Keriaan bermain di pasar malam itu menjadi yang terakhir bagi remaja berusia 14 tahun bernama May (Raihaanun). Selama delapan tahun setelahnya, ia hidup tanpa emosi dan relasi sosial. Trauma mendalam setelah diperkosa membuatnya tidak berbicara dengan siapa pun, termasuk ayahnya (Lukman Sardi).

Kontak dengan ayah hanya terjadi saat May makan. Selain itu, ia menjalani rutinitas seperti lompat tali, hanya memakan makanan berwarna putih, menggosok dan membuat boneka. Di rumah, ayah adalah sosok sabar dan penyayang. Namun, di luar, ayah berubah menjadi petinju emosional.

Ayah merasa bersalah. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada May hingga ia mengisolasi diri dari kehidupan. Ia dihantui perasaan bersalah dan gagal melindungi putrinya. Gejolak emosi ayah sangat tergantung pada perasaan May.

Semua berubah saat pesulap (Ario Bayu) hadir dalam hidup May. Melalui lubang kamar May, pesulap pelan-pelan memicu keberanian May mengadakan kontak sosial dengan orang lain. Selanjutnya, emosi May mulai timbul, sampai ia bergulat untuk mengatasi traumanya.

Sutradara Ravi Bharwani dan penulis naskah Rayya Makarim betul-betul berhasil menyajikan alur cerita yang solid. Adegan kehidupan May dan ayah yang repetitif meyakinkan penonton pada kehancuran psikologi dua karakter tersebut lewat deskripsi hidup yang sesak, sunyi, dan hambar.

Tempo lambat film ini juga jauh dari kesan membosankan. Penonton diajak pelan-pelan menyelami keterpurukan May dan ayah. Tanpa tempo lambat, sulit bagi penonton mendalami suasana kehancuran batin keduanya, mengingat dialog sangat minim.

Film ini juga tidak terjebak pada sindrom Putri Tidur. Sebagai penyintas, May betul-betul digambarkan sebagai sosok yang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia tidak memerlukan pangeran tampan yang menolongnya. Sosok pesulap hanyalah menjadi pengantar bagi media penyembuhan May.

Perspektif gender dan keberpihakan pada korban tampak jelas dmiliki Ravi dan Rayya. Cara mereka menampilkan trauma yang dialami May, beban kelelahan mental yang dirasakan ayah, serta menghadirkan pesulap sebagai fasilitator kesembuhan May membuktikan itu semua.

Ravi dan Rayya tampaknya melakukan riset serius sebelum membuat film ini. Korban langsung dan tidak langsung kekerasan seksual ditampilkan bersama support system mereka masing-masing. Ayah dan pesulap sebagai support system May. Kurir boneka (Verdy Solaeman) berperan sebagai support system korban tidak langsung kekerasan seksual, yaitu ayah.

Film 27 Steps of May ini juga menunjukkan pada penonton bahwa dampak psikologis dari kekerasan seksual bukan hanya dirasakan korban. Orang dekat korban, dalam film ini, ditampilkan oleh Ayah, pun akan merasakan akibatnya. Baik korban maupun orang terdekatnya sama-sama membutuhkan bantuan psikologi. Sekali lagi, perspektif Ravi dan Rayya memang terlihat matang.  

Aspek sinematografi 27 Steps of May sangat sesuai dengan tema yang dibawa. Kesan gelap, remang-remang, dan sempit dalam rumah May tepat sekali menjadi deskripsi analogi kemuraman dan sesaknya hidup anak dan ayah itu. Suasana di ring tinju dan gulat yang dipenuhi kegelapan dan teriakan provokatif dengan jitu menggambarkan emosi terdalam ayah.

Dari departemen peran, akting Raihaanun dan Lukman Sardi betul-betul mengesankan. Untuk ukuran film dengan muatan dialog yang sangat minim dan adegan repetitif, kekuatan peran keduanya menjauhkan kebosanan saat menonton.

Ario Bayu dan Verdi Solaiman memberi kesannya sendiri, sekalipun mereka “hanya” menjadi pemeran pembantu. Keduanya berhasil menghadirkan karakter-karakter bagi kehidupan May dan Ayah yang suram dan menyesakkan dada.

Film 27 Steps of May berhasil mengajak penonton menyelami batin terdalam korban kekerasan seksual dan penderitaan yang dialami orang terdekatnya. Film ini tidak menggambarkan penyintas sebagai sosok korban yang nasibnya menyedihkan, melainkan melibatkan penonton ke dalam proses penyelesaian trauma penyintas.

Film 27 Steps of May sangat penting untuk ditonton. Naskah solid, tetapi tetap peka pada penyintas berikut kualitas akting kelas satu dari para pemeran akan membayar lunas tiket bioskop Anda. Wajar bila setelah menonton film ini penonton akan makin sadar pada isu kekerasan seksual terhadap perempuan.

Bermodal ide cerita yang penting, naskah yang kuat, sinematografi yang sesuai dan akting para pemeran yang mengesankan, tidak akan mengejutkan bila 27 Steps of May memenangkan Piala Citra 2019 nanti.

Cuplikan resmi 27 Steps of May (2019): https://www.youtube.com/watch?v=fCc4FZhZMoU