2 tahun lalu · 132828 view · 11 menit baca · Politik sby_0.jpg
Foto: commons.wikimedia.org

12 Kejanggalan Pidato SBY tentang Demonstrasi

Tulisan ini menggunakan analisis retorika untuk melihat bagaimana SBY menyampaikan pidatonya di Puri Cikeas. Caranya adalah membedah kalimat dalam isi pidato dan membahas bagaimana overall arguments, pengaturan ide, dan istilah penting yang selalu diulang.

Tetapi, saya tekankan, it doesn’t need to take a genius untuk memahami banyaknya keganjilan di pidato SBY.

Jangan pula membaca kata “retorika” ini menjadi sekedar lips service, sebab retorika merupakan sebuah seni untuk menyampaikan pesan. Begitu pula dengan SBY, pidatonya memang memiliki makna yang dalam untuk berbagai publik yang terbagi dalam tiga kubu. Mereka yang pro dengan demontrasi, mereka yang netral, dan mereka yang kontra pada demonstrasi karena melihat berbagai macam indikasi.

Hampir 50% isi pidatonya, yakni selama 35 menit, SBY berusaha menjelaskan mengenai demonstrasi 4 November dan kasus Ahok. Oleh karena itu, inilah poin yang akan dibahas dalam analisis ini.

Blunder SBY mengenai Demonstrasi 4 November

  1. SBY mengulang sebanyak dua kali bahwa “Unjuk rasa bukan kejahatan politik.” Kemudian, ia menekankan bahwa unjuk rasa pada masa pemerintahannya selalu ada dan SBY selalu meminta ajudannya untuk mencatat permohonan dalam tema unjuk rasa.

Pada kesempatan ini, SBY seolah menunjukkan persetujuannya pada demonstrasi, apa pun bentuknya. Demonstrasi bukan kejahatan politik. Ini sebenarnya adalah pernyataan yang cukup utopis atau terlalu idealis. Demonstrasi boleh dilakukan, tetapi yang menjadi permasalah sebenarnnya adalah content atau isi demo-nya.

SBY mengatakan bahwa pada masa pemerintahannya, ajudannya akan mencatat tema dan isu demo untuk dijadikan pertimbangan pengambilan kebijakan. Tidak dijelaskan, mana yang akhirnya dijadikan kebijakan, mana yang demo-nya tidak perlu digubris, mana yang demo-nya dijadikan indikasi ada sesuatu yang lebih besar agendanya. Di sini, SBY gagal melakukan karakterisasi bentuk demonstrasi yang bermacam-macam.

Sebaliknya, statement pendek Jokowi, justru berhasil membuka tabir, bahwa content dari demo adalah masalahnya. Jokowi mengidentifikasi bahwa demonstrasi boleh, tetapi demonstrasi bukanlah hak untuk memaksakan kehendak maupun hak untuk merusak.

2. Pada kesempatan berikutnya, SBY pun menyebut JK untuk mengingatkan bahwa polisi jangan main tembak agar tidak terjadi hal yang sama dengan tahun 66 dan 98 yang mengubah sejarah.

Kalimat ini cukup unik. SBY mungkin mendengar bahwa ada upaya tembak di tempat sebagai usaha terakhir jika demonstrasi berakhir rusuh dan tidak terkendali. Bukankah ini prosedur yang sudah ia ketahui selama 10 tahun? Mengapa tiba-tiba ia khawatir polisi akan asal tembak?

SBY gagal menangkap bahwa ini adalah sebuah rumor. Seperti yang disampaikan oleh Polri, "Di Polri tidak ada perintah untuk menembak di tempat dalam pelaksanaan pengamanan demo," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (30/10).

Bisa juga, statement itu dikeluarkan untuk membawa rasa aman bagi demonstran agar tidak perlu takut maju karena SBY pun sudah memperingatkan polri.

Anehnya, SBY mengaitkan demonstrasi ini dengan tahun 66 dan 98, yang mana pesan dan pelaku demo-nya pun berbeda. Apalagi, pemerintahannya juga berbeda. Pada saat itu, demo dilakukan oleh para mahasiswa untuk melepaskan diri dari tirani pemerintah. Tetapi kini, siapa dan apa pesan demonstran?

