Universitas-universitas di Indonesia apa tidak ada inovasi baru syarat untuk lulus S1 selain tugas akhir skripsi?

Sebelum melanjutkan tulisan ini perkenalkan nama saya Alika,  mahasiswa semester 7 jurusan Ilmu Hadis dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, anak pertama dari tiga bersaudara. 

Saya ingin membagi cerita pengalaman yang sedang saya jalani dan cukup membuat ambyar.
Pada suatu siang yang terik, saya menuju salah satu ruangan di kampus untuk bertemu dengan dosen pembimbing skripsi. 

"selamat pagi pak,  saya ingin melakukan bimbingan terkait revisi skripsi saya" ucap saya dengan sopan.

"oh kamu yang kemarin kirim file skripsi lewat Whatsapp?" tanya dosen Pembimbing.

"ia benar saya pak"

"skripsi kamu sudah saya cek semalam dan layak untuk diajukan sidang tugas akhir, silahkan ajukan ke bagian TU untuk mendaftar sidang"

"benar pak saya boleh mendaftar sidang?" tanya saya memastikan.

"benar" jawabnya tegas.

Senyum saya sumringah bukan main, mensyukuri hidayah yang turun pada dosen pembimbing saya, rasanya seperti mendapat kado terindah dari Tuhan.

Belum lama tersenyum, saya mendengar suara dari arah jauh.

"Alika bangun, hei bangun, kamu kenapa senyum-senyum lalu tertawa, kami melihatnya menjadi takut" ucap salah satu teman kos yang membangunkan saya dengan mengoncangkan badan yang sedang tertidur.

"Makanya kalau tidur baca doa dulu" ejeknya lagi "untung ngga keluar iler"

Nyawa yang baru terkumpul setengah untuk menyadarkan diri, tetap memaksa membuka mata untuk segera terjaga.

Setelah membuka mata, saya segera mencari hp  untuk membuka chat yang saya kirim ke dosen seminggu yang lalu dan ternyata pesan Whatsaap saya masih tetap belum juga dibaca.

Mental saya memang sedang tidak baik-baik saja sejak menunggu kepastian skripsi. Yang tidak di ketahui mau di bawa ke arah mana.

"Kapan rasanya skripsi bisa di ajukan sidang" ucap saya dalam hati dengan penuh harap.  

Seperti judul yang tertera, judul tersebut adalah suara hati saya, menjadi sesuatu yang tidak asing di telinga para mahasiswa, termasuk dengan saya yang akhirnya sampai terbawa mimpi karena terlalu banyak memikirkannya.

Kalian tau hal ini bukan termasuk aneh, kenapa? 

Karena drama skripsi sudah menjadi ketakutan para mahasiswa sejak awal masuk dunia perkuliahan

"aduh nanti bagaimana ya jika mengerjakan skripsi, sepertinya susah" ucap saya dulu ketika masih menjadi mahasiswa baru semester 1.

Ketakutan mengenai skripsi seolah-olah menjadi bayangan yang menghantui, bayangan yang berlanjut hingga sampai waktunya mengerjakan skripsi.

Oleh sebab itu saya ingin memberi tahu 3 drama skripsi  kepada orang-orang yang mungkin belum mengetahuinya, termasuk untuk adik-adik mahasiswa baru agar mempersiapkan diri dan mental karena akan cukup berhasil membuat ambyar di masa muda.

Pertama: Susahnya Mencari Data Untuk Isi Dari Skripsi.

Masalah ini adalah keluhan yang selalu dirasakan bagi para mahasiswa tingkat akhir. Apalagi untuk saya yang selama kuliah leha-leha di kelas bermain hp mengandalkan Wi-Fi kampus untuk  scroll Instagram, Tik tok, Youtube ketika jam kuliah berlangsung, akhirnya semenjak pandemi terpaksa belajar sendiri, berpikir sendiri akan di isi apa skripsi saya.

Kedua: Drama Malasnya Mengerjakan Skripsi. 

Ibarat makanan, skripsi akan membuat kenyang bagi yang mengerjakan dan membuat bosan jika di tatap secara terus menerus.

Godaan untuk bermain handphone contohnya kurang lebih seperti ini "lihat story dulu ah, setelah itu karena belum mood, pindah ke Instagram 5 menit, lalu berlanjut ke Tiktok dan berakhir kelelahan scroll media sosial dan memilih besok untuk mengerjakan skripsi"

Tidak lupa dengan godaan nongkrong di warung kopi, dan jalan-jalan dengan alasan healing mengobati stress merupakan alasan terbanyak di pakai para mahasiswa tingkat akhir.  Hal tersebut merupakan salah satu faktor utama untuk memperpanjang masa menganggurnya skripsi yang tidak kunjung selesai. 


Ketiga: Drama Dosen Pembimbing. 

Drama kali ini kalian tau adalah satu hal yang tidak pernah terlewat dengan drama perskripsian yaitu drama dosen pembimbing yang bisa membuat tensi darah menjadi kategori darah tinggi.

Bagaimana tidak darah tinggi, dari sepengalaman teman-teman saya dan saya sendiri, kami di haruskan dengan sangat sabar di masa pandemi yang belum usai menghadapi dosen pembimbing, revisi berkali-kali, menunggu kepastian skripsi karena pesan yang tidak dibaca oleh Dosen hingga berminggu-minggu.

Untung dosen, kalau teman, rasanya ingin saya blokir nomernya karena membuat saya berhasil galau berhari-hari mengalahkan galau putus cinta dengan pacar.

Maka dari hal ini, beruntunglah wahai mahasiswa yang mendapat dosen pembimbing slow respon dalam proses pengerjaan skripsi sangat membimbing dalam mengoreksi kesalahan para mahasiswa.

Semoga kebaikan menyertai dosen-dosen baik dan semoga hidayah menghampiri para dosen yang sering mempersulit mahasiswa dalam  bimbingan skripsi.

Masa pandemi yang belum usai seperti ini membuat pekerjaan banyak orang susah, apalagi untuk menghasilkan uang, jika satu semester digunakan hanya untuk menunggu kepastian dosen, rasanya untuk membayar spp kuliah bisa menjadi beban untuk saya yang tidak memiliki uang, alias kere.

 Meminta pada kedua orang tua malu, apalagi mereka saat ini masih  harus membiayai kedua adik saya yang masih kecil, Mencoba melamar pekerjaan part time dimana-mana belum juga menemukan titik terang .

Malang niang nasib saya.

Salam sayang dari saya mahasiswa tingkat akhir,  dengan membaca artikel ini, semoga bisa membuat adik-adik mahasiswa baru bisa menyiapkan mental untuk masa mendatang yang penuh galau ria.