“The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence; it is to act with yesterday’s logic.”

-Peter F. Drucker

Di atas Kepulauan Galapagos, gugusan kepulauan di seberang barat Ekuador pada 15 September 1835, kapal ekspedisi HMS Beagle berlabuh. Di dalam kapal itu, terdapat seorang peneliti muda yang terpesona dengan spesies endemik Galapagos. Dalam catatan hariannya, peneliti muda tesebut menulis, “Baik oleh ruang dan waktu, kami seolah dibawa (Galapagos) kepada sesuatu yang dekat dengan kenyataan—misteri dari segala misteri—yakni kemunculan makhluk hidup di bumi.”

Peneliti muda itu kini kita kenal sebagai Charles Darwin. Ia tersihir dengan burung finch dan kura-kura raksasa endemik Galapagos. Fakta yang Darwin temukan antara lain adalah perbedaan bentuk paruh burung finch yang bergantung sesuai dengan tempat tinggalnya. Adapun perbedaan paruh burung finch merupakan bentuk adaptasi atas makanan biji-bijian yang bermacam-macam di tiap wilayah.

Fakta tentang burung finch ini menjadi basis paling dasar atas Teori Evolusi yang disusun Darwin melalui On the Origin of Species (1859) dan The Descent of Man (1871). Adapun Darwin juga memiliki konsepsi yang amat masyhur, survival of the fittest. Makhluk yang bertahan hidup bukanlah yang terkuat atau tercepat, melainkan yang paling adaptif dengan lingkungan.

Tak ubahnya paruh burung finch, Homo Sapiens pun dewasa ini juga dituntut untuk terus beradaptasi dengan lingkungan. Tantangan kita hari ini—sebagai Homo Sapiens tentunya—selain beradaptasi dengan dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi, juga beradaptasi dengan berubahan besar kontemporer; pandemi Covid-19, seperti yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali dalam Era Double Disruption pada Harian Jawa Pos, 1 Januari 2021.

Dalam situasi pandemi, kita dihadapkan dengan situasi paradoksial. Para pakar dan masyarakat telah terbiasa berpikir dengan cara-cara lama. Cara bekerja mereka pun juga cenderung mengulangi dan melegitimasi yang sudah ada. Selain itu, semakin banyak masyarakat yang menyangkal otoritas pakar seperti yang dijabarkan Tom Nichols dalam The Death of Expertise. Situasi tersebut makin keruh manakala para pakar itu sendiri memiliki kerangka berpikir yang baik namun cenderung mengulang pendekatan-pendekatan cara lama.

Terlepas dari problem-problem tersebut, sepatutnya kita setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Prof. Rhenald Kasali. Ia menekankan solusi pada pentingnya melakukan eksplorasi. Bukan ekspolitasi dan imitasi karena sekadar memperbaiki yang sudah ada pun tidak cukup. Eksplorasi merupakan langkah manusia untuk beradaptasi melalui inovasi-inovasi baru. Suatu hal yang muskil ditampik masyarakat kita kontemporer.

Ketika tahun 2020 usai, masyarakat berharap pandemi Covid-19 segera berakhir; kita menantikan titik cutoff. Adapun instrumen cutoff tersebut sudah ditemukan, yakni vaksin yang di Indonesia sendiri akan tersedia pada awal 2021. Namun belum lama ini, diketahui terdapat strain baru virus corona di Inggris yang diindikasi juga ditemukan di Italia hingga Singapura.

Hal ini berarti kita masih harus hidup beriringan dengan Covid-19 sepanjang 2021. Kita tak bisa berbuat banyak. Tidakkah otak manusia sendiri juga terdiri dari miliaran sel bakteri yang hidup berkoloni? Ini bukan hal baru bagi Homo Sapiens dituntut untuk hidup berdampingan dengan sel-sel asing baru. Di lain sisi, pandemi telah memantik uncertainty, dan satu-satunya kunci adalah strategi adaptasi. Tepat seperti yang dikatakan Darwin bertahun-tahun silam.

Nassim Nicholas Taleb dalam The Black Swan : The Impact of the Highly Improbable (2007) menyatakan bahwa sesuatu yang tidak kita ketahui jauh lebih relevan dibanding dengan yang kita ketahui. Terlepas perdebatan Covid-19 sebagai Black Swan atau White Swan, Taleb mengingatkan bahwa, “Perhatikan bahwa banyak Black Swan dapat terjadi dan menjadi lebih buruk karena tidak terduga.” 

Peristiwa Covid-19 menjadi tak terduga dan makin buruk diakibatkan oleh pola pikir lama yang menekankan pada aspek empirik yang stagnan, bukan inovasi dan adaptasi. Sebelum Covid-19 hadir, kita berpikir bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara absolut mendorong kemajuan zaman, termasuk menekannya epidemi dan pandemi. Namun perkembangan ilmu dan pengetahuan justru memancing ekosistem yang tidak sehat dan mengakibatkan segalanya semakin memburuk.

Pandemi telah memberikan kita pelajaran yang amat berharga perihal pola pikir. Utamanya, pola pikir yang adaptif dengan menciptakan inovasi-inovasi. Kemajuan zaman berarti meningkatnya probabilitas-probabilitas baru yang sebelumnya tak pernah terprediksi atau bahkan belum pernah terjadi. Tugas manusia adalah mengantisipasi sebelum hal buruk terjadi, lakukan adaptasi dan inovasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi Covid-19 adalah wake up-call. Sebabnya, bumi makin rapuh dan rentan sedangkan manusia hidup dalam alam globalisasi yang makin kompleks namun ancaman kemunculan virus baru terus berlanjut. Jika manusia tak segera berpihak pada alam, pasti alam tak akan berpihak pada manusia. Suatu hal yang dapat dijelaskan secara sederhana oleh Teori Evolusi melalui konsepsi survival of the fittest.

Adapun eksplorasi harus kian digalakkan. Misalnya, pada sektor teknologi digital yang akan memberi keleluasaan kerja. Seperti yang kita tahu, yang paling berhasil melakukan perubahan digital bukanlah CEO atau CTO suatu perusahaan, melainkan Covid-19. Kebiasaan baru yang tumbuh pada era pandemi telah mengkonstruksi tatanan baru yang mesti siap dibawa pada step selanjutnya. Inilah PR yang harus turut kita pikirkan.

Era digital telah mengharuskan Homo Sapiens yang dahulu leluhurnya—Homo Erectus Paleojavanicus—menguasai kapak genggam, harus menguasai infrastructure readiness yang melingkupi jaringan fiber optik dan pendukungnya, mulai dari artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), big data, hingga video conference technology. Inilah yang dimaksud Darwin dalam konsep survival of the fittes. Jika dahulu leluhur kita menguasai persenjataan-persenjataan dan keahlian teknis lainnya untuk hidup, maka kita harus paham bagaimana dunia digital hari ini bekerja agar bisa hidup hingga esok hari. Termasuk bagaimana mengatasi pandemi Covid-19.

Tentu tak salah kiranya kita berharap 2021 akan lebih baik dari 2020. Namun kita juga harus realistis dengan realita yang kini terjadi. Kita harus terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara-cara baru yang inovatif dan adaptif, bukan melalui cara-cara lama yang usang. Dan ini semua bermuara dari satu hal : pola pikir.

Mengatasi permasalahan di era pandemi harus kembali dikembalikan pada diri sendiri dan lingkungan. Pola pikir pribadi yang baik akan membuat tujuan-tujuan yang ia gagas adaptif dengan segala kondisi. Seperti burung finch yang menarik hati Darwin.