Ada masanya ketika seseorang datang ke kedai kopi atau coffee house sendirian sebagai suatu hal yang aneh. Mulai dari anggapan tidak punya teman bahkan oleh temannya sendiri atau dicap kasihan oleh pengunjung lain. Saya sempat berada dalam posisi demikian.

Ketika sekarang sudah menjadi sebuah kelaziman datang ke kedai kopi seorang diri dengan alasan mencari koneksi internet untuk kerja dan nugas, kebiasaan saya masih bertahan.

Nah, sebetulnya apa sih faktor yang menjadi pertimbangan ketika kita menentukan sebuah kedai kopi untuk dijadikan tempat ngopi sendirian? Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan orang-orang yang saya temui, maka sebenarnya 3 alasan berikut bisa dijadikan pertimbangan untuk memilih destinasi kedai kopi selanjutnya untukmu.

Produk Otentik, Unik, dan Menarik

Hal pertama dan paling utama sudah jelas adalah produk. Produk mencakup cita rasa yang akan kita dapatkan ketika kita menenggak dan mengunyah minuman serta makanan yang ditawarkan oleh coffee house tersebut. 

Rasa dalam produk akan membangun kecocokan kita bersama tempat tersebut. Walaupun nilai estetik penyajiannya terbilang buruk, sering kali itu dimaklumi oleh lidah kita yang bergoyang.

Sempat ada masanya setiap kedai kopi mencipta kopi susu “khas”, namun sejatinya hanya ada perbedaan tipis di antara masing-masing kopi susu yang tersaji satu sama lain. Hal itu menjadikan produk itu unik dan menarik karena familiar dengan lidah kita tapi tidak memiliki nilai otentik. Nilai produk kedai kopi itu pun menjadi standar saja, tidak ada unique selling point unggul yang ditawarkan.

Contoh produk otentik, unik dan menarik yang bisa saya berikan adalah kopi krim rempah dan chocofrozz yang terdapat di sebuah warung kopi bernama Udinwati di kota Cimahi, kota pinggir dari Bandung. Produk yang jarang sekali ditemui di tempat lain.

Tempat lainnya bisa anda coba adalah Skola Coffee yang menyajikan turkish coffee dan cafe de olla yang tentu sangat jarang tersaji dalam pilihan menu kedai kopi. Ditambah lagi mereka menampilkan proses pembuatan memasaknya di atas pasir panas.

Tempat Bersuasana Khas

Selain lokasi yang mudah dijangkau, maka tempat juga akan memberikan pilihan penawaran berupa pemandangan kota, kesegaran suasana outdoor, atau desain yang media sosial-able.

Sedangkan untuk fasilitas, bisa saja kita mengkaji aspek lain yang bisa kita rasa dengan lima indera kita. Demi kenyamanan mata, maka pemilihan warna furnitur dan desain akan memanjakan. Dari susunan lagu yang menjadi latar akan menemani segala aktifitas kita. Sisi aroma kopi bisa saja menjadi penenang dalam kesunyian kita. Sisi bahan meja dan kursi, yang dapat memberikan kenyamanan terhadap postur tubuh kita.

Ada juga fasilitas internet dalam bentuk wifi yang kini sudah menjadi sebuah standar tersendiri dalam industri hilir kopi ini.

Faktor-faktor tersebut saya rasa dapat menjauhkan saya dari rasa sepi saat sendiri. Saya bisa merasa nyaman dengan diri sendiri, menyeruput segelas cappuccino, dan merenungkan nasib kehidupan yang telah terjadi hingga segala kemungkinan kejadian di masa depan.

Pilihan tempat yang memorable dan membawa saya pada suasana baru contohnya Kineruku di Bandung dan Pitutur di Yogyakarta. Kedua tempat ini sangat oke untukmu yang doyan baca buku, karena tempat ini dipenuhi oleh koleksi buku yang banyak dan ragam pilihan bacaan yang beragam.

Orang yang Terbuka dan Senang Berbagi

Inilah yang utama dari sebuah kedai kopi. Kedai kopi dibangun oleh manusia-manusia di dalamnya, baik itu adalah orang yang bekerja di sana ataupun pengunjung yang datang memesan segelas kopi.

Perihal orang ini, menjadi sebuah fenomena tersendiri yang saya rasakan. Karena orang yang berkunjung ke kedai kopi, setidaknya akan membuka satu lapis pertahanan dirinya dalam merespon lingkungan asing di mana tempat dia berada. 

Orang yang bersifat sangat defensif di transportasi umum, bahkan untuk bersenggolan di bus yang padat penumpang saja bisa tersinggung, namun ketika di kedai kopi ia akan bersikap sedikit lebih terbuka terhadap orang asing yang mengajaknya ngobrol. Bahkan, bisa jadi orang itulah yang menginisiasi pembicaraan. Aneh bukan?

Menurut saya itu menjadi tidak aneh, karena memang kedai kopi sejak ratusan tahun kala adalah tempat orang berkumpul juga bersosialisasi dengan tingkat kesadaran yang masih baik. Selain itu, kopi -jika tidak bisa disebut satu-satunya- adalah salah satu komoditas yang bisa dinikmati tanpa melihat kelas sosial dan latar belakang profesi.

Tidak terhitung sudah berapa kali obrolan baru saya temui di kedai kopi. Tanpa ada topik yang direncanakan, perbincangan mengalir saja. Mulai dari obrolan ringan dari membahas kopi itu sendiri, hingga obrolan ngalor ngidul macam teori konspirasi bahwa peradaban manusia dibentuk oleh sekelompok makhluk luar angkasa berwujud reptil.

Bertukar pendapat, adu argumen menjadi hiasan tersendiri dalam setiap perbincangan. Kita menjadi belajar lagi tentang manusia melalui lawan bicara kita. Ketika kita mempelajari manusia, selanjutnya pun kita jadi bisa mempelajari lebih jauh tentang diri kita sendiri.

***

Tiga hal yang disebutkan di atas memang tidak pernah bisa berdiri sendiri dalam pengambilan keputusan menentukan kedai kopi yang akan kita tuju.

Di luar tiga alasan yang disebutkan di atas, sepertinya saya butuh alasan baru untuk datang ke kedai kopi. Nona manis yang sedang baca tulisan ini, maukah jadi alasan saya datang ke kedai kopi agar tidak selalu sendiri? Xixixixi.