Pertama, demo kali ini dilakukan oleh ormas Islam yang cukup radikal, bersama dengan mereka yang mendukungnya. Kedua, kata-kata berbahaya dalam demo seperti, “Bunuh, Bakar, Pancung, Penggal, dan lain-lain” seolah dilupakan atau dinihilkan oleh SBY.

Ketiga demo kali ini juga seolah menekan penegak hukum untuk manut dengan keinginan mereka, alih-alih membiarkan proses berjalan seperti apa adanya. Demo ini seperti sekedar pemuas nafsu dan amarah mereka-mereka yang berkepentingan. Entah SBY is missing the point atau is trying to miss the point.

3. Ketiga, SBY juga kembali membahas intelejen yang tidak boleh sembarang menuduh, karena itu sama saja dengan fitnah. SBY juga menjelaskan bahwa jika urusannya adalah masalah nurani, tidak perlu menggunakan uang. Apalagi, akidah, yang banyak orang di dunia ini bersedia mati untuk itu.

Zaman SBY, ia selalu mengagungkan informasi intelejen. Bahkan dalam pidatonya usai Bom Mariott, SBY menyatakan bahwa ia menjadi target teroris. “Ini data intelejen!” Seolah-olah itu adalah data paling sahih. Pada waktu itu, kritik menyampaikan bagaimana SBY blunder karena tidak bersimpati terhadap korban, malah meminta simpati berdasarkan data intelejen. Kini, ia membredel kekuatan dan kemampuan intelejen, bahwa mereka asal tuduh.

Selain itu, kalimat berikutnya seolah meyakini bahwa bisa saja demonstrasi tanggal 4 November itu tidak menggunakan uang, tetapi karena akidah. Disini SBY gagal membaca demo lebih jauh atau bisa juga SBY sedang berusaha keras untuk berdalih.

Pada beberapa kesempatan terbuka yang diliput oleh media, informasi dana demonstrasinya jelas. Misalnya menurut Bachtiar, dari GNPF_MUI, total dana untuk demonstrasi kasus penistaan agama Ahok, Jumat (4/11/2016), mencapai Rp 100 miliar. "Bukan hanya Rp 10 miliar, nyatanya, mungkin lebih Rp 100 miliar. Kami disubsidi lebih dari Rp 100 miliar," ungkap Bachtiar di hadapan awak media. Disinilah kejanggalan yang disinyalir oleh pemerintah bahwa ada penyandang dana demonstrasi ini. SBY pun menihilkan rekaman ini di media massa.

4. Lalu, statement yang lebih kontroversial lagi adalah SBY membahas Arab Spring. SBY menyebut bahwa itu adalah sebuah leaderless revolution. “Jadi jangan menyimpulkan ini yang menggerakkan, ini yang mendanai.”

Pada poin tersebut SBY berperan seperti anak yang polos. Ia menganalisis bahwa Arab Spring terjadi tanpa pemimpin tetapi karena kekuatan media sosial. Ia juga melarang penyimpulan penggerakan demo dan pendanaan demo. Ada dua poin yang ganjil sekaligus sangat berbahaya disini.

Pertama, SBY lupa atau mungkin sengaja mengarahkan informasi mengenai Arab Spring sebagai bentuk protes yang generic dan natural. Padahal latar belakang Arab Spring adalah pemberontakan by designed yang mengandung kekerasan massal pada pemerintah otoriter selama puluhan tahun dan ditunggai oleh kelompok Ikhwanul Muslimin, salah satunya di Mesir.

Mereka menggunakan simbol rabia atau empat jari, yang saat ini juga sudah beredar terang-terangan di seputar demonstrasi tanggal 4. Ini sangat berbahaya karena menunjukkan bagaimana demonstrasi ini punya ancaman seperti Arab Spring yang sangat berbeda konteksnya dengan Indonesia.

