Dua pusara itu masih basah, ucapan belasungkawa pun datang silih berganti, tanpa tatap apalagi peluk hangat, hanya lewat aplikasi bernama whatsapp. Gadis itu, yang bahkan usianya belum genap delapan belas tahun, harus merasakan getirnya takdir yang menimpa dirinya tanpa ampun.

Kata siapa delapan belas tahun telah dianggap dewasa? Orang berkepala tiga-empat bahkan lima saja masih banyak yang kekanakan.

Orang-orang yang tak punya empati sekaligus kewarasan dalam masa seperti ini, sebetulnya tidak layak untuk hidup. Persetan dengan HAM! Mati saja kalian agar tau rasanya kehilangan tanpa sempat bertukar sapa!

Di dalam kamar yang hanya ada secercah cahaya matahari, lewat melalui celah gorden yang tak tertutup rapat itu, pada pagi yang nyaris seperti tak ada kehidupan lagi. Kia, dengan rambut dan muka yang sungguh berantakan, seperti tak ada lagi minat untuk setidaknya mengguyur air saja untuk mandi atau setidak-tidaknya mencuci muka. 

Dia memang masih bernyawa, namun hidupnya sudah terlanjur gelap dan sepi untuk dinikmati. Manusia mana yang tahan dengan kehilangan yang berkolaborasi kesepian?

Muka Kia merah padam, sesaat setelah membaca salah satu komentar netizen di laman media sosial miliknya.

Halahhhhh, dokter kan dibayar sama rakyat. Resikonya mereka lah kalau tertular. Gausah lebay. Gamau tertular, resign aja jadi dokter. Wong gaji sama resikonya sepadan kok ribut.

Jari jemarinya otomatis mengetik, membalas komentar yang menurut dia sangat jahat dan tak berperi kemanusiaan.

Jadi saja seorang anak yang kehilangan orang tuanya karena keegoisanmu. Sebut, berapa harga yang bisa kubayar untuk menukar nyawa ayah dan bundaku! 500 juta? 1 miliar? Hah?!!

Tanpa sadar Kia terisak, airmatanya turun tanpa bisa ia bendung. Kia membenci semua orang-orang itu, yang dengan gampangnya menyebut bahwa profesi tenaga medis sudah selayaknya siap mempertaruhkan nyawa mereka karena dibayar. 

Kia tak pernah paham jika uang bisa mengganti nyawa manusia. Karena selama ini, kehidupan yang Kia jalani mengajarkan bahwa tak ada harga yang setara dengan nyawa kecuali nyawa itu sendiri.

Kia, yang tabah, ya.

Kia, tetep semangat. Jangan putus asa. Semoga ayah dan bundamu mendapat tempat terbaik disisi-Nya.

Ayah dan bundamu layak mendapat surga dan layak disebut pahlawan. Jangan sedih lagi, ya.

Stay strong, cantik. Tuhan ternyata sayang banget sama ayah dan bundamu, makanya diambil duluan. Kamu pasti kuat.

Kia men-close akun medsosnya dan beralih membuka aplikasi pesan whatsapp. Banyak yang men-support dan ikut berduka tentang kepergian orang tuanya yang takkan pernah kembali. Ia mengusap airmata yang sedari tadi tak berhenti turun itu, membalas semua pesan masuk dengan kata terima kasih disertai emoticon senyum. Ya, meskipun hatinya banjir oleh isak tangis. Pedih sekali.

Ia membuang smartphone miliknya ke sembarang arah, mengambil selimut di kaki dan menenggelamkan diri untuk kesekian kalinya di bawah selimut. Menangis lagi. 

Ini baru tiga hari, tak ada sesiapapun yang datang untuk melayat ke rumah. Saudara dari pihak ayah dan bundanya tak ada yang di sini. Mereka semua jauh, tak bisa datang karena virus sialan yang merenggut semua bahagia Kia. Kini ia hanya seorang diri.

Andai semua orang mau bekerja sama untuk tidak egois demi satu buah nyawa yang barangkali bagi orang lain tak berarti namun bagi yang lainnya sangat berharga. 

Aku kuat. Aku kuat. Aku kuat. Mantra itu selalu Kia ucapkan dalam hati keras-keras. Namun yang selalu terlintas dalam bayang gadis itu, selepas mantra diucapkan adalah wajah bahagia ayah dan bundanya. Kia rindu mereka, tiga bulan tak bertemu, lalu tiga hari lalu harus berpisah untuk selamanya tanpa sempat temu raga.

“Dek, kalau seandainya, meski jangan sampai, ayah dan bunda tiada karena ini. Jangan pernah membenci siapapun. Ayah dan bunda bahagia jika gugur karena bertugas.”

“Tapi Bun, Yah. Tegakah pergi berdua tanpa aku? Tega ninggalin aku sendirian di dunia ini?” Kia terisak-isak. Dia tau, orang tuanya positif covid-19 karena tertular salah satu pasien mereka.

“Aku kangen kita makan bersama satu meja. Aku kangen cerita soal teman-teman dan pelajaran sekolah yang kadang memusingkan. Aku kangen candaan ayah yang garing. Aku kangen masakan ibu. Aku kangen kalian.” Kia mengusap airmatanya. Tangan dia bergetar melihat layar laptop yang menampilkan wajah kedua orang tuanya itu.

“Dek, jangan nangis, ya. Selalu jaga kesehatan. Taati aturan yang berlaku,” ujar ayahnya yang juga berkaca-kaca.

“Sebentar lagi kita akan seperti dulu. Tunggu saja, Dek. Kami selalu sayang adek setiap hari dan selamanya. Terima kasih sudah mandiri selama pandemi ini.”

Tangis Kia semakin menjadi-jadi ketika mengingat percakapan terakhir mereka lewat video call. Gadis itu ingin berkata bahwa ia tidak setabah dan sekuat yang diharapkan orang tuanya. Dia hanya anak delapan belas tahun yang masih butuh sosok orang tua.

“Bun, Yah. Aku sudah cukup mandiri tiga bulan lalu tanpa mengeluh satu kalipun. Tapi tiga hari ini duniaku sudah hancur lebur. Maaf jika aku tak bisa bertahan dan memilih untuk menyusul kalian. Terima kasih telah menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain.

Aku sudah cukup bahagia pernah merasakan kasih sayang kalian selama 2002-2020.” Monolog Kia dalam hatinya, sebelum mata dia menutup. Dia memilih tidur dan berharap tidak akan pernah bangun lagi jika yang dihadapi saat ini bukan mimpi.

Benar memang, semua kehilangan itu menyakitkan, tapi lebih menyakitkan kehilangan karena keegoisan manusia lain.