2 tahun lalu · 1024 view · 11 min baca menit baca · Keluarga baby-handle-tiny-father-51966.jpeg
Foto: pexels.com

15 Nasihat untuk Anakku yang Belum Terlahir

Nak, ayah punya nasihat untukmu yang kelak bisa kamu jadikan pedoman dalam mengarungi bahtera kehidupan bersama orang-orang yang memiliki perbedaan keyakinan. Hendaklah nasihat ini kamu pegang erat agar kelak kamu tumbuh sebagai manusia yang penuh kasih sayang dan mampu menjadi rahmat, bukan hanya bagi orang-orang Islam, tapi juga bagi orang-orang yang berbeda iman.

Nasihat ini ayah tulis ketika negeri kita tercinta ditimpa kerusuhan gara-gara sebuah kasus yang sejujurnya tak perlu dibesar-besarkan. Kerusuhan tersebut bermula ketika salah seorang Kristen bernama Ahok dituduh secara zalim sebagai penista al-Quran padahal dia tak bermaksud untuk menistakan—dan memang faktanya tidak ada penistaan yang dia lakukan—bahkan sudah meminta maaf secara terang-terangan.

Ayah menulis ini di usia 22 tahun ketika masih sekolah di Kairo. Tak bisa dimungkiri bahwa Ayah saat ini sangat gerah dan muak dengan sikap Agamawan yang tampaknya tidak mampu menyikapi persoalan tersebut dengan cara-cara yang elegan dan mencerminkan kedewasaan. Yang mereka lakukan sungguh telah memalukan Islam yang kita muliakan.

Sayangnya mereka tidak sadar. Entah kenapa. Padahal mereka jauh lebih tua dari ayah. Bahkan mereka sudah telanjur disebut ulama yang dihormati oleh banyak orang. Namun sayang, alih-alih menjadi ulama yang mendinginkan suasana, mereka malah menerbitkan fatwa yang menjadi pemicu kerusuhan dan keresahan di negeri kita.

Ayah hanya berpesan agar kelak kamu tidak menjadi seperti mereka. Kalau kamu kelak ditakdirkan sebagai kiai atau ulama, ayah tak ingin kamu menjadi ulama yang cengeng dan bertingkah seperti anak TK yang doyan marah-marahan. Jadilah ulama yang mendinginkan, bukan meresahkan.

Jadilah ulama yang menentramkan, bukan merisaukan. Jadilah ulama yang tegas dalam menegakkan keadilan, bukan menzalimi orang dengan bungkusan ayat-ayat Tuhan. Ayah ingin menyampaikan beberapa butir nasihat yang kelak bisa kamu jadikan sebagai pedoman. Inilah nasihat ayah, nak. Semoga kamu berkenan untuk mendengarkan.

1. “Nak, kamu harus tahu bahwa kamu adalah ciptaan Tuhan yang lebih mulia dari malaikat dan makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Kamu adalah makhluk yang mulia karena kamu berasal dari Tuhan yang Maha Mulia dan dimuliakan oleh yang Maha Mulia. Tuhan telah membekalimu dengan dua hal: hati dan akal pikiran.

Gunakanlah akalmu untuk mencari kebenaran. Dan tautkanlah hatimu kepada Tuhan yang dapat menuntunmu menuju jalan kebenaran. Fungsikanlah dua anugerah Tuhan itu dengan sebaik-baiknya dalam mengarungi kehidupan. Dengan memfungsikan dua hal itu niscaya kamu tidak akan terjerumus kedalam kesesatan. Dengan memfungsikan dua hal itu niscaya kamu akan menjadi orang yang paling bahagia, baik di dunia, maupun di alam keabadian.”

2. “Nak, di dunia ini kamu tidak hidup sendirian. Di luar sana kamu akan berjumpa dengan orang-orang yang berbeda keyakinan. Namun, kamu harus tahu, bahwa meskipun kamu dan mereka berbeda keyakinan, ketahuilah bahwa kamu dan mereka adalah sama-sama ciptaan Tuhan yang telah mendapatkan kemuliaan.

