Garfield, dalam bukunya yang berjudul Sukses dan Prestasi, memberi pengertian sukses sebagai akhir dari tindakan seseorang dalam mencapai tujuan yang ingin diraih.

Dari pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa kesuksesan tidak hanya dilihat dari sesuatu yang telah didapatkannya, misalnya materi, akan tetapi kesuksesan harus dilihat juga dari tujuan seseorang melakukan tindakan.

Untuk mencapai sebuah kesuksesan, seseorang harus mampu menjawab segala tantangan yang melintang di hadapannya. . 

Dibutuhkan perencanaan yang sungguh-sungguh untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan dan sarana pelengkap apa yang kita perlukan, sehingga tindakan kita mencapai tujuan yang kita inginkan.

Banyak faktor yang turut memengaruhi seseorang untuk mencapai kesuksesannya. Salah satunya faktor lingkungan. Entah itu lingkungan keluarga atau lingkungan dimana seseorang itu tinggal. 

Maka dari itu kita juga bisa mencari inspirator dari lingkungan kita yang bisa menjadi patokan untuk mengejar kesuksesan itu. Toh, hidup juga tak lepas dari mencontohi apa yang orang lain lakukan dalam mengejar kesuksesannya.

Barangkali Kita bisa mencontohi apa yang dilakukan oleh Lembaga Wakil Rakyat kita, yakni Dewan Perwakilan Rakyat dalam melakukan tugas dan fungsinya. Misalnya dalam mengemban tugas berupa pembahasan hingga pengesahan suatu Rancangan Undang-Undang, DPR melakukannya dengan penuh perencanaan dan semangat yang tinggi untuk menyukseskan tugas yang diembannya.

Beberapa jurus untuk mencapai sukses dilihat dari kerja DPR mungkin bisa membantu kita dalam meraih kesuksesan yang kita idamkan. Sila simak 3 Jurus ini, dijamin bermanfaat dalam menggapai kesuksesan.

1. Jangan Dengar Apa Yang Orang Lain Katakan

Dalam usaha untuk mencapai kesuksesan, kita harus yakin dengan jalan yang kita tempuh. Jangan ambil pusing dengan apa yang orang lain katakan. Kalaupun ada yang menyampaikan kritik dan saran, pura-pura saja untuk menerimanya dan tanggapilah secara bijak kritik dan saran itu. Fokus saja pada apa yang kita impikan dan anggap bahwa segala cibiran itu hanyalah suara-suara gaib yang tidak perlu dihiraukan.

Ambil contoh nyata yang dilakukan oleh DPR dalam membahas RUU Ciptaker. Mereka sangat fokus pada apa yang mereka kerjakan, walaupun banyak suara-suara kritikan yang dilontarkan dari berbagai pihak, mereka memang dengar suara itu, tapi bersifat pura-pura mendengar dan menanggapinya pun dengan retorika yang sangat ngeles.

DPR tetap bersikukuh bahwa RUU Ciptaker ini dibuat untuk kepentingan  rakyat (entah rakyat yang mana) di tengah pandemi covid-19.

 Mereka yakin dengan jalan yang mereka tempuh walaupun tidak sedikit yang melontarkan kritik hingga demonstrasi berupa penolakan terhadap RUU Ciptaker yang masif  dilakukan oleh buruh, mahasiswa dan elemen-elemen gerakan lainnya. 

Barangkali mereka hanya mendengar ketika Yang Mahakuasa memanggil.

Dengan tidak mendengarkan apa yang orang lain katakan, dalam hal ini aspirasi publik, DPR akhirnya sukses dalam artian mampu melaksanakan tugas yang diberikan yaitu membahas serta mengesahkan RUU Ciptaker.

2. Manfaatkan Waktu Sebaik Mungkin

Dalam menggapai sebuah kesuksesan, kita harus berkomitmen dengan waktu. Waktu sangat berharga, waktu itu terbatas dan tidak terulang lagi. 

Waktu adalah kesempatan,  jadi Kita harus memanfaatkan kesempatan itu sebaik dan semaksimal mungkin. 

