74958_44130.jpg
www.berdikarionline.com
Perempuan · 4 menit baca

21 April dan/atau 8 Maret
Perjuangan Perempuan dalam Lanskap Momentum dan Metodeologi

“History is the fruit of power. But, power itself is never so transparent. That is analysis become superfluous.” ~ Michael-Rolph Trovillot-Power and the Production of History (1995)

Saat wajah laman media sosial tuan dan puan dipenuhi ucapan selamat hari Kartini dalam berbagai bentuk, percayalah, hal itu untuk memperingati hari lahir Raden Ajeng Kartini. Sejak penetapannya sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintahan Soekarno (Keppres No. 108 Tahun 1964), maka sejak itu, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini.

Makin ke sini, peringatan hari Kartini semakin beragam bentuknya. Tentu saja masih dengan semangat yang sama. Seputar perempuan dan peran. Tanpa bermaksud untuk mengecilkan makna daya dan upaya yang dilakukan Kartini ketika itu atau semangat kaum hawa dalam memperingati 21 April tiap tahunnya, pengusungan tema atau pokok bahasan dalam rangka peringatan hari Kartini dari waktu ke waktu, relatif masih belum beranjak.

Sedangkan, jika ditelusuri lebih jauh, pokok pikiran kumpulan ( curhat ) surat Kartini yang ditujukan ke Rose Abendanon memuat dua hal. Pertama, perjuangan perempuan dan kedua adalah perjuangan kelas.

Pertanyaanya, kenapa tema hari kartini dari tahun ke tahun relatif masih belum bisa beranjak?    

Perempuan dan Perjuangan

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita membaca ulang beberapa fakta terkait perjuangan perempuan dan tema yang diusung. Bagi saya, ini penting. Karena dengan membaca ulang sejarah, harapannya kita bisa menyingkap realitas masa lalu.  

Dalam lintasan sejarah dan guna mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, peran pahlawan tidak melulu didominasi oleh pria saja. Karena tidak sedikit juga gelar pahlawan nasional berasal perempuan. Setidaknya, buku sejarah mengatakan demikian. Ini belum termasuk dengan beberapa tokoh perempuan yang secara kultural didaulat sebagai pahlawan oleh masyarakat sekitarnya.

Apakah cukup dengan mengetahui kenyataan bahwa terdapat Pahlawan Nasional perempuan dalam buku-buku sejarah Indonesia yang beredar di Sekolah saat ini? Menurut saya, tidak. Tidak, karena banyak faktor. Di antaranya, bisa jadi nama-nama perempuan yang masuk dalam buku sejarah hari ini belum mewakili keseluruhan perempuan yang pernah berjibaku dalam lintasan sejarah Indonesia.

Ambillah contoh nama Umi Sardjono. Seperti yang ditulis Ruth Indah Rahayu dalam pengantar buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia; Untuk Pemula, peran ibu Umi Sardjono dalam sejarah Indonesia muskil untuk disangkali. Salah satu bentuk perannya adalah dengan mengorganisasi gerakan bawah tanah perempuan di Blitar untuk melawan fasisme Jepang di Indonesia. Meskipun risikonya penjara ketika itu.

Tidak berhenti sampai di situ, aksi ibu pemilik nama lengkap Suharti ini juga mendalangi terbentuknya Barisan Buruh Wanita (BBW) bersama S.K Trimurti. Kelak, BBW menjadi kendaraan mereka berdua untuk melakukan pendidikan politik terhadap kaum perempuan.

Nama lain juga yang sayup-sayup bisa kita dengar adalah S.K Trimurti. Itu pun ibu yang satu ini hanya populer dikenal sebagai wartawan wanita. Lain, tidak lebih. 

Padahal, jika dibandingkan dengan ibu Umi Sardjono, peran penting “Yu Tri” (panggulan Umi Sardjono kepada S.K Trimurti) sulit juga untuk disangkali. Bahkan, upaya untuk mengorganisir buruh perempuan mendapat respons dari pihak pemerintah. Tidak tanggung-tanggung, Kabinet Amir Sjarifoeddin mengangkatnya menjadi menteri buruh, atau saat ini lebih dikenal dengan Mentri Tenaga Kerja. Bukankah ini capaian yang menggembirakan.