Kedua, SBY justru seolah melegitimasi jika sampai demonstrasi ini nantinya akan berujung seperti Arab Spring, dengan menyatakan bahwa ini adalah leaderless revolution. Pelarangan untuk menyimpulkan bahwa demo ini digerakkan dan didanai justru adalah pernyataan tumpul seorang mantan Presiden yang tidak mampu melihat resiko besar dari sebuah agenda demonstrasi.

5. Dalam membahas semua hal di atas, SBY tidak sekedar bicara. Ia mencari informasi dari pengemban negara. Baru ia bicara. Dari sini, SBY memulai dengan membahas tentang intellegent failure dan intelligent error. SBY terlihat mengangkat rumor dan desas-desus keterlibatannya dalam demonstrasi tanggal 4 November ini  dengan mengkritisi intelligent, agar tidak ngawur dan tidak asal tuduh. Menurutnya, ini sangat berbahaya dalam kehidupan bernegara.

Pada poin tersebut, SBY berusaha mengidentifikasi dan menyimpulkan bagaimana informasi ini ia peroleh. Lucunya, tidak pernah ada data intelejen yang bocor. Tidak pernah ada statement ke public yang muncul dan menggatakan SBY terlibat.

Yang muncul adalah simbol-simbol politis yang muncul dan membuat orang berpikir mengenai keterlibatan SBY. Paling banter yang viral adalah prediksi para ahli bukan-bukan seperti Denny Siregar, Aliffurahman, dan Kang Hasan. Siapa mereka? Bukan BIN. Hanya penulis populer yang suka berpikir liar. Justru dengan kalimat ini, SBY sedang menyatakan diri bahwa ia memang dicurigai intelejen.

Bisa saja, SBY mengelak dengan menunjukkan kegagalan intelejen. Tetapi, intel juga tidak akan gegabah. Pemikiran intel adalah pemikiran yang memuat possibilities atau hypothesis. Apakah itu salah? Menurut SBY itu error jika menyangkut dirinya.

Lebih lucu lagi, justru disini SBY blak-blakan bahwa ia dicurigai intel. Padahal intel tentu punya banyak teori, mengapa harus takut? Mengapa harus sampai memandulkan kemampuan perangkat negara dengan menganggap mereka ngawur?

Rekomendasi Melankolis Ala SBY

6. Rekomendasi menyikapi Demonstrasi 4 November ala SBY-SBY-nan adalah lebih baik lagi jika demonstrasi tidak perlu dilakukan jika masalahnya diselesaikan. Lalu apa masalahnya versi SBY? Barangkali menurutnya, karena mereka merasa tuntutannya tidak didengar. SBY menekankan “sama sekali tidak didengar dan diabaikan.” Lalu baru muncul, bahkan sampai lebaran kuda pun unjuk rasa masih ada.

Lagi-lagi, disini SBY menutup mata pada data yang menyebutkan bahwa polisi sudah meminta keterangan banyak saksi, Ahok sendiri menghadap ke kepolisian, dan justru FPI sebagai saksi yang memperlama prosesnya. FPI minta ditunda untuk bersaksi di kepolisian.

Kata “sama sekali tidak didengar dan diabaikan” menjadi sangat tendensius untuk melegitimasi demonstrasi. Kata-kata ini sangat menyolot api untuk mendukung kelompok bacok senggol, yang gampang emosi. Ini untuk menunjukkan bahwa pemerintahan Jokowi tidak melakukan apa-apa. Padahal terang di media massa, proses sedang berlangsung.

Lebaran kuda pun disinggung untuk memecah suasana yang tegang. Tentu ini sangat politis, karena sedang menyinggung pertemuan “tumben” antara lawan politik Jokowi dan Prabowo. Justru, ini menunjukkan kecemburuan dan ketidaknyamanan SBY pada pertemuan mereka.

Lebih lagi, ini mendorong asumsi yang menyebutkan bahwa Prabowo tidak terlibat. Dengan kata lain, SBY seolah mengancam, “Bahkan Jokowi dan Prabowo maaf-maafan seperti lebaran pun, demonstrasi ini akan tetap ada.” Kenapa SBY bisa yakin demonstrasi ini akan terus ada? Tahu darimana? Jangan-jangan… Get it?