Mereka tidak boleh kamu rendahkan apalagi kamu benci dengan semangat permusuhan. Mereka semua adalah makhluk Tuhan yang sama-sama harus kita muliakan.

Menistakan mereka sama dengan menistakan keagungan Tuhan yang telah menciptakan mereka dari ketiadaan. Dan memuliakan mereka sama dengan memuliakan Tuhan yang telah memuliakan mereka dan kita seperti yang tertera dalam al-Quran. Karena itu, jangan sekali-kali kamu merasa lebih baik dari mereka, sekalipun kamu dan mereka berbeda keyakinan. Muliakanlah mereka, karena mereka semua adalah ciptaan Tuhan.”

3. “Nak, kamu harus sadar bahwa perbedaan keyakinan bukanlah kehendak manusia, melainkan kehendak Tuhan. Karena itu, kamu pun harus sadar bahwa tugas kita sebagai hamba Tuhan bukanlah menyeragamkan keyakinan, melainkan mengajak mereka untuk sama-sama belajar mencari kebenaran.

Mereka yang berbeda keyakinan dengan kita tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan di lingkungan Agama Kristen, Hindu, Budha dan Agama-agama lainnya. Tidak pernah. Tuhanlah yang menghendaki mereka untuk terlahir dan tumbuh dewasa di lingkungan yang berbeda-beda itu.

Sejak kecil kamu hidup di lingkungan umat Muslim, maka sangat wajar jika ketika dewasapun kamu tumbuh sebagai Muslim. Sejak kecil mereka hidup di lingkungan non-Muslim, maka sangat wajar jika ketika dewasapun mereka tumbuh sebagai orang-orang non-Muslim. Kamu harus menyadari fakta ini agar kamu bisa belajar memahami kondisi mereka yang ditakdirkan hidup di lingkungan yang berbeda itu.

Jangan mudah kamu mengafirkan mereka apalagi memastikan mereka sebagai Ahli neraka. Surga dan neraka adalah milik Yang Maha Kuasa, bukan milik kita. Hanya Dialah yang berhak memberi kata putus atas seluruh perselisihan yang terjadi di antara hamba-hamba-Nya. Kamu dan mereka memiliki tugas yang sama, yaitu mencari kebenaran dan mengabdikan diri kepada-Nya dengan sebaik-baiknya pengabdian.”

4. Nak, sebagai Muslim kamu mengimani kenabian seorang rasul bernama Muhammad Saw, di samping mengimani Musa dan Isa As. Sementara mereka tidak. Namun, harap diingat dengan baik, ketidak-berimanan mereka kepada Nabi kita jangan sampai membuatmu benci apalagi menistakan keyakinan mereka. Ayah tidak rida jika kamu melakukan hal demikian.

Ajaklah mereka untuk beriman dengan ajakan yang halus, lembut dan penuh kasih sayang. Jika mereka menolak, jangan sekali-kali kamu membenci mereka dan memastikan mereka sebagai ahli neraka. Biarlah segala urusan akhir itu kamu serahkan kepada Tuhan. Tugasmu sebagai manusia hanyalah menyampaikan, bukan memaksakan.

Mereka harus kita ajak, tapi bukan dengan cara-cara yang kasar apalagi dengan hinaan dan paksaan. Hindarilah segala jenis perkataan dan perbuatan yang bisa membuat mereka sakit hati agar mereka tidak memandang Agama kita dengan mata kebencian. Perlakukanlah mereka sebagai saudara seiman meskipun pada hakikatnya kamu dan mereka berbeda keyakinan.”

5. “Nak, Agama kita adalah Agama cinta dan kasih sayang, bukan Agama kebencian apalagi Agama bunuh-bunuhan. Sayangilah orang-orang yang berbeda keyakinan denganmu, sebagaimana kamu menyayangi orang-orang yang seiman denganmu. Perbedaan keyakinan antara kamu dengan mereka tak boleh memberikan ruang kebencian dalam hatimu.

