2020 begitu cepat berlalu dan sekarang sudah memasuki detik-detik menuju tahun 2021, yang menjadi topik utama dari tulisan ini adalah kita semua di dunia ini khususnya di Indonesia merasakan dampak dari virus Covid-19 yang telah berlangsung dari awal tahun 2020.

Seperti efek domino, Covid-19 berdampak ke berbagai sektor seperti ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya yang mampu mengubah seluruh pola aktivitas kita. Mulai bekerja di rumah (Work from Home), sekolah dan belajar menggunakan aplikasi zoom di rumah, pentingnya menggunakan masker dan menjaga jarak dengan yang lain.

Itu semua merupakan proses dari sejarah yang sekarang kita rasakan. Kita semua bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pendahulu kita, ambilan contoh seperti Flu Spanyol 1918 yang juga berdampak sampai ke Hindia Belanda. 

Kita hanya bisa membaca, memahami, lalu membayangkan apa yang terjadi pada Flu Spanyol 1918. Saat ini kita merasakan apa yang mereka rasakan di masa lalu. Kita manusia memang tidak bisa lepas dari Sejarah.

Wabah Flu Spanyol 1918 dengan wabah Covid-19 jika dilihat dengan sekilas mempunyai beberapa kemiripan. Menurut Kuntowijoyo dalam buku Penjelasan Sejarah, ini disebut sebagai paralelisme sejarah. Paralelisme sejarah didapatkan dengan membandingkan dua gejala sejarah dengan tema sama di tempat yang berlainan.

Kedua wabah ini dapat dikategorikan juga sebagai pengulangan sejarah karena wabah Flu Spanyol juga terjadi di Hindia Belanda. Pengulangan ini didapatkan jika kemiripan diambil antara dua gejala sejarah dengan tema yang sama tetapi waktu yang berlainan.

Dari catatan arsip, ditemukan wabah Flu 1918 yang melanda Hindia Belanda sejak awal abad-19 bahwa Pemerintah Kolonial telah menemukan dan mencatat munculnya penyakit ini beberapa kali di berbagai daerah Hindia Belanda bahkan memakan korban jiwa. Hasil penelitian laboratorium kesehatan juga mempertegas kebenaran laporan tersebut.

Namun, Pemerintah Kolonial tidak cepat dalam mengambil tindakan, meskipun telah mencurahkan perhatian khusus. Peringatan dini yang telah dikirim oleh pejabat Belanda di Hongkong dan Singapura tentang melandanya wabah influenza di sana tidak cepat diperhatikan dan diambil tindakan selanjutnya.

Padahal sejak awal tahun 1918 konsulat Belanda di kedua negara koloni Inggris tersebut telah menyinyalir akan terjadinya penyebaran penyakit influenza melalui jalur perkapalan. Langkah hukum formal baru diambil lebih dari dua tahun setelah peringatan pertama diterima.

Dibuatnya peraturan (ordonnantie) influenza pada Oktober 1920 bahwa pengambilan keputusan dengan jangka waktu yang panjang setelah pemberitahuan dari konsul di Hongkong maupun di Singapura ialah bukti munculnya kebingungan dikalangan pembuat kebijakan.

Ketika para pejabat daerah sudah memberikan kabar ke pusat bahwa keadaan semakin darurat dengan ditemukannya banyak korban wabah influenza, Pemerintah Kolonial tidak tanggap memberikan keputusan terhadap permohonan daerah.

Surat-surat yang masuk ke Sekretariat Negara (Algemeen Secretarie) baru bisa dijawab dalam jangka waktu yang lama. Hal tersebut mengakibatkan terjadi kebingungan pengambilan keputusan untuk langkah apa yang akan diambil lalu mengimplementasikan ke penduduk.

Dari kondisi tersebut akhirnya memotivasi penduduk untuk menemukan sendiri berbagai cara menyembuhkan pasien atau mencegah penularan wabah flu. Pendekatan yang dilakukan penduduk ialah pendekatan spiritual atau metafisika. Selain itu, penduduk juga meramu resep pengobatan tradisional atau herbal yang terbuat dan diolah dari bahan alami untuk dijadikan obat.

Itu tadi hanya gambaran singkat bahwa kita sebagai manusia adalah bagian dari proses jalannya sejarah. Sejarah merupakan guru kehidupan bagi umat manusia untuk melihat kebelakang hukum kausalitas (sebab-akibat) yang terjadi di masa lalu.

Sejarah kita contohkan sebagai bangunan yang tinggi, maka akan memerlukan fondasi yang kuat dan dalam. Pembangunan yang serba kompleks mempunyai berbagai macam fase dalam berbagai dimensi dan memerlukan dasar yang multidimensional, dan salah satu dimensi yang penting adalah dimensi waktu.

Semakin baik perlengkapan kita untuk meneropong jauh ke belakang, semakin baik pula potensi kita untuk membuat perspektif jangka panjang. Ini adalah letak penting dari sejarah: melihat masa lampau dengan saksama mungkin sebagaimana peristiwa itu terjadi dalam proporsi dan konteks yang tepat.

Seorang sastrawan Indonesia yang terkenal pernah mengatakan dalam konferensi pada tahun 1950-an yang berbunyi, “kita dilahirkan oleh sejarah. Tetapi kita pun akan melahirkan sejarah, setidak-tidaknya turut melahirkan. Sedihlah mereka-mereka yang tidak menyadari hal ini, dan berbahagialah mereka-mereka yang menyadarinya. Tetapi kesadaran bahwa kita ini sekaligus adalah anak dan ayah sejarah, meletakkan ke atas pundak kita tanggung jawab yang sama sekali tidak kecil. Tetapi haruskah kita mundur menghadapi tanggung jawab yang besar?”

Sejarah bisa dilihat sebagai estafet antar generasi. Ia melukiskan bagaimana masing-masing generasi menjawab tantangan zamannya, memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, atau menundanya untuk generasi berikutnya.

Sejauh manusia dan bangsa ini mengerti sejarah, maupun memahami dan mengerti kesadaran sejarah, sejauh itu ia mampu untuk mengatasi kabut kegelapan, ketidaktahuan, yang meliputi situasi hari ini. Kesadaran sejarah membuat kabut menjadi lebih terang.

Layaknya mengendarai mobil, spion berfungsi untuk membantu pengemudi untuk mengetahui objek yang ada di belakang mobil serta jangan lupa kita harus tetap melihat ke depan agar perjalanan tetap aman dan sampai tujuan.

Daftar Pustaka:

Kuntowijoyo. 2008. Penjelasan Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lapian, A.B. 1976. “Sejarah, Sejarawan, dan Masa Depan”. Majalah Prisma. No. 7 Tahun V.

Notosusanton, Nugroho. 1976. “Generasi, Sejarah, dan Pewarisan Nilai”. Majalah Prisma. No.7 Tahun V.

Soedjatmoko. 1976. “Kesadaran Sejarah dan Pembangunan”. Majalah Prisma. No. 7 Tahun V.

Wibowo, Priyanto. 2009. Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda. Jakarta: Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Wisena, Dwi Arya A. 1993. “Mereka dan Kita”. Majalah Prisma. No. 6 Tahun XXII.