7. “Mari kita bikin mudah urusan ini, jangan dipersulit. Sekali lagi, mari kita bikin mudah.” SBY melanjutkan reasoning-nya. Pak Ahok dianggap menistakan agama. Lalu masuk ke poin bahwa menistakan agama tidak boleh secara hukum. Jadi, kalau ingin negara ini tidak terbakar oleh amarah para penuntut keadilan, maka pak Ahok mesti diproses secara hukum.

Ini adalah wacana yang berkembang di kalangan pendukung demonstran. Cerita yang diulang-ulang sebagai dalih demonstrasi. Persis sama. Sebuah ancaman. Kalau tidak begini ya, jangan salahkan kalau nantinya begitu. Melegitimasi amarah, agar keinginannya terkabul. Ini dilakukan oleh seorang mantan Presiden. Tidak heran, para pendukung demo memiliki wacana yang sama.

Ini juga adalah pernyataan kompor njleduk yang sama bobotnya dengan mengancam pemerintah. Jangan heran kalau Indonesia pecah oleh amarah jika Ahok tidak diproses hukum. Padahal Ahok SEDANG diproses hukum. Lalu proses yang mana lagi yang dia inginkan?

8. “Jangan sampai dianggap beliau kebal hukum. Ingat equality before the law. Kalau beliau diproses, tidak perlu ada tudingan beliau tidak boleh disentuh. Bayangkan, do not touch Pak Ahok. Bayangkan! Setelah pak Ahok diproses secara hukum, semua pihak menghormati. Ibaratnya, jangan gaduh.”

Kalimat ini sangat blunder, tendensius, dan justru mengobarkan semangat demonstran bahwa mereka benar. “Kebal hukum,” begitukah tuduhan SBY pada Ahok maupun Jokowi?

Bahkan, ia memanas-manasi dengan mengangkat kata, “Bayangkan, do not touch Pak Ahok.” Ini adalah luar biasa blunder. SBY seolah sedang menyulut terus korek api yang sedang menyala hebat yang digaungkan oleh Habib Riziq dan kawan-kawannya.

Dengan kata-kata yang seolah bijak, yakni Ahok diproses secara hukum, ia mengatakan jangan gaduh. Tapi ini sangat membingungkan, proses apa lagi yang diinginkan SBY, wong proses jelas-jelas sudah berjalan?

9. “Tekanan yang mengatakan pokoknya Ahok harus bebas atau tekanan yang mengatakan, Agus, ulangi, Gubernur Ahok dinyatakan bersalah. Tidak boleh. Serahkan pada penegak hukum. Apakah pak Ahok tidak bersalah nantinya, bebas. Jangan ditekan. Biarkan penegak hukum kita bekerja… Bola sekarang di tangan penegak hukum. Jutaan mata orang memandang, mengikuti.”

Sampai pada kalimat ini, saya rasa SBY berusaha menunjukkan kenetralannya. Meski sebenarnya tidak, karena dengan kata “Jangan ditekan,” SBY lupa atau memang nglali, siapa sebenarnya yang selalu menekan aparat selama ini dengan demonstrasi-demonstrasi menuntut keinginannya dipenuhi. Tanpa peduli, apa itu justice system.

10. “Setelah pengadilan, mungkin ada yang puas, ada yang tidak puas... Ada aturannya... Itulah justice system.”

Pada pembelokan kalimat, “Setelah pengadilan…” ini yang unik. Apakah SBY tidak tahu, jika ada yang melaporkan, maka polisi tidak bisa serta merta menangkap seseorang dan mengadili tanpa bukti yang cukup dan kuat?  Apalagi sampai pada level pengadilan, yang secara eksplisit disampaikan oleh SBY.

