Perjalanan yang bisa dibilang tidak muda lagi, TCSC Majene sudah berdedikasi selama 13 Tahun, tiap tanggal 28 Juli diperingati sebagai hari lahirnya. Technology Computer Study Club atau populer dikenal TCSC adalah lembaga kemahasiswaan yang berpusat di kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Namun berbicara sebaran alumni TCSC tidak monoton hanya lingkup Sulbar saja, tetapi kini mulai mengikis pada tiap daerah. Dilain pihak tantangan dunia yang makin rumit.

Tepat 28 Juli 2009, organisasi ini secara resmi didirikan sesuai prosedur kelembagaan. Menurut cerita para senior (pendiri) TCSC awalnya hanya perkumpulan tempat belajar para mahasiswa dari Kampus Amik dan Unika di kabupaten Majene pada zamannya. Namun seiring perjalanannya, TCSC Majene dapat berdiri sebagai organisasi mahasiswa seperti organisasi pada umumnya.

Hal yang selalu menjadi pegangan bahkan sebuah keharusan untuk tetap bisa terawat bahwa TCSC berdiri dilandasi kuat atas dasar persaudaraan (palluluareang). Prinsip persaudaraan menjadi pengikat dan kokohnya TCSC Majene tetap berdiri hingga saat ini. Persaudaraan selalu menjadi wejangan dan tuntutan bagi tiap kader dari zaman ke zaman.

Meski begitu, TCSC tentu tidak boleh melupakan perannya sebagai organisasi kader dan organisasi kemahasiswaan. Prinsip persaudaraan harus terpatri pada tiap diri kader untuk menjalankan tugasnya sebagai organisasi mahasiswa.

Umumnya TCSC Majene dikenal berideologi IT (Informasi Technology) sehingga tidak heran kalau kader TCSC dilabeli unggul pada bidang IT. Kondisi ini tentu tidak boleh dilupakan bahwa organisasi TCSC harus bisa menampakkan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat dan mahasiswa. TCSC mesti berani keluar yang mampu berdedikasi pada perkembangan zaman.

Kemandirian kader

Tak bisa dipungkiri bahwa TCSC adalah organisasi kader dan organisasi kemahasiswaan. Dikenal sebagai organisasi kader dengan harapan bisa mencetak manusia yang unggul, mandiri, transformatif, dan menjadi manusia yang siap hidup.

Penting disadari bahwa proses kaderisasi harus bisa tetap berjalan. Kaderisasi bukan berarti hanya melakukan perekrutan lantas tidak ada lagi tindak lanjut. Proses kaderisasi umumnya dikenal dua yaitu, kaderisasi formal dan nonformal.

Kaderisasi formal bisa seperti pengkaderan, pembelajaran, dan forum-forum diskusi. Sementara kaderisasi nonformal tidak harus pembelajaran yang sudah terjadwal tetapi bisa karena pembelajaran secara mandiri dan tak terduga, misalnya belajar tidak harus di sekretariat dan diatur dengan nuansa kebiasaan.

Selain itu, TCSC harus bisa menjadi lokomotif perubahan terutama pada tiap individu kader. Menurut hemat saya, kader TCSC sebagai generasi pelanjut yang siap menjadi unggul harus bisa menemukan potensi dirinya. TCSC Majene yang umumnya banyak belajar ilmu IT, misalnya desain grafis, pemrograman, masalah hardware dan software komputer, dan lain sebagainya. Dengan kondisi itu, kader harus bisa mengambil bagian penting, kira-kira pada bidang apa yang bisa ia fokusi.

Kita tahu bahwa kader TCSC berasal dari berbagai bidang keilmuan, tidak hanya dari mahasiswa yang berasal dari jurusan IT. Namun bukan berarti TCSC tidak legowo terhadap jurusan di luar dari jurusan IT, dan hari ini pun sudah terbukti bahwa TCSC sudah sangat homogen dalam hal bidang keilmuan. Namun kondisi itu memang suatu keharusan yang tidak boleh tertutup hanya satu bidang keilmuan saja, tetapi TCSC tidak boleh melalaikan ideologinya yang dikenal dengan IT dan harus memang bisa ditunjukkan eksistensinya.

Oleh karena itu, tiap kader mesti bisa menemukan potensinya terutama dalam bidang IT untuk bisa diunggulkan. Misalnya ada yang suka design grafis, maka dari itu harus didorong dan difasilitasi oleh pengurus TCSC. Begitupun pada bidang yang lain untuk bisa difasilitasi dengan baik. Melalui tiap keunggulan yang dimiliki kader maka harus bisa terkolaborasi dan saling melengkapi. Keunggulan tiap kader juga dapat menjadi distribusi kader sesuai pada bidang keunggulannya.

TCSC Majene dalam mengarungi perkembangan zaman

Akar yang kuat tentunya dapat membuat pohon bisa tetap berdiri walau diterpa angin yang datang dari berbagai arah. Maka dari itu, TCSC harus bisa memegang pondasi didirikannya organisasi ini, tak lain harus bisa terbalut dalam persaudaraan yang kuat.

Perkembangan TCSC adalah suatu keharusan dan harus bisa dinamis sesuai dengan zamannya. Tentu tak bisa dielakkan bahwa tiap zaman TCSC tidak bakalan zaman. Pengurus selir berganti ketika sudah sampai masanya selalu ada cerita pada tiap pengurus. Beda zaman beda orang. Hal itu memang harus diterima sebagai suatu bentuk perubahan. Namun lagi-lagi prinsip persaudaraan tak boleh pudar biar pun zaman berganti. Perubahan dan banyaknya karakter pada tiap kader TCSC tak bisa disadur sebagai suatu kemunduran.

Selain itu, penting disadari bahwa TCSC adalah organisasi kemahasiswaan dan organisasi kader, maka dari itu tuntutan untuk menjalankan proses kaderisasi mesti bisa dijalankan dan perannya dalam kehidupan masyarakat.

Kita tahu bahwa hari ini peranan teknologi (media sosial) tak bisa dinafikan. Maka dari itu, TCSC harus bisa berinovasi dalam beradaptasi terhadap perkembangannya. Penggunaan media sosial mungkin bisa dibilang menguras banyak waktu kita dalam sehari dan itu memang tidak bisa dinafikan.

Untuk itu, TCSC harus bisa mengambil peranan penting dalam hal penggunaan teknologi, terutama media sosial. TCSC tidak boleh menafikan dan menyepelekan penggunaan media sosial sebagai media edukasi dan propaganda, misalnya bisa membuat edukasi yang berbentuk framing.

TCSC yang memang dikenal organisasi yang bergelut di bidang IT, harus bisa lebih kreatif dalam memanfaatkan media sosial, entah sebagai media edukasi atau propaganda. Misalnya kreativitas dalam membuat konten di instagram seperti infografis dan microblog, tiktok, facebook, dan media sosial lainnya. Namun lagi-lagi konten dalam bentuk edukasi yang se-visi dengan TCSC.

Selamat Milad TCSC yang ke-13 Tahun, semoga makin maju dan jaya selalu.