Karena lagi free sembari menunggu teman menjemput, saya ingin menulis unek-unek ini di Qureta.com ─ untuk melengkapi dunia perdongkolan kita. (Ya moga-moga tulisan ini mendapat restu editor agar bisa dimuat. Kalau tidak, mungkin memang belum jodoh, hehe). Bismillah.

Saya hidup di tengah-tengah masyarakat yang boleh dikata tidak bisa hidup tanpa rokok. Mulai dari keluarga, guru-guru, sampai teman-teman sepantaran saya. Semuanya adalah para budak rokok atau saya biasanya mengistilahkannya dengan: ‘burok’.

Sebenarnya saya sendiri juga tak begitu masalah dengan perokok. Benar merokok itu memang karep-karepmu, tapi toh kan ada namanya etika. (Kenapa rasanya mau nge-gas ya?)

Saya yakin bagi minoritas yang hidup di tengah-tengah para burok seperti saya juga sudah lama memendam kekesalan seperti apa yang kini tengah saya rasakan. Asek....

Oke, saya singkat saja. Setidaknya ada dua hal yang menurut saya membuat perokok (Burok) itu menyebalkan:

1. Tak Tahu Bertoleransi terhadap Mereka yang Tidak Merokok

Ya, kita tahu burok-burok ini jumlahnya tergolong buanyak. Hampir di setiap kolong jagat raya ini mereka ada. Termasuk di tempat saya tinggal. Mereka adalah penduduk mayoritas, sementara kami yang bukan perokok adalah minoritas. 

Namun sayang, mereka (mayoritas-mayoritas) ini kerap kurang bertoleransi kepada orang-orang yang tak begitu doyan memamah asap, seperti saya. Kalau pun ada, itu langka. Ya, paling-paling satu-dua orang saja. Sisanya, yahhh ... Begitulah.

Misal, ya:

Saya termasuk orang yang sering mengikuti diskusi-diskusi kampus. Bukan karena rajin sih, hanya gabut saja sebagai mahasiswa kupu-kupu yang menganggur tak jelas.

Dalam suatu diskusi yang pernah saya ikuti, saya melihat bahwa seluruh peserta diskusi (termasuk si pemantik diskusi) adalah para perokok aktif, kecuali saya dan tiga perempuan lain, sebut saja namanya Sea, Soi, dan Sio yang juga duduk tak jauh dari tempat saya. 

Memang di awal-awal diskusi kami masih menikmati jalannya diskusi tersebut, selain karena tema diskusinya yang menarik, juga karena cemilan yang disediakan. 

Tapi semua berubah ketika salah seorang peserta mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya dan menyedekahkan rokok tersebut ke seluruh peserta diskusi lain yang notabene juga adalah para burok. Tak heran di sana lah saya mulai mendongkol sejadi-jadinya. (Sebelumnya saya juga ditawari satu-dua batang rokok, tapi saya menolak.)

Tak berselang lama usai kenduri rokok tersebut tempat diskusi kami sontak saja penuh dengan asap ─ mengepul bak Kota Hiroshima dan Nagasaki yang baru saja habis di bombardir tentara sekutu. Saya dan tiga perempuan tadi pun batuk-batuk. (Bukan batuk yang dibuat-buat untuk memberi isyarat supaya mereka mengerti dan berhenti merokok. Tapi batuk yang sebenar-benarnya batuk!) 

Memang bagi mereka yang saban hari bergumul dan bercumbu dengan rokok mungkin tak ada masalah dengan asap, tapi bagi kami yang tak doyan rokok tentu saja menganggap itu masalah dan tentu sangat mengganggu. Pasalnya, selain karena saya/kami memang tidak suka asap (jenis apapun!), juga karena di pikiran kami sudah bercokol kredo bahwa asap rokok itu memang berbahaya. 

