20 tahun lalu sebagian besar Orang Amerika telah menyaksikan dengan ngeri bagaimana serangan teroris 11 September 2001 terhadap gedung WTC telah menewaskan hampir 3.000 orang di New York City, Washington, D.C., dan Shanksville, Pennsylvania. 20 tahun sesudahnya, mereka menyaksikan dengan sedih misi militer negara Amerika di Afghanistan, yang telah menduduki Afganistan kurang dari sebulan setelah 9/11, telah berada di kesimpulan yang menyedihkan dan kerugian yang besar bagi negara itu. Presiden Joe Biden mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pasukan Amerika pada Agustus 2021 yang berarti mengakhiri pendudukan pemerintahan Amerika di Kabul selama 20 tahun.

Berdasarkan data dari TIME, dari sekitar $145 miliar yang dihabiskan pemerintah AS membangun kembali Afghanistan, sekitar $83 miliar digunakan untuk mengembangkan dan mempertahankan militer mereka. sejak 2008. $145 miliar adalah dana tambahan dari $837 miliar yang dihabiskan Amerika Serikat untuk berperang, yang telah dimulai dengan invasi pada Oktober 2001.

$83 miliar yang diinvestasikan untuk militer Amerika di Afghanistan selama 20 tahun bernilai hampir dua kali lipat dari anggaran tahun 2020 untuk seluruh Korps Marinir AS dan sedikit lebih banyak dari yang dianggarkan Washington tahun lalu untuk bantuan kupon makanan bagi sekitar 40 juta orang Amerika.

Keputusan Biden ini telah menyebabkan krisis terbesar masa kepresidenannya yang masih berusia muda dan menimbulkan pertanyaan luas tentang kemampuan demokrasi Barat untuk membangun institusi yang langgeng dalam citra mereka di luar negeri, dan kesediaan mereka di masa depan untuk melakukannya. Setelah kerugian dari segi anggaran dan kematian dari banyak pasukan Ameika, kebijakan Presiden Biden telah meninggalkan pertanyaan besar bagi setiap orang Amerika: Dua puluh tahun setelah 9/11, apakah AS akan lebih rentan terhadap serangan besar-besaran? Dengan tewasnya Osama bin Laden dan ditariknya pasukan Amerika dari Afganisan, bagaimana Amerika menentukan kebijakan politik luar negeri selanjutnya?

Persepsi Orang Amerika

Bagaimana orang Amerika memandang ancaman terorisme di dalam negeri dan langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk memeranginya. Penilaian awal publik pada misi itu jelas: Mayoritas mendukung keputusan untuk menarik diri dari Afghanistan, bahkan ketika mengkritik penanganan pemerintahan Biden terhadap situasi tersebut. Dan setelah perang yang menelan ribuan nyawa – termasuk lebih dari 2.000 anggota militer Amerika – dan triliunan dolar dalam pengeluaran militer, survei Pew Research Center menemukan bahwa 69% orang dewasa AS mengatakan Amerika Serikat sebagian besar gagal mencapai tujuannya di Afganistan.

Decade yang lalu, publik Amerika bereaksi terhadap kematian bin Laden dengan lebih dari rasa lega daripada kegembiraan. Sebulan kemudian, untuk pertama kalinya, mayoritas orang Amerika (56%) mengatakan bahwa pasukan AS harus ditarik sesegera mungkin, sementara 39% lebih menyukai pasukan AS di negara itu sampai situasinya stabil.

Peristiwa baru-baru ini di Afghanistan meningkatkan kemungkinan bahwa opini bisa berubah, setidaknya dalam jangka pendek. Dalam survei Pew Research Center akhir Agustus, 89% orang Amerika mengatakan pengambilalihan Taliban atas Afghanistan merupakan ancaman bagi keamanan AS, termasuk 46% yang mengatakan itu adalah ancaman besar.

Tetapi 20 tahun yang lalu, pada minggu-minggu setelah serangan 9/11, Amerika sangat mendukung aksi militer terhadap mereka yang bertanggung jawab atas serangan itu. Pada pertengahan September 2001, 77% menyukai aksi militer AS, termasuk pengerahan pasukan darat, “untuk membalas siapa pun yang bertanggung jawab atas serangan teroris, bahkan jika itu berarti angkatan bersenjata AS mungkin menderita ribuan korban.”

Selama dekade berikutnya, pasukan AS di Afghanistan secara bertahap ditarik selama pemerintahan tiga presiden – Obama, Donald Trump dan Joe Biden. Sementara itu, dukungan publik terhadap keputusan penggunaan kekuatan di Afghanistan, yang telah tersebar luas pada awal konflik, terus menurun. Hari ini, setelah keluarnya pasukan AS dari Afghanistan yang penuh gejolak, sebagian kecil orang Amerika (54%) mengatakan keputusan untuk menarik pasukan dari negara itu adalah keputusan yang tepat; sementara 42% mengatakan itu adalah keputusan yang salah.

