih lagi bila mereka adalah imigran 

Mereka yang selama 40 tahun hidup dalam komunitas yang relatif homogen gugup dan kaget ketika tiba-tiba harus menerima kedatangan “orang asing” di daerah mereka. Ditambah dengan kesulitan ekonomi yang menerpa, kegugupan, ketakutan, kemarahan menyatu menjadi sikap anti-imigran, dan terkadang berujung dengan kekerasan.

Sebenarnya beberapa saat setelah reunifikasi, perselisihan antara warga lokal dengan imigran mulai terjadi Jerman bagian timur. Yang paling diingat adalah peristiwa penyerangan fasilitas bagi pengungsi dan pemukiman warga Vietnam di kota Rostock-Lichtenhagen pada tahun 1992.

Hingga kini, populasi imigran disana relatif sangat kecil ketimbang di kota-kota di barat Jerman. Menurut sebuah data, sembilan dari sepuluh imigran tinggal di wilayah eks-Jerman Barat yang relatif warganya lebih terbuka, makmur dan telah terbiasa beriteraksi dengan pendatang baru.

Walau jumlah imigrannya sangat kecil, disana justru sentimen anti-imigrannya sangat kuat. Jangan lupa bahwa PEGIDA atau Patriotic European Against Islamization of the Occident dibentuk pada bulan Oktober 2014 di kota Dresden, sebuah kota besar di Jerman bagian timur.

Itulah mengapa slogan-slogan populis yang mengedepankan ketakutan, kemarahan dan kebencian terhadap imigran dan Islam tumbuh subur di wilayah-wilayah tersebut. Mayoritas warga juga mendukung partai populis AfD yang menggelorakan semangat anti-imigran serta anti-Islam. Kebijakan pro-imigran yang diterapkan Kanselir Merkel mendapat banyak penolakan disana.

Pemerintah Jerman masih terus berupaya membenahinya. Dan terbukti, 30 tahun ternyata masih belum cukup untuk membuat dua wilayah Jerman ini menyatu secara utuh. Entah butuh berapa lama lagi atau berapa generasi lagi agar integrasi ini benar-benar sempurna.

Namun bagaimanapun juga, kita harus angkat topi dan mengapresiasi proses integrasi di negara tersebut. Tag der deutschen Einheit atau Hari Penyatuan Jerman mesti ikut kita rayakan juga, karena tanpa peristiwa 3 Oktober 30 tahun lalu tersebut, bisa saja hingga kini Jerman masih terbelah dua, layaknya Korea Utara dan Korea Selatan.