Akhir 2017 sudah ramai-ramai orang menyebutkan bahwa 2018 sebagai tahun politik. Memang ada tahun tertentu yang menjadi waktu hajatan demokrasi di Indonesia. Namun, jangan jadikan tahun tertentu sebagai tahun yang menjadikan kita berargumentasi secara berbeda namun tidak sehat. Mestinya kita melewati setiap tahun dengan kegiatan-kegiatan positif, apa pun momentum besar yang berlangsung di dalamnya.

Berulang kali kita melaksanakan hajatan demokrasi (pemilu) selalu menyisakan retakan di mana-mana. Karena berbeda pilihan politik, awalnya akur jadi saling tikung. Karena berbeda afiliasi, awalnya bersahabat mesra berakhir saling fitnah. Ini yang saya maksud bahwa jadikan momentum besar dalam kehidupan berbangsa sebagai spirit persatuan dan kesatuan, bukan saling menjatuhkan dan membuat perpecahan.

Mari pertegas diri bahwa berbeda adalah sarana untuk saling kenal. Indonesia sudah berpengalaman dalam berbagai bentuk perbedaan. Namun perbedaan tidak pernah menjadikan bangsa ini lemah, namun semakin kuat dan semakin maju. Jika berbeda menjadi pemicu sebuah kehancuran, maka pasti sudah sejak lama negara ini berantakan, namun bukankah tidak demikian yang terjadi di Indonesia?

Setiap kali momen menjelang bahkan hari dilaksanakannya pemilu pasti muncul narasi-narasi saling menjatuhkan satu sama lain. Baik itu bernada SARA maupun bentuk fitnah yang kejam. Seakan dalam dunia demokrasi bepolitik kita, semua menjadi halal, dan seperti hal wajar teman jadi lawan, lawan menjadi teman.

Jika narasi kekerasan dibiarkan dalam tahun-tahun tertentu maka sama saja kita sedang menunggu kehancuran negara kita sendiri. Menjadikan tahun yang awalnya penuh damai kemudian menganggap politik adu domba sebagai sebuah kewajaran adalah tindakan bodoh. Selama ini kita menjaga keharmonisan dalam perbedaan, tapi terbiasa dengan narasi pemecah belah karena momentum politik yang tidak sehat.

Maka, bagi saya tidak ada tahun politik. Setiap tahun adalah tahun perdamaian. Setiap waktu adalah momentum bagi kita menanam benih-benih kebaikan. Dan di waktu yang sama pula merupakan waktu yang tepat memendam dalam-dalam kebencian dan narasi-narasi kekerasan.

2018 adalah tahun perdamaian bukan tahun politik. Menganggap 2018 sebagai tahun politik, sama saja kita membiarkan maraknya narasi fitnah, narasi adu domba, narasi kebencian, narasi kekerasan, dan narasi hoax yang meramaikan tahun ini hingga tahun-tahun di depannya. Untuk itu, mari ramaikan 2018 dengan narasi-narasi perdamaian, nasionalisme dan kebangsaan.

Meskipun politik mampang di tahun 2018, jangan jadikan sebagai hambatan bagi kita untuk selelau berkampanye damai. Justru momentum politik ini waktu yang tepat untuk membendung narasi-narasi kebencian dan kekerasan. Melalui momentum politik ini sekaligus ujian bagi kita semua, sejauh mana kita bernarasi sehat dalam sebuah hajatan demokrasi, tanpa SARA, tanpa hoax, tanpa fitnah, dan tanpa ujaran kebencian.

Politik Perdamaian

Hajatan besar demokrasi di tahun-tahun mendatang akan lebih menantang lagi, apalagi pilkada dilakukan secara serentak di berbagai daerah. Melalui tulisan ini saya mengajak kepada semua orang untuk menjaga nafsu politiknya, untuk tidak dengan mudah termakan isu-isu provokatif dan narasi fitnah antar kepentingan golongan.

