Penikmat kopi
1 minggu lalu · 554 view · 3 min baca · Politik 73679_13107.jpg
Foto: liputan6

14 Tahun Aceh Gagal Merdeka

Hari ini 14 tahun yang lalu (15 Agustus 2005) terjadi kesepakatan damai antara GAM-RI. Momen itu sekaligus mengawali gagalnya Aceh menjadi negara baru yang terpisah dari Jakarta. Setelah melalui beberapa meja makan akhirnya kedua pihak sepakat duduk di meja runding.

Setelah perdamaian terjadi, Aceh tak beda jauh dengan provinsi lain di Indonesia. Benar ada beberapa kewenangan khusus yang dimiliki namun itu hanya pemanis dan peredam gejolak. Ibarat bius yang diberikan sebelum operasi dilakukan terhadap pasien.

Operasi selesai. Luka itu masih membengkas. Bukan mustahil sakit akan semakin parah suatu hari nanti. Janji-janji mulai diingkari. Kewenangan mulai diamputasi. Angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi.

Realitas ini harus dihadapi. Kalaupun tak mampu disyukuri ya nikmati saja. Meski kemerdekaan Aceh semakin jauh. Lebih jauh dari pandangan mata terhadap bintang di langit. Tapi jangan menyerah.

Ini ujian. Aceh sudah lulus dengan konflik bersenjata. Lulus pula dari bencana. Semoga dapat lulus dari perilaku elit Aceh yang sibuk berebut kuasa. Melupakan rakyatnya sendiri.

Kue kekuasaan yang teramat kecil tak mampu dimanfaatkan. Malah dimudharatkan. Mereka lupa kekuasaan hanya sepintas lalu, bak iklan di televisi. Darah para syuhada belum kering, air mata masih tersisa tapi mereka malah berebut kuasa.


14 tahun sudah Aceh gagal merdeka. GAM (Gerakan Aceh Merdeka) telah tiada. Kombatannya sudah terbelah, ada yang menjadi politisi, petani, pedagang bahkan ada yang tak tahu kemana mencari nafkah. 

Tak perlu pula bersedih. Ini takdir yang indah. Setidaknya masih tersisa harapan selama kita mau berbuat. Tidak harus besar yang terpenting bermakna. Yakin saja Aceh bakal berpisah dari Jakarta. Entah kapan.

GAM Baru

GAM (Gerakan Aceh Merdeka) boleh bubar. Tapi GAM baru harus dimulai. Ini bukan GAM yang menggunakan bedil dan granat. Ini GAM yang amunisinya argumen didasari ilmu, penelitian, dan tetap terorganisir.

Gerakan Aceh Membaca, menganalisa, menelaah, dan menulis. Rakyat Aceh harus banyak membaca, agar pengetahuan terus bertambah. Rakyat Aceh juga harus rajin menulis. Melalui tulisan rakyat Aceh mampu menyampaikan aspirasi ke penjuru dunia, tak terbatas geografis.

GAM baru ini akan melahirkan tokoh pemikir sekaliber Hasan Tiro. Tokoh berwibawa nan ikhlas seperti Abdullah Syafi'i. Dan ilmuwan-ilmuwan hebat yang menjadikan Aceh sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan dunia.

Barangkali ada yang menganggap itu mimpi. Bagi saya itu kenyataan yang belum terjadi. Ada pula yang menganggap itu fiksi, bagi saya itu fakta yang akan terjadi. Entah kapan.

Pastinya dengan daya kritis yang dimiliki masyarakat Aceh. Dengan ikhtiar yang berkesinambungan, dengan keikhlasan memperkaya intelektual, Aceh akan lebih jaya daripada catatan sejarah yang pernah ada.

Itulah mengapa GAM baru harus hadir. Sebuah gerakan Aceh membaca, menganalisa, menelaah, dan menulis. Membaca tanda-tanda zaman, menganalisa segala kemungkinan, menelaah segala pengetahuan, dan menuliskannya.

Kegagalan yang pernah terjadi menjadi catatan penting. Kekuatan otot tanpa dibekali otak, hanya bertahan singkat. Rakyat Aceh harus menyadari itu. Jangan mengulangi kesalahan itu. 

Rakyat Aceh harus terbuka, berani menghadapi tantangan zaman. Harus cerdas menyikapi persoalan kekiniaan maupun yang akan datang. Masa lalu harus menjadi motivasi bukan puja tanpa makna. 

Jangan selalu menggantungkan diri pada dana otsus. Aceh harus berdikari, tak boleh lelah apalagi manja. Aceh punya sejarah namun memiliki masa depan yang hebat apabila mampu berusaha sendiri. 

Aceh pernah hebat tanpa bantuan dana otsus. Harusnya Aceh lebih hebat lagi dengan dana otsus. Namun kenyataan malah sebaliknya. Seolah-olah pembangunan Aceh bergantung dari belas kasihan pusat. Tanpa itu pembangunan berhenti. 


Akibatnya Aceh ibarat 'boneka'. Kerap dipermainkan pusat (Jakarta). Tentu saja sangat tidak mengenakan. Menjatuhkan marwah Aceh yang tidak pernah terjajah bangsa lain. Diamkah rakyat Aceh?.

Rakyat Aceh harus bangkit. Jadilah bangsa bermartabat dengan ilmu dan usaha keras. Terus tingkatkan kualitas diri. Malulah apabila anak-anak Aceh tak bersekolah, anak-anak Aceh wajib cerdas.

Jangan lagi menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak produktif. Isi hari-hari dengan hal yang bermanfaat. Yang kaya memberdayakan yang miskin, yang pintar membimbing yang kurang pintar.

Kemerdekaan sebuah bangsa tidak mungkin terjadi apabila sesama anak bangsa masih saling membohongi. Saling menipu, saling mencakar, mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok ketimbang bangsa.

Kemerdekaan sejati hanya kita dapati ketika kita mau memanusiakan manusia. Saling berbagi, toleransi dengan perbedaan pendapat maupun pendapatan. Saling menghormati satu sama lain. 

Lihatlah Indonesia yang sudah menyatakan diri merdeka dari penjajah. 74 tahun sudah Indonesia merdeka namun di sana-sini masih ada manusia yang tidak dimanusiakan. Berbeda pendapat kelahi, berbeda mazhab mencaci bahkan anarkis.

Apakah mau begitu nantinya ketika lepas dari Indonesia. Jika tidak, mari benahi diri. Sumbangkan harta dan tenaga untuk kemajuan Aceh jangan malah mengambil hak orang lain.

Pastikan Aceh bebas korupsi dan kolusi. Pastikan pula pendidikan Aceh menjadi yang terbaik di Indonesia bahkan Asia. Jika itu terlaksana, Aceh bakal merdeka jiwa dan raga. Percayalah.

Artikel Terkait