Berkacalah pada kinerja DPR saat membahas RUU Ciptaker yang dimana mereka sangat memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Wacana Omnibus Law di usulkan oleh Presiden Jokowi pada bulan September 2019. 

RUU Ciptaker atau Omnibus Law, dalam Konteks Hukum adalah hukum yang bisa mencakup untuk semua atau satu undang-undang yang mengatur banyak hal.  

Jadi bisa dikatakan bahwa Omnibus Law inia agenda yang berat karena puluhan undang-undang 'dipangkas' menjadi satu undang-undang  dan itu sudah tentu butuh waktu yang lama dalam pembahasannya.

Tapi tidak dengan DPR, mereka sangat disiplin dengan waktu. Mereka 'menciptakan' waktunya sendiri. 

Presiden Jokowi mengirimkan draf RUU Ciptaker kepada DPR pada 7 Februari 2020. Dan dibahas DPR pada 2 April 2020 dalam rapat Paripurna ke-13.

Dalam membahas RUU tersebut, DPR sampai rela melakukan rapat 'maraton'. Bahkan di akhir pekan pun mereka bekerja untuk membahasnya. Dan walaupun membahasnya kadang di tempat lain seperti Hotel pun mereka terima-terima saja, lumayan biar sekalian  review fasilitas hotelnya.

Sampai pada akhirnya mereka mengesahkan RUU Ciptaker yang pada awalnya ditentukan pada 8 Oktober 2020 mereka majukan 3 hari sebelumnya, yakni pada tanggal 5 Oktober 2020. Sudah jelas terlihat bahwa Wakil Rakyat kita ini sangat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. 

Untuk kalian, terutama kalangan Mahasiswa (termasuk penulis) harus melakukan jurus kedua ini ketika survive dari banyaknya tugas-tugas yang diberikan dosen. Jangan pakai sistem Kebut semalam terus-terusan, hei.

3. Jangan Takut pada Kesalahan

Berbagai kesalahan yang kita lakukan dalam rangka mencapai kesuksesan, akan membantu membentuk mental kita, mental yang adaptif pada segala situasi. 

Kesalahan merupakan hal yang wajar dalam proses mencapai kesuksesan. Ia adalah guru tergantung bagaimana kita menyikapinya. Segera evaluasi apa yang menjadi kesalahan kita, lalu bangkit dan lakukan pembaruan.

Jangan terlalu lama merenungkan kesalahan kita, kesalahan bisa saja menjadi momok yang menakutkan, tapi kalau kita bisa melihat kesalahan dengan perspektif yang positif maka kita akan selalu belajar dari segala bentuk kesalahan yang kita lakukan.

Dalam melakukan pembahasan RUU Ciptaker DPR menemui banyak sekali kesalahan. Misalnya dalam pengetikan Naskah  RUU Ciptaker yang banyak typo atau halaman draft RUU Ciptaker yang banyak variannya, sehingga membingungkan publik.

Adapula Lembaga riset independen Konstitusi dan Demokrasi (Kode) Inisiatif mencatat ada empat poin cacat formil dalam pembentukan Undang-undang Cipta Kerja.  Mulai dari dokumen penyusunan yang sulit diakses, proses penyusunan tidak partisipatif, penulisan rumusan UU yang tak jelas dan rumit, hingga draf akhir yang berubah-ubah setelah pengesahan.

Namun DPR tidak ambil pusing, mereka belajar dari kesalahan tersebut dan menjadikan kesalahan tersebut sebagai bahan evaluasi ke depannya. 

DPR juga melakukan beberapa kali revisi pada kesalahan tersebut, ya walaupun menemui kesalahan lagi, setidaknya mereka tidak takut pada kesalahan. Banyak kesalahan yang mereka tidak perhatikan sehingga bisa ditulis siklusnya; revisi-salah-revisi-salah-revisi-salah.

Mungkin itu 3 jurus yang ditunjukkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dalam usahanya menyelesaikan tugas yang diemban, Sepertinya dapat menjadi rujukan bagi setiap orang yang ingin tindakannya mencapai hasil yang diinginkan.