Sampai saat ini, saya masih ambigu dengan berbagai pernyataan SBY. Tetapi tampaknya, taktik SBY adalah tetapkanlah Ahok sebagai tersangka. Tidak masalah Ahok menjalani pengadilan, ia tetap bisa punya hak sebagai calon gubernur yang kampanye. “Jika menjalani proses hukum, pak Ahok tidak akan kehilangan statusnya dalam Pilkada.” Jika pengadilan mengatakan Ahok bebas, maka bisa saja ia bebas. Jika tidak terima, maka bisa saja naik banding.

Taktik menjadikan Ahok tersangka dan tersandera dengan kasus sampai ke pengadilan, akan menguras energi dan suara pemilih. Tentu kita tahu, siapa yang diuntungkan. Oleh sebab itu itu, tampak sekali bahwa muatan politisnya tinggi, Polisi sangat wajar jika cukup berhati-hati dalam kasus ini. Kalimat berikutnya lebih janggal.

11. “Biar ketiganya berkompetisi secara fair dan demokratis… TNI, Polri, BIN, dan birokrasi harus benar-benar netral. Harus benar-benar netral. Harus benar-benar netral. Serahkan kepada rakyat. Saya kira pasangan Agus-Silvy,  pasangan Anis-Sandi tidak bangga kalau Pak Ahok tidak bersaing karena WO.”

Tentu, yang dimaksud adalah skenario, Ahok tersangka, hingga ia membuktikan ke pengadilan. Lalu, Djarot sendiri tetap berkampanye menggusung nama Ahok-Djarot. Kalah menangnya Ahok tidak masalah, karena by the time, ia telah kehilangan momentum dan suara sudah dikeruk kelompok sebelah.

Inilah maksud dari fair dan demokratisnya SBY. Kata “harus benar-benar netral” yang diulang tiga kali, seolah menunjukkan penekanan yang tidak yakin pada kenetralan perangkat negara ini. Kalimat ini sekaligus menyinggung bahwa jika mereka tampak tidak “benar netral, benar netral, benar netral” maka titik-titik. Isilah sendiri.  

12. “Jangan sampai, Saudara-saudara, nasib 250 juta orang Indonesia, disandera oleh urusan satu orang. Saya kira tidak benar negara ini, macet, jika karena urusan satu orang ini yang masalahnya tidak bisa kita selesaikan secara benar, tepat, dan bijak.” 

Sekali lagi, tendesi SBY sangat terlihat. Ia sedang mengumandangkan bahwa ini adalah kesalahan satu orang. Siapa lagi kalau bukan Ahok. Ia menutup mata dan telinga mengenai rangkaian peristiwa bahwa awalnya saat pidato terjadi, tidak ada yang mempermasalahkan. Sekitar 9 hari sesudah itu, Buni Yani mengedit video dan melakukan pemotongan transkrip di sosial media, beredarlah isu SARA ini.

SBY menutup mata, bahwa kelompok-kelompok massa menggoreng isu ini dengan kepercayaan bahwa Ahok menistakan agama. Tanpa lebih dahulu klarifikasi kepada Ahok. Saat Ahok klarifikasi dan minta maaf pun, MUI tidak tabbayun dahulu dengan Ahok lalu langsung membuat pernyataan. Rangkaian peristiwa yang dimotori oleh berbagai pihak berkepentingan ini ditutupi oleh SBY.

Ia menutup mata pada fakta bahwa Ahok hanya bermain dua kali disini, yakni melakukan pidato secara keseluruhan dan meminta maaf. Sisanya adalah aktor-aktor lain. SBY menutup muka, mata, dan telinga untuk kemungkinan bahwa Ahok bisa jadi adalah korban dari peristiwa ini. Ia malah menuduh Ahok-lah biang keladi kegaduhan ini dengan bunga kalimat “tersandera karena satu orang.”

Oh come on pak SBY! Saya adalah salah satu konstituen setia anda dengan memilih anda dua periode. You can do better than this, Pak.

Sayang, kasih Anda kepada Anak Anda membutakan Anda sehingga meng-ganjil-i sendiri pidato Anda. Saya berharap sekali penyandang dana dan penggerak dana demonstrasi adalah Unidentified Foreign Object atau UFO. Bukan Anda! Semoga UFO-lah yang menggerakkan mereka. Semoga!