Sepuluh pasang mata mulai menyembul dari lapisan permukaan air. Sekilas terlihat bagaikan tonjolan gelondongan kayu yang mengambang. Mereka tahu saat hari baru saja dimulai, saat air muara masih bercampur dengan dinginnya embun, itulah saat mereka kembali mencari mangsa. 

Seturut dengan mentari yang malu-malu terbit, rasa lapar itu mulai bangkit. Sepuluh lambung itu membutuhkan pemuasan, tak peduli bila itu bangkai sekalipun sebab mereka buaya.

Dua puluh meter dari muara itu, seorang janda sedari tadi sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Ia memang belum puas mencumbu mimpi-mimpinya semalam. 

Kue-kuenya baru saja selesai dibuat menjelang tengah malam. Waktu tidurnya tak sebanyak anjing-anjing kampung yang saban hari pulas tak kenal waktu, sebab ia memikirkan apa yang tak dipikirkan hewan-hewan semacam itu; nafkah dan dua buah hatinya.

***

Marni, janda dua anak itu tak lagi percaya pada laki-laki. Sejak kegagalan pernikahannya, ia berubah menjadi seorang pejuang dan tulang punggung keluarganya. Ia menafkahi sendiri dua putrinya. Marni melakukan segala cara untuk membuat dapurnya tetap mengepul dan anaknya tetap tersenyum tanpa bapak.

Selepas mengantar Nona dan Nisa, dua putrinya, ia menjajakan kue. Ia mendatangi langsung sekolah-sekolah dan rumah warga. Perjalanannya dimulai sejak embun dan udara pagi masih kental hingga matahari tepat di atas ubun-ubun.

Bersyukur selama ini kue-kuenya selalu laris terjual. Di kampung-kampung, namanya santer didengungkan, “Mirna, si janda penjual kue”. Julukan itu tak lekang oleh waktu. Kue-kuenya, yang dibuat dengan bahan dan teknik seadanya, mendapatkan pasar yang cukup luas. Mulai dari desa di ujung barat sampai desa paling ujung timur.

Mirna mendapatkan keuntungan yang cukup jika tiba saatnya musim hajatan. Dalam acara sunatan, syukuran pernikahan sampai kematian, meja hidangan tak luput dari kue-kue kukus buatannya sendiri. Kadang, ia sampai kelelahan karena harus memenuhi pesanan. Tak ada yang membantunya, sedangkan kedua putrinya masih kecil. Namun, semua kelelahan itu terbayar lunas saat kedua putrinya tersenyum mendapatkan tas baru dan sepatu baru untuk sekolah.

Sejak kejadian di atas ranjang itu, Marni harus mulai pontang-panting mengurus rumah dan membesarkan kedua anaknya. Ia masih trauma dengan pengkhianatan itu. Tanpa bekas dan belas kasih, sang mantan suami enyah tak meninggalkan sepeser pun untuk mengisi piring. Mulai saat itu, selalu ada perih yang tertimbun dan menjelma serupa dendam.

Waktu tak pernah ampuh menghapus sebuah dendam. Rasa itu tetap tumbuh di kedalaman sanubari Marni, bahkan semakin menuntut dengan suara keras. Telah lama Marni merindukan pembalasan terhadap pria yang membuangnya bersama buah hati. Akan tiba saat di mana dendam terbayar tuntas. Ia bahkan sudah menyiapkan tempat peristirahatan kekal bagi si pengkhianat, tepat 20 meter di belakang rumahnya.

***

Mirna sudah memutuskan untuk membenci laki-laki sejak berpisah dengan mantan suaminya. Pria itu telah menelantarkan dirinya dan anak-anaknya demi kenikmatan bersama sang sekretaris desa montok yang baru dikenalnya beberapa hari. Mirna bahkan mendapati langsung mereka di ranjangnya sendiri.

“Laki-laki brengsek. Tidak tahu malu!”

“Kaum pria butuh hiburan. Jika istri tidak bisa memuaskan hasrat suami, apa salahnya jika mencicipi wanita lain sebagai penebusan,” demikian kilah sang suami.

Mirna selalu merasa, laki-laki punya izin untuk berbagai pengecualian. Seorang suami bahkan dianggap wajar jika tidak konsisten pada satu pasangan. Pria meyakini monogami tapi hidup seturut poligami. Begitulah laki-laki adanya. Demikian masyarakat selalu mengamini, seolah-olah dalam setiap pernikahan, seorang istri niscaya harus menerima perselingkuhan dan yang lebih parah berdamai dengannya.

Baca Juga: Dialog Malam Ini

Mirna dan semua perempuan dipaksa patuh pada setiap pengecualian yang dibuat laki-laki. Sebaliknya, kaum laki-laki selalu dipaksa budaya untuk mengabaikan setiap komitmennya. Mirna memang tidak menamatkan pendidikannya, tapi ia juga tidak bodoh. 