Anggaplah mereka sebagai kakak atau adikmu. Hiduplah bersama mereka dengan mesra dan penuh kasih sayang. Tunjukanlah kepada mereka bahwa Agamamu mengajarkan kebaikan, bukan keburukan. Agamamu mengajarkan kasih sayang, bukan kebencian. Agamamu mengajarkan cinta, bukan permusuhan.

Agamamu mengajarkan kedamaian, bukan kerusuhan. Agamamu mengajarkan kesantunan, bukan kekerasan. Agamamu adalah agama rahmat bagi seluruh alam.”

6. “Nak, kamu harus memegah teguh prinsip bahwa perbedaan keyakinan antara kita dan mereka tak boleh memberikan ruang bagi kita untuk melakukan kezaliman. Tegakanlah keadilan kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Dan tolaklah kezaliman sekalipun kezaliman itu dilakukan oleh saudara-saudaramu yang seagama dan seiman.

Jika kelak orang yang berbeda keyakinan denganmu itu dizalimi oleh saudara-saudaramu seiman, belalah mereka meskipun nyawamu yang kelak akan menjadi taruhan. Niatkanlah pembelaanmu untuk membela Agama Allah karena Agama Allah sangat menjunjung tinggi keadilan. Membela mereka sama dengan membela ajaran Islam. Kamu jangan takut dengan segala macam cacian, hinaan ataupun ancaman yang mereka berikan.

Ingatlah bahwa di sana ada Allah yang akan senantiasa melindungimu dari segala jenis keburukan. Kalaupun kamu mati karena membela mereka, ketahuilah bahwa kamu akan mati dengan membawa kemuliaan. Karena kamu sedang membela Agama Tuhan, meskipun saudara-saudaramu akan mengira bahwa kamu telah mati karena membela orang-orang yang tidak beriman.”

7. “Nak, sesekali kamu bermainlah ke gereja dan tempat ibadah umat Agama lain untuk melihat keagungan Tuhan. Di gereja kamu akan berjumpa dengan orang-orang yang mengagungkan Isa Almasih As yang kita yakini sebagai utusan Tuhan sebelum Muhammad Saw. Keyakinan kita dengan mereka akan Almasih memang berbeda. Kita meyakinannya sebagai utusan Tuhan, sementara mereka meyakininya sebagai Tuhan.

Namun demikian, sekali lagi, perbedaan keyakinan tersebut tak boleh membuatmu benci kepada mereka apalagi mendorongmu untuk menyatakan kebencian dan permusuhan. Jika kamu memasuki gereja, ucapkanlah salam kepada orang-orang di dalamnya sebagaimana kamu mengucapkan salam kepada saudara-saudaramu yang seiman. Tunjukan kepada mereka bahwa Agama kita adalah Agama kedamaian, bukan Agama kebencian.

Kamu juga boleh salat di dalamnya. Karena gereja adalah salah satu tempat ibadah yang diakui dalam al-Quran. Jika kelak kamu terbang ke Eropa, misalnya, kemudian di sana kamu tidak menemukan tempat ibadah selain gereja, bukanlah hal yang terlarang jika kamu melaksanakan salat di dalamnya.

Kalau terpaksa harus salat di sana, salatlah. Tunjukkan kepada para penguni gereja bahwa Agama kita memuliakan gereja sebagaimana memuliakan Masjid, Sinagog dan tempat-tempat ibadah lainnya karena semuanya adalah tempat di mana Tuhan diagungkan.

8. Nak, sebagaimana mereka tidak melarang kita untuk masuk kedalam gereja, sebagai Muslim kamu pun tidak boleh melarang mereka untuk masuk ke dalam Masjid. Baik gereja maupun masjid keduanya adalah tempat di mana Tuhan diagungkan.

Jika mereka meminta izin kepadamu untuk melangsungkan ibadah di dalam masjid, izinkanlah, karena sesungguhnya hal itu tidak terlarang. Jika mereka meminta izin kepadamu untuk membaca al-Quran, izinkanlah, karena sesungguhnya al-Quran adalah kitab suci seluruh umat manusia, bukan hanya kitab suci orang-orang Islam.

