Mungkin saya tidak perlu lagi menjelaskan lagi game satu ini. Game ini memang sudah sangat populer di negara kita, saking populernya di setiap tempat yang biasa kita bersantai dan berbagi cerita seperti di kos-kosan, di warung makan atau di kafe, selalu ada orang lain atau teman kita sendiri yang sedang asyik bermain game tersebut.

Mengutip Kompas, 26 Mei 2019, Oliver Ye, PUBG Mobile Marketing Director Asia Tenggara, mengklaim "Indonesia menjadi negara nomor dua pengguna bulanan terbanyak".

Sejujurnya saya sangat menyukai game ini. Di antara game-game mobile yang pernah saya mainkan di smartphone, hanya PUBG yang menurut saya paling asyik dan menyenangkan, karena selain beradu skill, kita juga dapat berkomunikasi dengan teman-teman yang bahkan sudah lama belum berjumpa. Kadang-kadang ada momen lucu dalam permainan yang membuat kita tertawa bersama-sama.

Di samping semua rasa asyik itu, saya menemukan 3 hal yang menurut saya perlu dicatat agar tidak terlalu ketagihan memainkannya, khususnya para player yang bermain hanya untuk asyik-asyikan, bukan untuk para youtuber yang sedang membuat konten atau para gamers yang sering ikut kompetisi formal.

1. Garis Start yang tidak Fair

Sering kali kita menonton pertandingan lomba lari. Setiap kontestan semuanya berada pada garis start yang sama. Atribut yang digunakan seperti sepatu olahraga pun sama, yang membedakan hanya bodelnya saja. Jika modelnya saja yang berbeda, hal itu tidak berpengaruh pada para kontestan. Itulah kenapa perlombaan bisa kita anggap adil.

Lantas bagaimana dengan player PUBG yang berada pada kondisi awal yang tidak fair? Bukankah ketika kita masuk dalam arena pertandingan kita semua berada di dalam pesawat yang sama? Atau kita juga sama-sama memegang senjata yang sama? Maksud saya bukan pada pertandingan dalam game tersebut, melainkan pada smartphone yang kita gunakan.

Game PUBG sangat bergantung pada kualitas smartphone. Biasanya player yang menggunakan smartphone yang kualitasnya rendah, misalkan RAM-nya hanya 2 gigabyte, ketika mendarat di tempat yang ramai seperti Georgopol (salah satu kota di map Pochinki), pasti terjadi bug, frame, bahkan terkadang aplikasinya ke-restart sendiri. Betapa menjengkelkan jika terjadi kondisi seperti itu.

Di dalam arena pertandingan, total keseluruhan yang bertanding hampir 100 player, tentu saja tidak semua player menggunakan smartphone yang sama. Beruntung jika mendarat di tempat ramai, kita kebetulan bertemu dengan lawan yang kualitas smartphone-nya sama, berarti kita tinggal beradu skill.

Tapi jika kita bertemu dengan lawan yang menggunakan smartphone yang berkualitas tinggi, tarulah iphone 11 pake plus, tentunya kita pasti kalah telak, karena kita masih dalam keadaan muter-muter gara-gara bug dan frame, lawan kita sudah siap dengan senjata.

Dari sudut pandang lawan yang menggunakan smartphone berkualitas tinggi, mereka sangat mudah menjatuhkan lawan mereka karen di saat bertemu lawan tidak terjadi frame atau bug. Kita bisa liat video para youtuber yang dengan gagah mendarat di atas container, langsung mendapatkan senjata dan melakukan headshoot kepada lawan. Artinya, game tersebut sangat bergantung pada kualitas smartphone kita.

Inilah yang saya maksud dengan kondisi awal yang tidak fair yang sering kali luput dari pandangan kita, bahkan sering kita abaikan.

2. Misi yang Menguras Waktu

Terkadang kita tidak asal-asalan bermain, kita bermain dengan tujuan menyelesaikan misi. Biasanya banyak hadiah menarik jika misinya terselesaikan. Ada hadiah berwaktu dan ada juga yang permanen.

Misinya pun sangat mudah, biasanya hanya dengan melakukan login berturut-turut, bertahan sekitar 30 menit dalam pertandingan, atau turun di atas atap rumah di kota tertentu, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Nah, coba sedikit saja kita melakukan kalkulasi terhadap banyaknya jumlah misi tersebut, logikakan saja misalkan, misi: login berturut-turut selama 7 hari, bertahan sekitar 30 menit dalam pertandingan, turun di atas atap kota tertentu, ada juga berenang sampai beberapa kilometer, tembak jatuh musuh yang masih melayang dengan parasut, dan lain-lain. Kira-kira berapa waktu yang sudah terkuras? Belum lagi misi-misi yang ada di kolom Event, misi Tier, dan misi di Royal Pass.

Saya sendiri kadang merasa jengkel karena pada saat bermain dalam rangka menaikkan ranking Tier, saya juga harus menyelesaikan misi berwaktu seperti Royal Pass, misi di Event, maupun misi-misi permanen.

3. Menjaga Ratio Kill of Death (K/D) tanpa motivasi

Umumnya para player dianggap profesional ketika ratio K/D-nya berada di atas 7 koma. Ratio K/D seperti ini bisa kita lihat di statistiknya para youtuber dan gamers. Statistik yang rendah, tanpa maksud merendahkan, bisa kita lihat di statistik teman-teman bermain kita sendiri.

Keinginan untuk menaikkan ratio K/D membuat kita enggan menerima player lain untuk bergabung dengan tim kita. Beberapa kali saya dan teman saya mengeluarkan seorang player dari tim, hanya karena ratio K/D-nya rendah. Saya sendiri pun pernah dikeluarkan dari tim player lain, dengan alasan yang sama.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita untuk kembali berpikir soal motivasi bermain kita, apakah saya bermain karena saya seorang youtuber atau gamers? Jika iya, maka catatan kritis saya di atas seluruhnya tidak berlaku karena ada tuntutan untuk bermain, menaikkan rasio K/D dan membuat konten. Tapi jika sebaliknya, saran saya, baiknya kita hindari catatan-catatan saya di atas.