Tanpa mengurangi rasa hormatku pada secangkir kopi dan selinting tembakau, aku bersujud di kepalamu dan beribadah di dadamu, sampai nanti, sampai mati, entah.

Pesan-pesan yang silap diketik jemari menundukkan segala, bahwa nasib terburuk bagiku adalah mencintaimu, tanpa menyusu hingga kesurupan, aku mengaminkan segala doa yang diucap oleh sebotol bir kepada bibirmu yang ragu-ragu, sial.

Sebab rindu perihal jarak, sebab rasa mencipta rindu, sebab bumi seluas keinginan, sebab itu aku memelukmu erat. Jangan bilang ini sebatas kata-kata. 

Mengelus rambut, meraba wajah dan memeras susumu bukan peristiwa sederhana, tapi itu adalah proses perpaduan kehidupan akibat kehancuran semesta dalam kepalamu.

Aku masih hapal jumlah bulu keteakmu, aroma yang melekat beserta lembab keringatmu mengakar dalam pori kulitku, bagaimana mungkin aku membenarkan bila kau meminta dilupa, kekasih?

Persoalan ingatan bukan main-main tuk mengaturnya, semacam aku mecintaimu, seperti engkau terlahir atau bumi dicipta, semua adalah kemungkinan dari sebab yang belum diketahui asal-muasalnya, jadi jangan membantah, terima saja.

Kau pernah berjanji ingin menyertaiku sehidup hingga mati, bukan? Walau waktu merenggut apa-apa saja yang tersisa, termasuk eratnya kau dalam pelukku.

Tapi aku tak keberatan, aku tetap menganggapmu bagian terbesar dalam dominasi anatomi tubuhku yang semakin reyot ini. 

“Bulshit, omong kosong. Aku ingin hijrah, lepaskan aku, jangan ganggu hidupku!” tegas sekali kalimat itu kau ulang-ulang setiap kali kupergoki merafal ayat-ayat Tuhan. 

Lantunan merdu dengan intonasi naik turun, kau mengaji. Aku mabuk kepayang membayangkan bait-bait nadamu masuk ke kepalaku dengan sangat klimaks. 

Waktu berlalu, aku terus menyurati kenangan, menulis banyak hal tentang senyum simpul di bibirmu yang jingga. Namun, tetap saja. Surat-surat hanya akan menjadi tumpukan remuk di bak sampah, sebab waktu tak mungkin mengantarkan keinginan seseorang ke masa lalu. 

Masa lalu telah menjadi perempatan sunyi yang tak lagi pernah dikunjungi. Waktu mengundang hari depan, sementara kau selalu berpikir maju. “Pikiran besar akan membuat kita besar, demikian masa depan” katamu kala itu. 

Selain inisial namaku yang membekas di beberapa bagian tubuhmu, prinsip dan cara pandangmu tentang kehidupan, juga sangat membuat aku takjub dan merasa terpingkal-lunglai.

Ada konsep kemerdekaan dalam kepalamu, menolak takluk, berdiri tegak dan pandai memainkan rasa, itu yang aku suka. Di beberapa kesempatan aku pernah mendekati, “Bukan muhrim” katamu seraya melompat menggelinding takut tersentuh. 

Aku mengingatkan saat-saat celana dalammu yang warna pink bermotif bunga, kau malah menamparku. “Ini kau menyentuhku?” spontan kukata, “Tidak, itu bukan sentuhan, itu kutukan untuk lelaki brengsek semacam engkau” jawabnya lugas. 

Aku kembali dan menulis surat, walau tetap akan berakhir sampah, aku tak peduli, aku menulis banyak peristiwa bersejarah itu. 

Kubayangkan kau yang betul-betul hijrah, tapi nuraniku tak menerima itu. Aku merasa setiap orang punya hati yang merasa, dan di dalam tubuh ada hormon yang senantiasa bereaksi, atau mungkin kau sudah membatu?

Terbangun pagi, suatu ketika. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan bunyi andriod, ada pesan masuk darimu. Sebuah nasehat ternyata. Mengandung firman Tuhan dengan penjelasan panjang mengajak beriman dan bertaubat atas perilaku masa lalu yang menurutmu penuh dosa. 

Kujawab seksama dengan singkat; “Aku telah lama beriman pada secangkir kopi dan segala puisi yang menyertainya". Masih kulanjut beberapa kata, tampilan kontaknya hilang, aku baru sadar, diblokir akhirnya. Beralih ke sosial media, kukirimkan bait-bait puisi

“Aku sudah tak bisa menampung kata-kata manis, aku sudah nyaris kolestrol” balasnya. Kusarankan agar jangan menampung kata-kata bila mengusik, teruskan saja ke tong sampah atau kirim ke laut via Pos. Ia ketawa, mungkin mulai membaik dari kebiasaannya menganggapku tak lagi ada guna. 

Satu hal yang sangat berbeda dalam dirimu, tetapi bernilai baik adalah perilaku religius yang mungkin membuatmu lebih dekat pada Tuhan.

Tapi hal lain yang tak bisa kuterima adalah jiwa sosialmu kian menurun, kau tak lagi peduli pada anak yang tangisnya tak lagi terdengar, pada mereka yang untuk makan dan minum hanya bisa dari air mata dan dakinya sendiri.

Dari sekian banyak cerita, paling menggelitik dalam kepala adalah saat kita saling dekap untuk memahami tubuh masing-masing selama kurun waktu dua puluh lima (25) menit dengan kepuasan yang tercatat sejarah perjalanan sebuah peradaban.

Benar, tubuh kita telah cerai-berai, tapi kita masih disatukan oleh birunya langit, lapangnya laut serta inginnya aku tetap mencintaimu dan inginnya kau aku melepas semua lalu bertaubat. Bukan aku lupa apalagi ingkar. 

Aku meyakini Tuhanku sendiri dan semua ciptaan-Nya yang lebih banyak menyakiti daripada merangkul untuk kemaslahatan bersama.

Aku mengimani para utusan Tuhan yang mengajak kebaikan, walau generasinya lebih suka saling perang, atas nama kebenaran atas agama masing-masing. 

Terakhir; aku mengumpulkan segala niat untuk terus mensyukuri apa-apa yang diberikan Tuhan, termasuk pergimu dariku yang kusingkat KEHILANGAN.