Jika mereka bertanya kepadamu tentang Islam, jawablah dengan jujur dan sampaikan dengan bahasa yang penuh dengan kesantunan. Sampaikan kepada mereka bahwa Islam bukan hanya Agama Nabi Muhammad Saw semata, tapi Islam adalah Agama Tuhan yang dibawa oleh seluruh utusan Tuhan, termasuk di dalamnya Musa dan Isa As. Nabi Muhammad Saw hanya melanjutkan saja ajaran para nabi sebelumnya.

Ajaklah mereka untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw agar keimanan mereka sempurna dengan mengimani seluruh utusan Tuhan. Tapi jika mereka menolak, sekali lagi, kamu tidak boleh merendahkan mereka apalagi menyatakan permusuhan. Mereka adalah saudara-saudara kita yang tetap harus kita muliakan.”

9. “Nak, jika kelak kamu berteman dengan orang-orang yang berbeda keyakinan, hiduplah bersama mereka dengan mesra dan penuh kasih sayang. Jika temanmu yang Kristen merayakan hari natal, berilah temanmu itu ucapan selamat karena sesungguhnya mengucapkan selamat atas hari raya umat Agama lain itu tidaklah terlarang. Kalau perlu hadiahi mereka dengan hal-hal yang mereka suka agar mereka merasakan kegembiraan di hari raya yang mereka agungkan.

Jika hari raya Idul Fitri tiba, kamu pun boleh mengajak sahabatmu yang berbeda keyakinan itu untuk merayakan lebaran bersama keluarga tanpa harus memaksa mereka untuk berpindah keyakinan. Bergembiralah di hari raya kalian masing-masing. Dan berbuat baiklah kepada mereka sekalipun kamu dan mereka tersekat oleh perbedaan iman.”

10. “Nak, kamu harus tahu bahwa tidak seluruh orang di luar Agama kita itu benci dengan Agama kita. Di antara mereka ada yang suka, ada yang tidak. Kamu jangan pernah memukul-rata bahwa semua non-Muslim itu adalah musuh kita yang harus kita musuhi bersama. Kalau kamu meyakini hal itu, berarti kamu mendustakan ayat al-Quran yang mengatakan bahwa mereka itu tidaklah sama. Berhati-hatilah dalam menilai mereka.

Kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam isi hati seseorang. Bisa jadi hati mereka sudah beriman. Tapi mereka tak mau mengutarakan keimanan mereka karena mendapatkan perlakuan yang tidak wajar dari saudara-saudara kita yang seiman. Karena itu, jangan pernah kamu menjadi penghalang mereka untuk mendapatkan hidayah Tuhan.”

11. “Nak, jika kelak kamu berjumpa dengan orang yang menistakan Agamamu, atau Nabimu, peluklah orang itu dengan mesra agar ia sadar. Jangan kamu balas penghinaan mereka dengan penghinaan serupa. Kalau hinaan mereka kamu balas dengan perlakuan yang tidak wajar, seperti yang dilakukan oleh sebagian umat Islam sekarang, ketahuilah bahwa kamu sudah melakuan kebodohan bahkan membuat Agamamu semakin tercela di mata orang-orang yang berbeda keyakinan.

Jika suatu waktu kamu mendengar bahwa Agamamu telah dinistakan, kamu jangan mudah terprovokasi dan terjebak ke dalam hasutan orang-orang yang memiliki kepentingan. Pastikan terlebih dahulu apakah orang tersebut menghina atau tidak. Jika tidak, kamu ingatkan saudara-saudaramu yang bersikap secara berlebihan. Dan jika ya, kamu datangi orang itu dan katakan kepadanya bahwa Agamaku tidak seperti yang engkau sangkakan.

Ingatkanlah ia dengan bahasa yang ramah dan penuh kelembutan, bukan dengan bahasa-bahasa yang kasar apalagi menuntut yang bersangkutan untuk dipenjarakan. Dengan cara seperti itulah kita bisa menghindari terjadinya permusuhan. Dengan cara seperti itulah seseorang yang tadinya benci dengan Agama kita akan sadar bahkan boleh jadi menjadi bagian dari saudara-saudara kita yang seiman.”