Ia melihat titik anomali ini. Berlawanan dengan pandangan lumrah, ia justru berikhtiar untuk melawannya habis-habisan. Itulah Mirna, si penjual kue idealis. Trauma pernikahan telah membantunya tumbuh merekah bagai kue kukus buatannya.

“Tidak hanya kuenya yang enak, molek tubuhnya juga turut membuat dagangannya bertambah laris,” sahut seorang pria desa.

“Saat kau kunyah kue itu, bayangkan kelentikan jari Marni menekan adonan. Bayangkan sintal tubuhnya mendorong terigu lengket, menyandarkan seluruh berat tubuhnya agar campuran menjadi bongkah padat. Bayangkan gempal liuk panggulnya saat menggoreng donat-donat di atas wajan panas. Bayangkan titik-titik peluh yang mengalir sepanjang tubuh dalamnya…..” sambung penjual tahu bersemangat.

Marni tidak saja dikenal karena keampuhan kuenya memanjakan lidah orang, melainkan pula karena paras tubuhnya yang menggugah selera para pejantan. Janda dua anak itu jauh lebih molek daripada pemudi-pemudi yang suka bersolek dan yang bergincu tak tahu aturan.

“Bodoh sekali si suami. Kok bisa-bisanya melepaskan Marni demi sang sekretaris binal itu?” Semua pria sudah mendengar kabar perselingkuhan si suami, tapi sampai sekarang masih juga tidak mengerti alasannya.

Bertambah satu lagi pengecualian kaum laki-laki: mengejar nafsu, melawan rasionalitas. Di bawah nafsu, segala larangan dan pantangan boleh diabaikan, bahkan yang rasional sekalipun.

***

Pukul satu siang, selepas sekolah, Nona pulang dengan ratapan yang terisak-isak. Ada sobekan-sobekan kecil pada seragamnya. Punggungnya menghitam seolah-olah usai berbaring di tanah. Ia hanya mengenakan sepatu kiri. Tangannya memeluk tubuh mungilnya erat-erat seakan berhasrat untuk sirna dari muka bumi.

Dengan tangan yang masih bertotolan adonan, Marni memeluk anaknya. Tangisan pilu tak bisa lagi terbendung dari pelupuk mata Nona. Isakan yang hebat sempat membuat Marni kesulitan mencerna ceritanya. Lamat-lamat, dengan angkara murka yang tak sanggup lagi ditahan, tahulah Marni bahwa sang mantan suaminya telah melecehkan Nona, darah dagingnya sendiri.

Tubuh Marni terduduk bisu. Sorot matanya nanar tak beremosi dan kosong ekspresi. Tak puas dengan semua wanita di kampung, kini anak sendiri yang jadi korban. Begitulah laki-laki adanya. Ia teringat betapa telah menjadi bodoh kaum wanita saat melihat itu semua sebagai kewajaran.

Nyala api telah tersulut. Kini pengampunan telah padam. Tangisan Nona yang tertumpah di tanah dan tubuhnya yang sudah terkoyak birahi menjadi cap darah atas sebuah dendam yang terlanjur membara dan harus dituntaskan.

Alat itu tergeletak di atas meja setengah terbalut tepung. Sebuah silinder kayu padat yang biasa digunakan Marni untuk memipihkan adonan. Benda tersebut terasa jauh lebih berat kini di tangannya. Namun, bukan lagi pada adonan kue ia akan berperan di tangan Marni.

Seperti hutang, dendam memang harus ditagih paksa.

***

Langit setengah kemerahan. Tanda sebentar lagi pagi merekah seperti biasanya. Hutan belakang rumah Marni masih gelap gulita, meskipun ayam telah berkokok. Kedua putrinya masih di atas ranjang, tertidur lelap sebab saat bangun belum tiba.

Dengan peluh yang masih mengguyur tubuhnya, Marni sudah berada di tepi muara, tepat 20 meter belakang rumahnya. Tangan kanannya masih menenteng silinder kayu pemipih adonan. Dengan segera, dari balik permukaan air muara, muncul secara perlahan-lahan, sepuluh pasang mata mungil. Marni menghitungnya sendiri. Sudah genap. Gelembung-gelembung halus bermunculan dan air mulai beriak-riak.

Lima menit kemudian, dengan senyum terkembang, permukaan muara menjadi sebuah kekacauan. Muara tak lagi setenang cermin datar. Air pecah ke mana-mana saat sepuluh moncong bergigi berlomba merobek bongkahan yang mengambang itu. 

Geligi mereka merobek dan memutarnya tanpa ampun. Permukaan air seakan baru saja dituangkan pewarna merah pekat. Bongkahan yang tadinya utuh kini tercabik menjadi beberapa bagian, menyisakan sobekan-sobekan daging dan kain kecil yang mengambang di sekitar kekacauan itu.

Buaya harus kembali kepada buaya, ujarnya dalam hati.

Dendam telah terbayar, tepat 20 meter di belakang rumah. Sepulang dari muara, Marni menyiapkan sarapan, mengantar kedua putrinya ke sekolah, kemudian berjualan kue keliling seperti hari-hari biasanya.