Akibatnya, diskusi itu pun tak lagi kondusif untuk kami. Selagi mereka sedang asyik-masyuk mendengarkan diskusi dengan sebatang rokoknya, kami malah sibuk bertarung dengan asap rokok yang entah dari mana rimbanya ─ itu.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan pribahasa, "karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

Memuncaknya rasa kesal saya adalah ketika para burok-burok ini dengan sembarangan membuang asap mereka tanpa peduli pada kami. Namun, walau demikian saya sendiri jua tak cukup berani untuk melarang ataupun memprotes. Sekali pun Sang Iblis sudah bertahta di ubun-ubun.

Memang simalakama juga; di satu sisi saya sudah cukup kesal ─ dan ingin sekali menyumpahi si k*mp*et, tapi di sisi lain saya juga tak berani menegur; Menahan kekesalan itu memang tak mudah. Mau pindah ke tempat lain pun juga tak bisa karena sudah tak ada lagi tempat selain ─ itu. Ingin keluar forum pun juga nanggung. Saya sudah tawakkal. 

Tapi Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar (Innallaha mahassobirin); Selalu ada harapan. Singkat kata singkat cerita, perempuan ─ yang sependeritaan dengan saya, sebut saja si Sio yang juga sedaritadi jua ikut menahan kesal yang sama itu pun akhirnya berani angkat bicara dan melempari para burok-burok tersebut dengan alat tulis yang ia punya, seperti pulpen dan buku yang juga bonyok diremasnya karena sejak tadi sudah menahan kesal.

“Jangan merokok di sini! Kamu yang senang, kita yang siksa!” Pekiknya di hadapan kami semua. Tentu saja hal itu membikin saya dan para burok-burok tadi terkejut luar biasa bak kucing yang habis terkena siraman qolbu, eh siraman air. (Memang benar ya kata Naruto kalau perempuan marah itu menyeramkan!)

Saya tentu sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Sio. Saya sampai cengar-cengir sendiri. 

Sebagai salah satu peserta yang terzolimi di tempat itu, saya merasa kekesalan saya sudah terwakili oleh amukan si Sio tersebut yang mana berhasil membuat forum diskusi kami menjadi lebih steril dari serangan nikotin, benzena dkk itu, ─ meskipun itu sempat membuat diskusi kami silent beberapa saat. 

Well, demi kelancaran diskusi dan kenyamanan bersama, si moderator pun akhirnya meminta kepada para burok-burok tersebut agar untuk tidak merokok selama diskusi berlangsung.

Alhasil, mereka pun mematikan rokoknya walau dengan berat hati sembari menampilkan wajah kusut mereka bak kanebo kering itu. 

Saya pun membatin: mampus!

2. Melakukan Segala Cara untuk Mendapatkan Rokok

"Merokok, mati. Tidak merokok, mati. Lebih baik merokok sampai mati." 

Itu kiranya wejangan yang kerap saya dengarkan dari teman-teman yang coba menceramahi saya soal rokok. Artinya kurang lebih; merokok atau tidak ya manusia tetap mati juga.

Ya, kalau soal itu sih monyet juga tahu, Ferguso. Manusia memang tetap mati, entah apapun yang ia lakukan, terlepas dari apakah ia seorang burok atau tidak. 

Jadi, menurut hemat saya, pertanyaan kita bukan terletak pada soal mati atau tidaknya; pertanyaan kita adalah, matinya seperti apa dulu? 

Kalau saya sendiri sih (ciee yang bertanya sendiri dan jawab sendiri) tidak mau mati hanya gegara mengonsumsi asap; itu adalah cara mati yang paling aneh dan tak berkelas, menurut saya. Kenapa tidak cari cara mati yang lebih epik dan terhormat? Mati ketiban buku di perpustakaan atau mati pas sujud dalam solat misalnya. MasyaAllah ughteaaa ....

Saya ngomong apa, sih.

***

Oke, kembali ke topik.

Di ekosistem saya, terutama di lingkungan pergaulan saya. Teman-teman saya yang burok-burok tadi tidak bisa sehari saja tanpa rokok. Jika di latin ada kredo "sine amor, nihil est vita" (tanpa cinta, hidup tak berarti), maka bagi mereka "tanpa rokok, hidup tak berarti". 

