Peristiwa yang menimpa Syekh Ali Jaber tanggal 13 September lalu mengundang banyak sekali respon masyarakat. Respon itu hadir karena kecintaan mereka pada ulama’. Namun, sangat disayangkan sekali banyak respon provokatif ataupun hanya fokus pada si pelaku penusukan untuk mencoba membangkitkan kemarahan atas kejadian tersebut.

Setelah banyak pemberitaan di media massa mengenai kejadian penusukan tersebut, Deddy Cobuzier mengundang Syekh untuk menceritakan detail cerita ketika penusukan itu terjadi. Syekh menceritakan dari awal kejadian hingga akhir. Padahal, sebelumnya banyak media yang memberitakan dugaan tentang si pelaku dan tidak fokus membahas Syekh itu sendiri.

Pada saat kejadian itu, respon jama’ah spontan menghakimi sepihak kepada si pelaku dengan memukulinya. Terlihat sekali banyak jama’ah yang memilih mengurus pelaku daripada membantu Syekh. Sebelum si pelaku diseret oleh jama’ah untuk dihakimi, Syekh mencoba untuk menghentikannya dengan berteriak. Jama’ah langsung menuruti Syekh.

Respon Syekh ketika ditanya oleh Deddy sangat tenang sekali. Beliau beranggapan bahwa itu musibah yang harus disyukuri karena Syekh menyadari Allah masih melindunginya. Syekh juga berkata bahwa amarah tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Maka, Syekh mengambil keputusan yang bijak dengan meminta bagian yang berwenang untuk mengurus si pelaku.

Kejadian ini sama seperti ketika Gus Dur akan dimakzulkan dari jabatan Kepresidenannya. Banyak sekali barisan pendukung Gus Dur yang tidak terima dan mendeklarasikan barisan siap mati demi mendukungnya. Namun, dengan kebijaksanaan Gus Dur, amarah mereka redam dan mengiringi Gus Dur dengan perasaan terharu.

Gus Dur juga mencegah para kiai, ulama, dan santri di lingkungan NU untuk tidak pergi berunjuk rasa di Jakarta. Gus Dur mengatakan bahwa sesama orang Islam itu bersaudara. Tindakan kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan. Gus Dur juga meminta mereka untuk percaya pada pemerintah untuk menuntaskan persoalan politik.

Sikap Gus Dur di atas adalah cerminan 9 nilai utama yang melandasi pemikiran dan perjuangannya dalam menegakkan keadilan. Diantaranya; ketauhidan, kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, keksatriaan, dan kearifan lokal/tradisi. Dalam hal ini saya akan mengklasifikasikan bagaimana cara Gus Dur menghadapi masalah dengan dasar 9 nilai utama di atas.

Menerima Takdir

Landasan keimanan yang kuat akan mengahadirkan sikap yang tenang. Dalam nilai utama Gus Dur, menerima takdir masuk dalam kategori ketauhidan. Percaya kepada Allah SWT bukan semata hanya dalam ucapan dan hafalan, melainkan disaksikan dan disingkapkan melalui tindakan yang nyata. Ketauhidan adalah pondasi utama untuk mewujudkan segala sikap, seperti kemanusiaan, keadilan, dan hal baik lainnya.

Dalam kejadian di atas, Gus Dur mencontohkan sikap tenang dan tidak menunjukkan amarah. Sikap ini hanya hadir ketika iman sudah kuat. Syekh Ali Jaber mengatakan bahwa kita tidak bisa lari dari takdir. Jika kita lari dari takdir maka kita akan memasuki takdir yang berikutnya. Ini adalah contoh iman kepada qada dan qadar.

Selain menerima takdir, juga berdoa kepada Allah yang Maha Segalanya. Sesungguhnya, tiada kekuatan selain-Nya. Rasulullah SAW ketika mendapat musibah selalu berdo’a kepada Allah agar diberikan ketenangan dan jalan keluar. Ketika menerima serangan dari musuh, Rasulullah banyak diam dan tetap berbuat kebaikan.

Bersikap Toleran

Gus Dur menyebutkan 5 jaminan dasar yang tersebar dalam hukum agama al-kutub al-fiqhiyah lama, yaitu; jaminan dasar keselamatan fisik warga masyarakat, keselamatan keyakinan agama masing-masing, keselamatan keturunan dan keluarga, keselamatan harta benda dan milik pribadi, dan keselamatan profesi.

Sikap toleran yang dicontohkan dalam kasus diatas adalah keselamatan fisik warga masyarakat. Baik kasus Gus Dur, maupun Syekh Ali Jaber memang sangat mengundang amarah para pendukungnya. Rasa tidak terima hadir karena kecintaan mereka. Tetapi sikap bijak seorang panutan akan melindungi banyak nyawa.

Bersikap toleran bukan berarti membiarkan kejahatan merajalela. Namun, menghakimi dengan melakukan kekerasan akan merusak persaudaraan. Kata Gus Dur, ‘tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian, karena sesungguhnya yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan’.

Berlaku Adil

Laku ‘adil sejak dalam pikiran’ memang sudah melakat pada diri Gus Dur. Keadilan bisa tegak jika martabat kemanusiaan dipenuhi dengan keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tidak lahir dengan sendirinya. Maka, sebagai manusia harus memperjuangkannya.

Berlaku adil dalam menghadapi masalah yaitu memberi kepercayaan pada pihak berwajib. Syekh Ali Jaber mempercayakan pada aparat kepolisian untuk mengurus sang pelaku agar jera. Bukan lantas memberikan wewenang pada pendukungnya untuk menghakimi dengan cara kekerasan.

Begitu pun juga Gus Dur. Di saat Gus Dur akan diturunkan dari jabatan kepresidenannya, beliau segera mengontak seluruh warga agar tetap tenang dan tidak perlu berunjuk rasa. Beliau juga meminta untuk percaya pada keputusan pemerintah karena mereka punya andil dalam mengurus kasus tersebut.

Jika ketiga cara diatas diteladani oleh masyarakat maka tidak akan ujaran kebencian pada si pelaku dan masyarakat lebih bisa mengambil hikmah di balik setiap masalah. Gus Dur dan Syekh Ali Jaber sudah mencontohkannya, maka tugas kita meneladaninnya agar tercipta Islam yang ramah, bukan yang marah.