Selain kedua ibu di atas, tentunya masih banyak nama perempuan dengan berbagai upayanya dalam memperjuangkan kaumnya dengan berbagai bentuk. Saya kira tidak cukup ruang di sini untuk menyebutkan nama dan peran mereka satu persatu.

Kembali pada pertanyaan di atas terkait tema peringatan hari kartini yang relatif belum beranjak dari hal seputar perempuan dan peran. Bagi saya, ini bisa dilihat melalui dua aspek. Aspek pertama; momentum memperingati, dan aspek kedua adalah pilihan metodeologi memperingati.

Jika berbicara terkait momentum peringatan, setidaknya ada banyak hari di Indonesia yang setiap tahunnya diperingati yang hubungannya dengan kaum perempuan. Mulai dari peringatan Hari Korps Wanita Angkatan Laut (5 January) hingga Hari Ibu (22 Desember). Dari kesemuanya, paling sedikit ada dua hari yang begitu dianggap spesial setiap tahun; setiap tanggal 21 April dan 22 Desember.

Bahkan, dalam rangka memperingati kedua hari itu, berbagai hal bisa dilakukan. Mulai dari ucapan (yang mendadak) heroik untuk kaum perempuan hingga berbagai bentuk seminar, diskusi, bahkan acara gelar wicara. Kesemuanya lengkap dengan tema-tema yang begitu menggugah.

Apakah ini keliru? Tidak juga. Tanpa bermaksud mengecilkan berbagai bentuk kegiatan dalam memperingati hari tersebut, namun apakah momentum yang berhubungan dengan perempuan, terkhusus perjuangan perempuan, hanya bertumpu pada dua tanggal itu saja? Di sinilah menurut saya soalnya.

Jika kita hubungkan berbagai tema perempuan dan perjuangannya dan momentum peringatannya, selain dua tanggal di atas, sebenarnya ada satu tanggal tiap tahunnya yang juga lebih sesuai. Tanggal 8 Maret. Pada tanggal itu, diperingati sebagai hari perempuan sedunia. Yang mana, awalnya merupakan tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan Sosialis pertama kali di Jerman, tahun 1910.

Tanggal ini menurut saya juga penting untuk diingatkan. Karena pilihan momentum peringatan dan pengusungan tema yang berhubungan juga adalah aspek yang lekat hubungannya. Terutama tema perjuangan perempuan dan tema perjuangan kelas.

Aspek kedua adalah pilihan metodeologi dalam memperingati hari yang berhubungan dengan perempuan. Saya memasukkan aspek metodeologi dalam urutan kedua setelah momentum dengan alasan terdapat hubungan keduanya. 

Jika kita sepakat bahwa hingga saat ini perempuan belum bisa sepenuhnya terbebas dari kenyataan patriarki atau sederhananya biasa disebut perjuangan kelas, maka sebaiknya kaum perempuan mulai mempertimbangkan pilihan lain metode.

Tanpa bermaksud mengecilkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan atau jenjang pencapaian perempuan saat ini, kenyataannya, berbagai kegiatan yang berhubungan dengan peringatan hari yang berhubungan dengan perempuan selalu terkesan mengejar seremonial semata. Sangat sedikit dari 69,4 juta perempuan Indonesia (BPS, 2016) yang memutuskan terjun untuk mengorganisir masyarakat, khususnya kepada kaum perempuan.

Meskipun kata “sangat sedikit” di atas bermakna “bukan berarti tidak ada”, namun terjun dalam perjuangan kelas untuk segi formal (saja), bagi saya, belum cukup. Segi formal dalam artian tidak melulu dimaknai upaya kaum perempuan dalam merebut kursi ketua atau jabatan strategis (saja). 

Bisa juga mengorganisir kaum perempuan. Salah satunya dengan kaum perempuan memprakarsai kaum perempuan yang lain menjadi lebih berdaya, baik secara politik, ekonomi, maupun sosial.

Tentu saja ini bukan tugas yang mudah. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Jika Aidit dalam dialog fenomenal di Film G30/S mengatakan: "Jakarta adalah kunci,” maka menurut saya, “Perempuan adalah kunci.”

Perempuan Indonesia, bersatulah.