“Bukan ilmu yang harus datang kepadamu, tapi kamulah yang seharusnya datang menjemput ilmu,” kata Imam Malik. Fukaha yang tidak menyukai perdebatan ini merupakan penuntut ilmu yang tekun dan gigih. Menjemput ilmu tak mengenal waktu, tempat, usia, dan manusia diwajibkan untuk menjemputnya.

Delapan belas peserta dari berbagai daerah di Indonesia menjemput ilmu menulis di Pelatihan Menulis Esai Populer dengan tema “Toleransi dan Kebebasan” secara daring di Zoom Meeting. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Lembaga Indeks (Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial) bekerja sama dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dan FNF Indonesia pada 19-21 Agustus 2021.

Selama tiga hari, peserta pelatihan menulis mendapat materi tentang toleransi dan kebebasan dari Luthfi Assyaukanie, dosen Universitas Paramadina Jakarta dan pendiri Qureta. Setelah memaparkan materi di hari pertama, kemudian dilanjutkan di hari kedua dan ketiga tentang teknik penulisan yang baik dan benar.

Pelatih Luthfi Assyaukanie memberikan teknik menulis esai yang baik, menarik, dan enak dibaca. Pendiri Qureta ini mengatakan “Kalau ingin menjadi penulis, banyak membaca. Ingin tulisan baik dan berbobot, baca tulisan-tulisan bermutu. Tulisan yang kokoh dan menarik adalah tulisan yang punya data dan fakta.”

Pelatihan dipandu oleh manajer Indeks, Sukron Hadi, peserta diwajibkan menulis esai sesuai dengan tema kemudian tulisan direview langsung oleh pelatih, tulisan peserta masih ada kesalahan yang mendasar seperti salah ketik, pengulangan kata, kesalahan pengutipan maupun cara mengambil data sebagai referensi tulisan.

Selama pelatihan menulis dari pagi hingga sore, saya benar-benar mendapat ilmu penulisan yang luas karena dapat membantu dan memperbaiki tulisan yang lebih baik lagi dari sebelumnya, juga materi tentang toleransi dan kebebasan menambah wawasan.

Setelah mengikuti pelatihan selama tiga hari, bagi saya pelatihan ini sangat besar manfaatnya bagi yang menyukai dunia ke penulisan. Dari itu harapan saya Indeks bisa menyelenggarakan kembali pelatihan-pelatihan menulis di masa-masa yang akan datang dengan pelatih-pelatih yang inspiratif.

Peserta mempunyai kesan tersendiri atas terlaksananya pelatihan menulis, hingga pelatihan usai peserta tetap menjalin komunikasi bahkan membuat satu komunitas yang fokus mengampanyekan toleransi dan kebebasan dengan nama Gertas (Gerakan Toleransi dan Kebebasan) yang dikomandoi perempuan cerdas asal Maluku, Iftin Yuninda.

Andrias Pujiono, salah satu peserta asal Lampung mengatakan “Kegiatan tiga hari ini, daging semua. Paparan materi tentang toleransi dan kebebasan; seru dan dapat insight baru, dasar dan strategi penulisan esai. Acaranya disusun sangat sistematis, dari belajar tentang konsep dan teknik.”

Begitu juga dengan Masthuriyah Sa’dan, peserta dari Sumenep ini mengatakan “Materi pelatihan didesain cukup baik, padahal kegiatan berlangsung dari pagi hingga sore, mata saya mampu menyimak sebab materi yang disampaikan adalah ilmu yang baru.”

Petuah-Petuah Menulis

Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif, kegiatan menulis seorang penulis harus terampil memanfaatkan struktur kata, keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis melainkan harus melalui latihan yang banyak dan teratur, kata Henry Guntur Tarigan dalam bukunya “Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.”

Keterampilan menulis diawali latihan dan praktik yang banyak. Dari itu, siapa pun bisa menjadi penulis. Untuk bisa menjadi seorang penulis, kita harus belajar dari penulis terkenal dengan membaca tulisan-tulisannya yang bermutu maupun kiat-kiat menjadi penulis yang ditawarkannya.

Untuk menghasilkan tulisan yang baik, baca tulisan-tulisan bermutu, kata Luthfi Assyaukanie. Dia juga menyarankan membaca tulisan-tulisan dari Hamid Basaid yang kaya dengan diksi, Dahlan Iskan yang kreatif dalam menggunakan kalimat-kalimat pendek, dan dari Jalaluddin Rakhmat yang sistematis dalam menulis.

Saya sendiri masih ada kesalahan dalam menulis dan perlu menggali ilmu menulis dari siapa pun. Banyak membaca, membuka alam pikiran seluas-luasnya, mencari inspirasi untuk bisa menuangkan kata dalam tulisan. Tidak ada kata terlambat dan terus berusaha untuk belajar, khususnya penulis pemula.

Teruntuk penulis pemula, kata pendiri Qureta ini “Biasanya penulis pemula cepat puas ketika tulisannya terbit di media, jangan cepat puas dan terus belajar.” Yang diperlukan bagi penulis pemula adalah kebulatan tekad dan kemauan yang kuat untuk menulis, bila perlu belajar dari nol dan tidak malu untuk belajar.

Siapa pun bisa bermimpi menjadi penulis. “Siapa pun bisa menjadi penulis karena menulis bukan bakat tetapi usaha yang terus diasah, kalau diamati penulis-penulis hebat mereka bukan keturunan dari seorang penulis, mereka menulis dengan kerja keras dan terus mengasah kemampuan menulis.” Kata wartawan Harian Serambi, Yarmen Dinamika.

Dengan menulis tanda kita pernah hidup dan dikenang walaupun raga telah tiada, Pramoedya Ananta Toer mengatakan “Kamu boleh saja pintar setinggi langit, tapi sebelum kamu tidak menulis maka kamu akan tenggelam dalam sejarah.”

Untuk bisa dikenang dan tanda pernah hidup maka kita harus menulis, sebelum itu terlebih dahulu memperbanyak dan menjemput ilmu menulis; dalam artian harus belajar dan menggali potensi, seperti yang dilakukan peserta Pelatihan Menulis Esai Populer selama tiga hari bersama pelatih Luthfi Assyaukanie.

Yuk Menulis!