Sebelum penarikan pasukan AS dari Afghanistan, sebagian besar orang Amerika mengatakan terorisme domestik adalah masalah nasional yang sangat besar (35%) daripada yang mengatakan hal yang sama tentang terorisme internasional. Tetapi jumlah yang jauh lebih besar menyebutkan kekhawatiran seperti keterjangkauan perawatan kesehatan (56%) dan defisit anggaran federal (49%) sebagai masalah utama daripada yang dikatakan tentang terorisme domestik atau internasional (sumber: Pew Research Center).

Bahkan dalam jajak pendapat yang dilakukan USA TODAY/Suffolk University, mereka yang disurvei menyebut pandemi COVID-19 sebagai tantangan yang lebih berbahaya bagi negara daripada serangan teroris pada tahun 2001. Tetapi mereka juga mengatakan bahwa 9/11 mengubah hidup orang Amerika selamanya.

Mereka yang paling muda saat itu, atau bahkan belum lahir, mengatakan bahwa mereka merasakan perubahan yang paling kuat. Dengan rasio hampir 3-1, 72% - 26%, mereka yang berusia di bawah 35 tahun melihat perubahan permanen. Di antara manula, mereka yang berusia 65 tahun ke atas, rasio itu adalah 52%-46%.

 

Apakah Amerika Menjadi Lebih Rentan?

20 tahun setelah serangan teror atas gedung WTC, tidak hanya mengubah persepsi orang Amerika tentang bagaimana pemerintahan negara mereka menentukan kebijakan luar negeri dan membangun kembali citra Amerika pasca hengkang dari Afganistan. Kekhawatiran lebih besar yang dirasakan oleh banyak orang Amerika justru terkait rentannya Amerika dari serangan-serangan selanjutnya di masa mendatang.

Sebagai permulaan, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juni 2021, pada bulan-bulan sebelum pasukan Amerika mundur, sekitar 8.000 hingga 10.000 pejuang jihad yang terkait dengan Taliban dari Asia Tengah, wilayah Kaukasus Utara Rusia, Pakistan dan wilayah Xinjiang di Cina barat mengalir ke Afganistan. Ditambah dengan kehadiran laten Al Qaeda di Afghanistan skenario yang paling mungkin adalah bahwa Afghanistan sekali lagi akan menjadi “Pemain Bintang” dari dunia jihad global, di mana jaringan global gerakan Islam dari segala bentuk dan ukuran dari Afrika Utara hingga Filipina datang untuk bertemu satu sama lain, berjejaring, bertukar ide dan belajar perdagangan terorisme satu sama lain (Hoffman, CFR Expert: 2021).

Afghanistan berbeda dari Yaman, Irak, Libya, dan wilayah tak berpenghuni lainnya. Afganistan memiliki daya Tarik yang dapat memobilisasi pejuang asing di seluruh dunia untuk datang ke sana. Dan tentu saja, peristiwa baru-baru ketika negara adidaya dunia dikalahkan di Afganistan, telah menghidupkan kembali jihad global. Tidak mengherankan, dalam beberapa hari terakhir, sumber Al Qaeda di Suriah mencatat bahwa sejumlah besar di antara kontingen pejuang asing menyatakan keinginan untuk melakukan perjalanan ke Afghanistan sejak pengambilalihan Taliban (sumber: The Reuters).

Bahkan jika Taliban melarang pendirian kamp pelatihan, mereka tidak akan menolak menyediakan “tempat aman” bagi militan Islam yang mencari tanah air bagi gerakan Islamis ini. Afghanistan akan menjadi persimpangan jalan bagi setiap kelompok militan di seluruh dunia dan berpotensi menjadi tempat di mana Taliban dapat menutup mata terhadap pertukaran pengetahuan dan pengalaman teroris ini. Ini akan menjadi lingkungan yang permisif bagi para jihadis. Akibatnya, jika jaringan jihad global memiliki tempat perlindungan untuk regenerasi, itu berarti ancaman terhadap Amerika akan terus meningkat seiring waktu.

Meskipun Al-Qaeda hari ini tidak seperti pada 9/11, terutama setelah tewasnya Osama bin Laden, namun ideologi dan motivasi yang dianut oleh al-Qaeda, tetap kuat seperti sebelumnya.  Tantangan bagi Amerika Serikat adalah merumuskan kemampuan kontraterorisme yang cukup gesit untuk bertahan melawan berbagai ancaman teroris—baik asing maupun domestik—yang pasti akan terus meningkatkan serangan. Namun, perpecahan politik yang ada di Amerika Serikat saat ini dapat merusak implementasi strategi kontraterorisme yang koheren. Kesatuan, tujuan bersama, dan takdir bersama yang menyatukan negara setelah serangan 9/11 tidak ada lagi. Sebaliknya, iklim polarisasi politik saat ini dapat secara efektif melumpuhkan pemerintah dalam mempersiapkan ancaman serangan di masa mendatang.