Sekali pun tak ada uang, mereka akan mulai mencoba menggeledah setiap sudut rumah/kosan untuk mencari satu koin/lembar uang atau apapun yang memungkinkan bisa dijadikan alat pembayar rokok di warung. Pokoknya melakukan apapun! Kendati ada yang sampai mau menggadaikan handphone atau laptopnya. (Ini serius lho. Lah wong yang bantu menggadaikan juga saya.)

Buat apa? Buat sebatang rokok, Bung! Ini mah kecanduan tingkat akhirat namanya! Candu sih candu, tapi waras itu wajib!

Maksud saya, kalau uangnya belum ada ya jangan memaksakan diri. Sesuaikan lah dengan kondisi finansial masing-masing. Belum lagi kalau hanya gegara kebutuhan ngasep itu kalian malah merepotkan dan justru menyusahkan orang lain. 

Pernah satu waktu, salah satu teman ─ mencoba meluruskan kesesatan pikiran saya.“Eh, kamu tidak tahu, banyak ilmuwan, filsuf atau cendikiawan yang perokok!”Ujarnya. Ia menilai, rokok adalah cara menikmati hidup.

Saya mengaminkan itu. Memang benar beberapa cendikiawan atau filsuf di antaranya juga adalah perokok aktif; Camus dan Sartre, misalnya. Tapi nggak begitu-begitu juga kaleee. (Harap bedakan ya orang yang merokok sekadar merokok dengan para 'burok'). 

Andai kata dahulu Sartre burok seperti ini, tentu Simon tak akan mau menjalin asmara 'kumpul kebo' mereka yang penuh haru-biru itu. Atau ─ Camus mungkin bakal kesulitan merumuskan konsep absurditas dan kisah Sisifus-nya yang kesohor itu hanya gegara mempertanyakan: "mati sambil ngeburok atau tidak sama sekali!?" 

Bukankah Camus hanya menjelaskan dua opsi saja bagi manusia pada umumnya dalam menjalani hidup mereka yang menyebalkan dan absurd itu? Bunuh diri atau meneggelamkan diri dalam agama.

Namun demikian, alih-alih memilih di antara keduanya (bunuh diri dan agama), Camus lebih memilih opsi yang ketiga, yaitu revolt (lompatan atau pemberontakan). Laiknya Sisifus, ia menganjurkan manusia untuk menikmati dan mencintai hidupnya yang serba nggak jelas itu. Jika meminjam bahasa Nietzsche, ini diistilahkan dengan 'Amor Fati'. 

Dan tentunya cara untuk menikmati hidup itu banyak, kita bisa memilihnya, tapi ngeburok bukan satu-satunya! Menurut hemat saya, kita sah-sah saja menikmati hidup dengan cara apa pun, tapi bukan berarti itu menjadi dalih pembenaran kita untuk mengganggu kesenangan dan kenyamanan orang lain hanya demi membuat kita lebih mencintai dan menikmati hidup. 

Seperti kata si Sio tadi, jangan sampai kita bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Kecuali kalau Anda memang adalah seorang psikopat.

So, menjadi budak rokok dan tetap waras adalah dua hal yang berbeda. Saya kira sudah barang tentu bertentangan dengan konsep Sartre sebagai eksistensialis tulen ─ bahkan oleh Camus sendiri. (Ini menurut pemahaman saya lho, ya.)

Tapi ya sudahlah, karena berhubung teman saya sekarang sudah datang menjemput mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan dalam perdongkolan ini. Yang jelas saya tidak membenci perokok, kesal saja. (Sama aja, Bambang!) 

Namun, saya harapkan teman-teman yang perokok tetap selalu mawas diri dan jua selalu memperhatikan kondisi orang lain ketika merokok, terutama mereka yang tidak merokok dan juga yang tak suka merokok; Saya kira ada etiknya.

Alih-alih esai, ini mungkin lebih mirip erangan bin curhat. Tapi semoga pembaca yang budiman bisa mengerti. Saya juga akan sangat berterimakasih kalau setiap pihak, sedulur, dan bung-bung sekalian bisa menyimak dan mempertimbangkan hal ini dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Wasalam.