Mari kita mulai dari sekarang belajar berpolitik secara sehat. Jangan korbankan keberagaman kita untuk senjata menjatuhkan lawan. Mari saling menjaga agar keharmonisan dan kerukunan antar warga tetap utuh tidak retak oleh adu domba yang berkepentingan.

Politik sebagai salah satu anak demokrasi harusnya mengedepankan sikap saling menjaga bukan menjatuhkan. Kalaupun beradu dan berlomba antar partai, maka beradulan dengan cara yang sehat. Ajari kepada anak-anak bangsa dan publik masyarakat kita, bagaimana demokrasi kita sehat, tidak ada narasi hujat menghujat dan caci mencaci.

Seringkali publik masyarakat juga menjadi korbannya. Hanya karena berbeda warna kaos, sebelumnya tetanggaan menjadi berjauhan. Hanya karena berbeda pilihan politik, sebelumnya saling bergandengan menjadi saling diam tidak saling menyapa.

Saya turut menghimbau kepada mereka yang berkepentingan selama hajatan pilkada ini. mari menjaga keharmonisan kerukunan dan kedamaian kita semua. Jangan pernah menjadikan publik warga menjadi korban hasutan dan fitnah sehingga mereka sendiri akhirnya saling tuduh padahal bersaudara.

Berpolitik tidak ada larangan, tapi berpolitiklah secara sehat. Dalam demokrasi semua orang berhak memilih dan menentukan arah pilihan politiknya. Namun demokrasi kita juga melarang untuk tidak saling memfitnah, mengujar kebencian, menarasikan SARA, sebagai sarana berpolitik.

Maka, hari ini kita membutuhkan politik yang mendamaikan (politik perdamaian). Narasi politik harusnya narasi yang menyatukan tujuan. Demi kemajuan dan kesejehteraan bangsa. politik menjadi sarana argumentasi publik dalam membangun daerah dan bangsa ini. Itulah kenapa politik perdamaian kita butuhkan, bukan politik fitnah dan kekerasan.

Damaikan Dunia Maya

Salah satu yang ramai pada hajatan politik adalah dunia maya. Dunia maya pasti sejak saat ini sudah ramai dengan narasi-narasi politik. narasi ini mulai memanas ketika masa kampanye sudah dimulai. Pada waktu itu akan muncul narasi-narasi yang sangat beragam, mulai dari yang negative hingga positif.

Pengalaman yang lalu, sosial media, diramaikan dengan perang SARA, satu sama lain saling menjatuhkan. Ada ujaran fitnah dan kebencian di mana-mana. Narasi-narasi itu memenuhi dunia maya dengan berbagai bentuknya, baik tulisan, video dan gambar.

Melihat pengaruh dunia maya saat ini, ia menjadi sarana politik yang sangat efektif. Terutama untuk memikat publik masyarakat yang saat ini digandrungi teknologi. Jika peran media teknologi tidak diimbangi dengan konten-konten yang baik, dunia maya bisa melahirkan kerugian yang besar.

Jika dunia maya dipenuhi dengan narasi fitnah dan kebencian, apalagi jika bukan kerugian. Dengan maraknya narasi fitnah maka akan menyulut sikap, seperti kekerasan dan main hakim sendiri. Apalagi sikap acuh terhadap informasi hoax, juga sangat berbahaya, apabila tidak adanya cek kembali kebenaran sebuah informasi.

Sedini mungkin mari isi dan penuhi dunia maya dengan narasi-narasi yang baik. Dengan begitu dunia maya itu nanti akan dipenuhi pahala karena mengajak kepada kebaikan, bukan sebaliknya dipenuhi dosa karena seringnya muncul ajakan membenci orang lain. Jadikan dunia maya itu bermanfaat bagi kehidupan kita semua, dunia maya yang menyatukan umat sebangsa, bukan meretakkan dan memecah keberagaman.

Maka sejak saat ini mari damaikan seluruh isi dunia maya. Mari kita mengajak semua orang untuk meramaikan dunia maya dengan narasi perdamaian. Mulai saat ini juga, mari wujudkan perdamaian itu baik di dunia maya maupun di dunia nyata.