Malam semakin mencekam. Sejak dua malam kemarin, 18 peledak telah tertanam di beberapa titik vital alun-alun Kotaraja. Mulai dari tempa penjual bahan bakar hingga beberapa titik gerbang perbatasan sudah tertancap peledak. Bahkan bangunan megah berjuluk Purna Yudha tidak luput dari atribut peledak tadi. Tidak ketinggalan kendaraan tempur dengan moncong menghadap keluar sudah bersiap di pinggir istana sang raja. Karena kondisi semakin tidak menentu, turut serta para prajurit bersiap pada kondisi terburuk.

Didalam istana, kaum cerdik pandai sedang bertemu sang Raja. Menurut penerawangan para Brahmana, kondisi kerajaan sedang di ujung tanduk. Pilihan untuk sang raja hanya satu. Meletakkan kekuasaan. Karena itulah para cendekiawan berkumpul untuk bernegosiasi dengan paduka Raja. Meski mereka sudah membayangkan akan berat jalan menuju ke situ.

Berhubung niatan untuk menyelamatkan rakyat dan semesta adalah segalanya, para cerdik pandai tadi sebelum bertemu Raja saling bersepakat untuk tidak masuk pada lembaga apapun paska sang Raja lengser keprabon. Bagi mereka, kemaslahatan orang banyak lebih penting dari godaan kekuasaan ketika itu.

Kesatria yang tengah memantau pertemuan tersebut, juga bersiap dengan detonator pemicu ditangan. Mereka sudah dipesan oleh kepala pasukan. Ada tiga alasan menekan hulu ledak di tangan mereka. Pertama, jika sang Raja memberi kode. Kedua, saat sang Raja diam lebih dari satu menit. Ketiga, sang Raja pingsan saat pertemuan. Dengan meledaknya belasan bom tadi, ibu kota akan aman dan golongan kesatria akan dengan mudah mengambil alih kerajaan. Konon para kesatria ini sudah dikuasai oleh Raja dan keluarganya.

Diatas adalah secuil ilustrasi kejadian 23 tahun silam di Jakarta. Menyusul kematian empat mahasiswa pada 20 Mei, keesokan harinya--21 Mei 1998--akhirnya penguasa 32 tahun meletakkan jabatannya. Sekaligus ini menjadi tanda babak baru sejarah di Indonesia. Tanggal yang sama dikemudian hari ditetapkan sebagai hari reformasi.

Setelah 23 tahun berlalu, sudah sejauh mana “isi cek kekuasaan” (meminjam istilah Cak Nur) tadi yang sudah cair dan bermanfaat untuk orang banyak? Ekonomi, Sosial, Hukum, dan Politik di Republik ini apakah sudah lebih baik? Orang-orang yang dulu gabung dalam Komite Reformasi apa kabarnya sekarang? Si penyandang gelar Mr President dari BBC dan CNN, apakah masih kritis?

Hari ini publik seolah-olah lupa dengan banyak hal. Termasuk lintasan sejarah bangsa ini. Padahal apa yang terjadi duapuluh tahun silam menjadi penentu berbagai bentuk kenikmatan hari ini. Salah satunya kebebasan berpendapat. Jika saja sang Raja atau kerabat dekatnya masih saja berkuasa hingga hari ini, percayalah keran menyuarakan pendapat masih tertutup rapat.

Disaat bersamaan, meski sudah dua dekade dedengkot Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme terkoyak-koyak secara sistem, dalam hal mental dan praktik ternyata masih jamak. Saya ambil contoh kejadian pemerkosaan dan perdagangan manusia yang mencuat sebulan silam. Meski keluarga korban telah memasukkan laporan (LP/971/J/2021/SPKT/RESORT Bekasi Kota) pada Minggu kedua April, hingga saat ini pelaku masih bebas berkeliaran.

Kondisi tersebut tentu mengundang banyak spekulasi. Diantarannya, karena pelaku yang bernama Amri Tanjung (21 Tahun) ternyata adalah anak dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2019-2024 dari partai Gerindra. Konon, pernah juga keluarga pelaku berusaha “berdamai” dengan keluarga korban. Hal ini semakin memperparah praktisi busuk bin culas yang 23 tahun silam berusaha untuk dihilangkan.

Apa yang menimpa remaja 15 tahun di Bekasi ini menyisakan kesedihan dan penderitaan mendalam. Baik bagi keluarga maupun yang bersangkutan. Setelah pelaku berhasil memorial-porandakan bangunan psikis dan fisik remaja 15 tahun ini, Amri Tanjung menyisakan jejak pada organ vital remaja tadi.

Adalah sebuah kutil kelamin kemudian jadi bukti kebejatan si Pelaku. Bagaimana tidak, belum puas dengan memaksa korban untuk berhubungan badan, Amri Tanjung kemudian menjajakan si korban lewat daring. Inilah salah satu penyebab dari jejak yang ditinggalkan Amri Tanjung pada si korban. Karena gontai-ganti pasangan seks tanpa pengaman menjadi jalan masuk dari virus human papillomavirus (HPV).

Ditambah lagi, gerak dari pihak berwajib yang masih tergolong lamban. Atau lebih tepatnya, terkesan tebang pilih dalam menegakkan aturan. Sekali lagi, hal tersebut sangat berlawanan dengan naskah yang diketik oleh Cak Nun di jalan Indramayu no. 14 pada tanggal 21 Mei 1998, terutama paragraf terakhir.

Harapan 23 tahun silam untuk pemerintah dengan sungguh-sungguh dan secara efektif melaksanakan pemberantasan korupsi, kolusi, kronisme, dan nepotisme hanya sebatas kumpulan kata-kata tanpa kekuatan sama sekali. Pihak berwajib yang kemudian jadi harapan sekaligus perpanjangan tangan pengelola negara untuk penegakan hukum terkesan setengah hati dalam menyikapi parsoalan diatas.

Coba bandingkan langkah dari kepolisian Bekasi untuk masalah serupa dengan pelaku yang berprofesi sebagai tukang parkir dan mantan residivis. Pelaku pemerkosaan dan perampokan tanggal 15 Mei, sudah bisa ditemukan tiga hari setelah kejadian. Bahkan otak dari kejadian ini diciduk pada 19 Mei kemarin. Alhasil, tiga orang pelaku sudah berhasil diringkus. Bukankah ini bentuk tebang pilih?

Apakah karena pelaku merupakan anak dari pejabat di Bekasi, cukup dengan pemanggilan saja. Bagi saya yang awam hukum, perbuatan 3 orang pelaku yang pemerkosaan dan perampokan 15 Mei tentu saja sama kualitas pelanggaran hukumnya. Apalagi jika kita ingat praktik perdagangan manusia menggenapi pelanggaran hukum si Amri Tanjung pada remaja 15 tahun tadi.

Dalam rangka peringatan 23 tahun reformasi, saya kira belum terlambat bagi pihak kepolisian untuk menegakkan hukum walau langit akan runtuh. Terlebih program 100 hari KAPOLRI baru, untuk kami masih relevan dijadikan alasan dalam meneguhkan profesionalitas yang selalu di dengungkan oleh kepolisian.

Akhir kata, meski Reformasi telah diperingati sebanyak duapuluh tiga kali, yang terpenting sebenarnya bagaimana upaya meneruskan semangat perubahan. Salah satunya memberikan bukti pada khalayak akan kesungguhan dari pengelola negara untuk menyelesaikan segala problem hukum di Republik ini.

Bisa dimulai dengan bersungguh-sungguh menyelesaikan kasus yang menimpa remaja 15 tahun dari Bekasi.

Wassalam