12. “Nak, kalau kelak kamu menjadi rakyat biasa dan di kotamu adalah pemilihan Gubernur, pilihlah mereka dengan mempertimbangkan keterpercayaan dan kemampuan. Jika ada pemimpin seiman yang lebih mampu dan lebih terpercaya, pilihlah orang yang seiman. Tapi jika ada orang non-Muslim yang lebih baik dari saudara seiman, kamu tak perlu ragu untuk menjatuhkan pilihan kepada orang-orang yang berbeda keyakinan.

Tunjukan kepada orang-orang non-Muslim bahwa Agama kita bukanlah Agama yang egois.

Perbedaan keyakinan tak lantas menutup ruang kerjasama antara kita dengan mereka dalam membangun kemaslahatan. Ketahuilah bahwa soal kepemimpinan adalah soal keduniawian, bukan keimanan. Yang akan diurus oleh seorang pemimpin adalah soal kesejahteraan, bukan soal iman. Karena itu, yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih pemimpin adalah kredebilitas dan kemampuan.

Kecuali jika kelak terbukti dengan jelas bahwa yang bersangkutan memusuhi Agama kita secara terang-terangan. Ketika itu kamu dilarang untuk memilih mereka, karena memilih mereka dapat menimbulkan kerugian. Jangan kamu hiraukan orang-orang bodoh yang suka mempolitisasi ayat al-Quran. Biarlah kelak mereka sendiri yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Tuhan.”

13. “Nak, berpegang teguhlah kepada ajaran al-Quran dan Sunnah yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah Saw. Rajin-rajinlah membaca salawat kepada Rasulullah Saw agar kamu mendapatkan bimbingan di saat hatimu bimbang dan tak mampu membedakan mana kebatilan dan mana kebenaran. Jika kamu rajin membaca salawat kepada Nabimu, ia akan menuntunmu menuju jalan yang benar.

Dengan rajin berselawat kepada Rasulullah Saw hatimu akan tenang, lembut dan lapang sehingga kamu bisa menjadi orang yang toleran dan penuh kasih sayang. Duduklah bersama para ulama yang ajaran-ajarannya menyejukkan dan menentramkan. Jangan kamu ikuti ulama yang suka marah-marahan, penuh kebencian apalagi yang suka mengafirkan saudara-saudara mereka yang seiman.”

14. “Nak, sembahlah Tuhanmu dengan cinta dan kerelaan, bukan dengan paksaan apalagi dengan rasa keberatan. Ikhlaskanlah hidupmu untuk Tuhan, bukan untuk makhluk yang diliputi kelemahan. Ketahuilah bahwa kebahagiaan sejati bukan ketika kita dikarunia harta kekayaan. Kebahagiaan sejati akan kita dapatkan tatakal kita dekat dan mampu mengenal Tuhan, baik ketika kita dikarunia kekayaan, maupun di saat kita tersungkur dalam tempurung kemiskinan.”

15. “Nak, ketahuilah bahwa dunia ini fana. Sepanjang apapun usiamu di alam dunia, kelak kamu akan berjumpa dengan Tuhan yang telah menciptakanmu di alam baka. Keimanan dan amal perbuatanmu akan kamu pertanggung-jawabkan di hadapan-Nya. Pegahlah keyakinanmu sebagai Muslim dengan erat sampai kelak ajalmu tiba. Jangan sampai kamu menggadaikan Agama dan keyakinanmu untuk kepentingan-kepentingan dunia yang fana dan tidak ada artinya.

Ingatlah bahwa setinggi apapun jabatanmu ketika di dunia, kamu akan kembali kepada Tuhan sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya, bukan sebagai penguasa yang gagah perkasa. Nak, kematian itu pasti akan tiba.

Jika kelak kematian itu tiba, maka katakanlah: “Asyhadu An la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.” (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah). Peganglah keyakinan itu dengan teguh, niscaya kamu akan bahagia di alam sana.

Ayahmu, Muhammad Nuruddin.

Kairo, Saqar Quraish, 27 Januari 2017 

Artikel Terkait