Novelis
3 tahun lalu · 711 view · 3 min baca · Budaya capgome_2-1.jpg
Barongsai di Wihara Dhanagun Bogor. Foto: Erik Prasetya

10+1 Catatan Ikut Capgomeh

1. Ada sebuah kelenteng yang saya tahu dari masa kecil. Letaknya di wilayah Pasar Bogor, seberang gerbang Kebun Raya. Jika hujan turun, suasana jadi berkabut, genteng berhias naganya jadi seperti atap kuil di negeri Tiongkok musim gugur. Dari situlah arak-arakan Capgomeh kota Bogor akan berawal.

2. Kirab Capgomeh ini dinamakan Pesta Rakyat Bogor. Yang tampil bukan hanya liong dan barongsai, tetapi juga parade budaya, polisi dan militer. Izin keramaiannya didapat tahun 2010. Ini penanda penting, sebab di masa lalu kebudayaan Tionghwa ditekan. Nama dan aksara Cina nyaris hilang. Agama Konghucu tak diakui. Baru sejak Presiden Abdurachman Wahid (Gus Dur), kebudayaan Tionghwa boleh dinyatakan lagi.

3. Capgomeh artinya hari ke-15 (cap go artinya 15) setelah tahun baru Cina. Itulah bulan purnama pertama tahun yang baru. Perayaan tahun baru Cina ditutup dengan Capgomeh: angpao tak perlu dibagikan lagi. Artinya, kalau kamu tidak sempat sowan ke keluarga yang dianggap lebih mapan dalam 15 hari itu, kamu tak berhak dapat angpao.

4. Capgomeh jatuh pada purnama. Seperti tahun hijriyah, tahun baru Cina jatuh di bulan baru. Jadi, penanda awal tahun dan bulan adalah hilal juga—meski namanya lain. Bandingan: tahun baru masehi jatuh tanggal 1 Januari tak peduli bulan mati atau purnama.

Sebagai bandingan juga: Kalender hijriyah adalah lunar (berdasarkan siklus bulan saja, tak peduli musim). Kalender masehi solar (berdasarkan siklus matahari saja, tak peduli timbul tenggelam bulan). Kalender Cina luni-solar, menggabungkan siklus bulan dan matahari.

5. Kelenteng Dhanagun di Pasar Bogor. Atap berhias naga. Kebun Raya di latarnya. Ia yang paling besar, tapi bukan yang tertua di kota itu. Yang abunya lebih tinggi adalah sebuah bio kecil di Pulo Geulis, delta sungai Ciliwung, sekitar satu kilometer jaraknya. Konon ada upaca minta izin dulu ke bio kecil Mahabrahma ini sebelum kirab Capgomeh dilaksanakan. Mari berkunjung ke sana...

6. Kelenteng Mahabrahma. Tak terlalu jauh pula dari perguruan Bangau Putih. Letaknya di perkampungan padat. Bio ini memberi atap bagi beberapa batu tegak, seperti prasasti tanpa aksara. Bisa dibayangkan, batu-batu tegak itu telah dipuja oleh penduduk setempat sebelum agama-agama asing tiba.

Dalam bio kecil Mahabrahma ini kita bisa melihat jejak pemujaan terhadap batu, kepercayaan Hindu, praktik agama Buddha dan Konghucu, dan masih ada lagi. Di balik tembok altar merah utamanya, ada sebuah ruang kecil berkarpet hijau, berhias tulisan Arab. Juga ada batu berdiri dan tanda makam leluhur. Pengunjung biasa sembahyang di sana dalam cara Islam.

Di ruang samping ada batu tegak yang lain, yang memuja roh berwujud harimau. Gambar dan patung harimau menghiasi kamar ini. Penduduk, entah apa agamanya, ikut merawat kelenteng ini dalam kerukunan. Inilah kelenteng yang tua, yang dimintai izin oleh kelenteng besar Dhanagun...

7. Kembali ke vihara Dhanagun. Capgomeh dan Toapekong adalah misteri yang mendebarkan saya sejak kecil. Jika Imlek adalah pesta keluarga, Capgomeh adalah pesta kampung. Toapekong, yaitu roh kelenteng, diminta untuk keluar dan memberkati desa. Ialah puncak arak-arakan.

Suhu atau pendeta kelenteng membuat upaca menanyakan kesediaan Toapekong untuk keluar. Konon, tak selalu Toapekong mau keluar (dan itu adalah bagian yang mendebarkan, terutama bagi anak-anak). Kalaupun setuju, ia menentukan jamnya. Pada Capgomeh kali ini, suhu berkata bahwa Toapekong mau keluar pukul lima sore.

8. Mendung membuat kota berkabut. Orang-orang bergosip tentang pawang hujan dan Toapekong yang tak mau keluar jika ada halangan, termasuk hujan. Kirab dimulai pukul empat. Dimulai dengan marching band militer, polisi berkuda, barongsai dan liong dari beberapa daerah, barong dan ogoh-ogoh Bali, dst. Persis saat Toapekong akan keluar, hujan turun.

9. Akhirnya saya melihat Toapekong. Setidaknya, tabot yang berisi roh Toapekong yang tak dapat dilihat. Tabot, dengan peti atau patung, digotong oleh belasan orang dengan suatu tatacara yang tak kalah menegangkan. Bedug dan simbal ditabuh dengan tempo meninggi. Para pemanggul berjalan maju mundur tiga kali sebelum akhirnya meluncur dalam kirab.

Beberapa pemanggul tampak merokok linting—saya tak bisa tak mengaitkannya dengan usaha menangkal hujan (pawang biasa memakai rokok untuk itu). Tapekong diarak sepanjang jalan Suryakencana. Hujan semakin deras. Keramaian tak surut.

10. Pesta berakhir sekitar tengah malam. Saya terbawa pada suasana purba yang berharga: Tentang energi atau ruh suatu tempat. Energi itu memberi kehidupan di sekelilingnya: jadilah pasar, organisasi masyarakat, pemerintah desa, kota, dll, yang semakin material.

Setahun sekali orang kembali kepada ruh itu, memintanya memberkati kota. Dan untuk itu orang membersihkan rumah dan kotanya agar pantas diberkati. Tidakkah ini struktur dasar semua religi dan spiritualitas?

+1.  Kami menginap di Hotel 101 yang dilewati kirab itu. Hotel ini penuh peraya Capgomeh (ada yang datang dari Singapura). Jangan cari makanan di hotel, tapi pergilah luarnya. Hotel ini memberi pangkalan yang nyaman untuk wisata kuliner di pecinan Bogor: asinan Gang Aut, asinan jagung, es campur dan toge goreng Kebon Pala, Warung Doyong, dll.

Bagi yang mau terus bisa ke kampung Arab Empang juga. Tentu saja kirab Capgomeh memberi pemasukan bagi kota. Para pedagang makanan berkata bahwa omzet mereka naik tiga kali lipa dari hari biasa. “Seperti akhir pekan,” kata pedagang Soto Mie Ciseeng. Perayaan memberi kegiatan ekonomi. Ruh memberi menjadikan tubuh.

Artikel Terkait